
Benar saja seperti dugaan Alan jika beberapa menit yang lalu telah terjadi kekacauan di sekolah Kenza. Mommy Elenna berpikir jika anaknya telah diculik dan saat ini sedang melaporkan pada pihak kepolisian. Namun, sepertinya hanya sia-sia karena Elenna hilang belum ada 24 jam dan pihak kepolisian tentu belum akan memproses pengaduan Mommy-nya Elenna.
"Ibu yang sabar. Kami akan tangani kasus ini setelah anak ibu tidak ada kabar dalam waktu 24 jam. Bisa saja saat ini anak ibu pulang bersama temannya. Karena CCTV di tempat kejadian tidak ditemukan adanya sebuah kejanggalan, misalnya mobil misterius atau orang misterius yang masuk ke dalam sekolahan. Coba ibu tanya kepada teman-teman anak ibu, barangkali anak ibu bersama dengannya," saran seorang polisi pada Mommy-nya Elenna.
Meskipun ada setitik rasa kecewa, tetapi wanita muda itu akhirnya memilih untuk meninggalkan kantor polisi. Dia tidak tahu akan mencari Elenna kemana, karena Elenna adalah murid baru. Mungkin dia merasa tidak nyaman berada di tempat barunya? Atau mungkin dia memilih jalan untuk pulang, seperti kebiasaan saat tinggal ditempat lamanya?
"Astaga, Elenna. Kamu dimana, Nak?"
Tak berapa lama suara notifikasi pesan terdengar.dengan cepat wanita itu langsung membuka ponselnya dan membaca pesan diterimanya. Matanya memulai dengan sempurna ketika pesan itu mengatakan jika saat ini Elenna masih berada di sekolahan. Tanpa pikir panjang Mommy Elenna langsung menyetop taksi untuk menuju ke sekolahan lagi.
"Mengapa bisa seperti ini? Bukankah tadi Elenna tidak disana?"
πΈπΈπΈ
Di ruang guru, Alan masih menunggu kedatangan Mommy-nya Elenna. Waktu yang terus berjalan membuat Alan merasa bosan untuk menunggu kedatangan ibu dari teman barunya Kenza. Dalam hati Alan terus menggerutu dalam hati saat dirinya harus menunggu. Sejak kapan seorang Alan mau menunggu?
"Miss, saya titipkan saja anak ini kepada Anda. Tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada ibunya Elenna, karena saya sempat membawanya tadi. Saya tidak bisa menunggu terlalu lama karena pekerjaan saya itu sangat banyak. Asal kalian tahu untuk bisa menjemput Kenza, saya harus mengorbankan rapat penting! Jadi jika saya harus menunggu lagi, saya tidak bisa," ujar Alan pada guru yang masih tersisa di sekolahan.
"Baik, Pak. Nanti akan saya sampaikan."
Saat ingin meninggalkan Elenna di ruang guru, Alan menatapnya bocah itu dengan lekat. Rasanya tidak tega untuk meninggalkannya sendiri, tetapi Alan harus pergi karena ia harus kembali ke kantornya lagi.
"Elen, maafkan Uncle ya," kata Alan sebelum meninggalkan Elenna.
Bocah itu mengangguk dan berkata, "Iya, Uncle."
Lagi-lagi suara Elenna mampu menggetarkan dada Alan. Dengan tangan yang memegangi dada Alan berjalan keluar. Namun karena tidak memperhatikan langkahnya, Alan menabrak seseorang di depannya.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak sengaja. Saya sedang buru-buru."
Lagi dan lagi suara itu terngiang-ngiang di kepala Alan.
"Anda tidak apa-apa, Pak. Maaf, tidak sengaja." Wanita itu panik karena Alan terdiam sambil memegangi dadanya.
Saat Alan mendongak untuk memastikan siapa pemilik suara tersebut, ia mengucek matanya berulang kali, berharap ia tidak sedang berhalusinasi. Sosok yang ada di depannya saat ini adalah sosok yang telah ia rindukan selama bertahun-tahun.
"Azra." Sata kata yang terucap dari bibir Alan.
Wanita yang berada di hadapan Alan segera menangkap bibirnya. Ia tak percaya akan bertemu dengan pria masa lalunya secepat ini. Bahkan ia menggelengkan kepalanya, untuk menepis jika dirinya bukanlah Azra.
"Akhirnya aku menemukanmu setelah bertahun lamanya. Kita pulang, ya."
Azra tersenyum tipis kepada Alan. "Maaf, Anda salah orang! Saya bukan Azra!" tepis Azra.
Baru saja Alan ingin mengatakan sesuatu dari mulutnya, sebuah panggilan membuatnya terdiam untuk beberapa saat.
"Daddy β¦ cepat sedikit. Aku sudah lapar!" teriak Kenza yang sudah turun dari mobilnya.
Alan hanya bisa mende.sah kasar saat monster kecil itu selalu mengganggu dirinya.
Azra hanya bisa tersenyum kepada Alan yang telah dipanggil Daddy oleh seorang anak yang mungkin bisa dikatakan sesuai dengan Elenna.
"Maaf, saya ada urusan. Permisi!"
Kali ini Alan tidak ingin tinggal diam. Saat Azra ingin melangkah pergi, ia segera mencekal tangan Azra dan langsung menarik kedalam pelukannya.
__ADS_1
Alan memeluk erat tubuh Azra. Menyalurkan rasa rindu yang terpendam dalam hatinya selama bertahun-tahun lamanya. Bahkan aroma tubuh Azra masih sama meskipun sudah ditimbun waktu bertahun-tahun.
"Zra, selama ini kamu kemana saja. Aku lelah mencarimu. Zra, kita pulang ya."
Azra tak bisa membendung lagi air matanya. Meskipun ia sudah yakin jika suatu saat akan bertemu lagi dengan Alan, tapi ia tidak menyangka jika akan bertemu dalam waktu yang secepat. Bahkan ia belum siap untuk bertemu dengan Alan. Ingin rasanya Azra membalas pelukan Alan, tetapi matanya menangkap sosok anak yang sedang berdiri di samping mobil. Anak yang baru saja memanggil Alan dengan sebutan Daddy.
"Lepaskan!" kata Azra memberontak.
"Tidak!"
"Alan, aku bilang lepaskan!" sentak Azra.
Saat itu juga Alan langsung melepaskan pelukannya dan menatap nanar ke arah Azra yang tidak mau dipeluk. "Kamu benar Azra kan? Sudah kuduga jika aku tidak salah."
"Iya, kamu tidak salah dan kamu selalu benar, Lan. Aku memang Azra. Tapi maaf, aku bukan Azra yang dulu lagi. Bukankah kita sudah bercerai? Aku sudah menggugatmu, Lan. Jadi di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Kuharap kamu mengerti, Lan. Aku sudah memiliki keluarga baru. Tolong Jangan ganggu aku!" Dengan rasa sesak Azra meninggalkan Alan yang masih membisu.
Seketika tubuhnya terasa lemas. Matanya terasa panas ketika Azra mengatakan jika dia telah memiliki keluarga baru. Apakah itu artinya Azra sudah memiliki suami lagi? Lalu bagaimana dengan cintanya? Mengapa terlalu sakit mencintai seseorang yang tidak mencintainya. Mungkinkah ini perasaan Azra saat itu?
"Dadd, are you oke?" Sebuah tangan menyentuh tangan Alan.
"Ya aku tidak apa-apa. Mari kita pulang," ucap Alan dengan lesu sambil menggandeng tangan Kenza.
Dari kejauhan Azra hanya bisa mende.sah dengan berat. Harusnya ia merasa sangat bahagia saat bisa bertemu dengan Alan. Namun, nyatanya kembali berdenyut saat Azra melihat Alan menggandeng anak perempuan untuk masuk kedalam mobil.
"Apakah itu anaknya Alan? Apakah dia sudah menikah?
...π₯π₯π₯...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...