
Mohon maaf jika bab ini tidak sesuai dengan pandangan kalian. Mohon di skip karena mengandung unsur de wa sa. Jadi diharapkan yang tidak suka mohon tidak usah dibaca karena hanya akan mengotori pikiran
ππ
Karena desakan dari kakek Wijaya, akhirnya Mouza dan Keanu pulang ke rumah utama. Sebenarnya Mouza sempat menolak, tetapi kakek tua itu terus memaksanya. Tak ada pilihan lain selain pasrah.
Lagi-lagi rasa muak itu menyelimuti hati Mouza saat dia masuk kedalam suaminya. Ingatan saat itu masih terekam jelas di dalam memorinya. Rasanya Mouza ingin berteriak untuk memaki Alan.
"Akhirnya kalian pulang juga," sambut kakek Wijaya.
Mouza yang sebenarnya merasa kesal dengan kakek tua itu menutupinya dengan senyum untuk bibir. Dia yang tak ingin memperlihatkan rasa kesalnya segera menyalami kakek Wijaya.
"Saat ini kamu adalah satu-satunya perempuan didalam keluarga Wijaya. Jadi tugasmu saat ini beratnya, Nak. Selain kakak tua ini yang merepotkan ini, kamu juga harus bisa mencairkan dua gunung es yang sedang membeku. Apakah kamu sudah siap? Sungguh kakek sangat berharap rumah ini terlihat hangat kembali," ujar kakek Wijaya penuh harap kepada Mouza.
Mouza menelan kasar salivanya. Sungguh tugas yang sangat berat setelah tugas kuliahnya. Mouza tak habis pikir mengapa hidupnya penuh dengan tugas.
Selamat tinggal bersama dengan kakaknya, hampir semua tugas rumah Mouza yang mengerjakan. Dan saat ini dia juga harus mengerjakan hal yang sama? apakah orang kaya seperti kakek Wijaya tidak mempunyai asisten rumah tangga?
"Sudah ya, Kek. Kami akan masuk ke kamar," kata Keanu yang sudah menarik tangan Mouza.
"Silahkan! Kamar kalian juga telah disiapkan oleh mbak Lili."
Mouza mengerti saat mendengar nama mbak Lili dan bertanya kepada Keanu, "Bang, mbak Lili itu siapa?"
"Dia adalah ART di rumah ini. Setidaknya ada tiga ART yang bekerja di sini. Jadi kamu nggak usah berpikir untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Ingat posisimu saat ini adalah istriku. Jika kamu membutuhkan sesuatu tinggal perintahkan mereka saja!"
__ADS_1
Moza bernapas lega saat mendengar di rumah ini ada asisten rumah tangganya. Itu berarti dia tidak perlu repot-repot untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti yang dia kerjakan di rumah kakaknya.
Sesampainya di dalam kamar Keanu, Mouza berkeliaran untuk menatap setiap sudut. Tak ada yang istimewa. Bahkan Mouza menganggap jika kamar itu baru saja direnovasi, terlihat dari aroma cat yang menyengat di hidungnya.
"Kalau kamu gak suka, bilang aja biar diganti lagi."
"Gak perlu, Bang. Udah bagus, kok."
Saat Mouza sedang menata pakaiannya ke dalam lemari, tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di perutnya. Mouza mendelik dengan deburan jantung yang sudah berdebar. Susah payah dia menelan ludahnya.
"Za, besok aku akan pergi dinas. Dan kemungkinan 3 hari baru akan pulang lagi. Apakah kamu tak ingin menyicip hidangan pembuka?" tanya Keanu dengan tangan nakal yang sudah meraba untuk naik keatas.
"Bang Ke apaan, sih! Geli tahu!" Mouza berusaha untuk menepis tangan Keanu, tetapi tak bisa. Bahkan saat ini tengkuknya juga sudah dike.cupi oleh Keanu. Ada rasa merinding dan sengatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Sebelum aku pergi, kita taman ubi dulu ya," bisik Keanu sambil menggigit telinga Mouza.
"Lepasin tangan Bang Ke!"
"Gak. Kamu bilang iya dulu baru aku lepaskan," kata Keanu sambil mere.mas benda itu. Mouza hanya bisa memejamkan matanya.
"Bang .... "
Ternyata tidak sulit untuk menjinakkan Mouza. Hanya butuh kesabaran dan kelembutan, Keanu sudah berhasil membuat Mouza mende sah di bawah kungkungannya.
Siang ini, didalam sebuah kamar telah terjadi penanaman ubi premium. Suara Mouza tak kalah seksi seperti suara Mili saat itu. Kali ini Mouza hanyut dalam permainan Keanu yang membuatnya melayang. Entah bagaimana Mouza tiba-tiba pasrah saat Keanu telah membawanya keatas tempat tidur dan berhasil menanam ibunya.
__ADS_1
"Bang Ke, pelan-pelan. Sakit!" lirih Mouza saat Keanu tak bisa mengontrol dirinya. Keanu lupa jika ini kali pertama Mouza dijajah.
"Sorry, Za. Aku lupa jika ini adalah pengalaman pertamamu. Aku akan pelan-pelan."
Awalnya memang terasa sakit, tetapi lama-kelamaan rasa itu berubah menjadi rasa kenikmatan. Mouza tak kuat lagi saat merasakan sesuatu yang telah berada di bawah sana, persamaan dengan ubi Keanu yang semakin berdenyut.
Suara de.sah.an panjang menggema di kamar ketika Keanu sudah sampai pada puncak permainannya. Mouza hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat apa yang dia rasakan sampai ke ubun-ubun.
Dengan napas yang tersengal, Keanu langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Mouza dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua. Wajahnya kini menatap Mouza yang masih mengatur nafasnya.
"Bagaimana?" tanya Keanu.
Wajah Mouza seketika memerah saat mendengar pertanyaan Keanu.
"Makasih ya," ucapannya lagi sambil menarik tubuh Mouza agar lebih mendekat.
"Aku pastikan kamu akan merasakan ketagihan untuk menanam ubi bersamaku."
Mouza semakin kesal dengan ucapan Keanu yang membuatnya semakin malu. Namun, tidak munafik bagi Mouza yang baru pertama kali melakukannya sudah merasakan kenikmatan luar biasa. Pantas saja banyak pasangan muda-mudi yang melakukan hubungan terlarang ini karena memang ah, begitu lah ( kabur dulu ππ )
Jangan ditanya lagi saat Keanu sudah mendapatkan sedikit celah. Dia akan memanfaatkan celah itu sebaik mungkin. Terbukti saat ini dia melanjutkan permainannya setelah beberapa saat beristirahat.
"Bang Ke mainnya pelan-pelan dong. Sakit tahu," rengek Mouza saat Keanu tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Keanu menurunkan ritmenya, dia menuruti ucapan Mouza untuk bermain pelan-pelan, meskipun rasanya tidak sabar untuk menghajar lebih kuat lagi. Mungkin untuk pembukaan dia harus bersabar karena Mouza yang belum terbiasa. Namun, tunggu saja waktunya jika Mouza telah terbiasa, dia akan langsung membawanya ke luar angkasa hingga tak menginginkan untuk kembali lagi.
__ADS_1
"Bang Ke, lebih cepat sedikit!"
Keanu mengikuti permintaan Mouza dan pad akhirnya mereka berdua mencapai pada puncak kenikmatan yang sesungguhnya. ( Dah itu aja, butuh dua jam untuk nulis bab ini. Awas aja gak ada saweran! )