
Dengan rasa bersalah Mouza menghubungi Keanu jika perutnya sudah tak sakit lagi dan memintanya untuk tak mencari obat pereda nyeri perut. Sebenarnya Mouza tak ingin berurusan lagi dengan Alan, tetapi saat ini uluran tangan Alan sangat bermanfaat untuk dirinya. Tidak ada salahnya menerima kebaikan seseorang, apapun niatnya.
Setelah berhasil menghubungi Keanu, Mouza melanjutkan lagi untuk menyeka perutnya dengan botol yang berisi air hangat. Entah dari mana Alan mengetahui jika dirinya sedang membutuhkan benda itu.
"Coba aja lo gak main kuda-kudaan sama sarden Mili, pasti gue nggak bakalan nikah sama bang Ke. Lo sih cari masalah. Tapi gue gak nyesel kok, karena hidup gue udah terjamin, daripada gue tinggal sama mas Arif yang akan selalu diomelin sama Mbak Hana, menu sama abang lo yang kadang bisa gue kadalin." Mouza tertawa pelan saat mengingat betapa kejam kakak iparnya.
Karena rasa nyeri sudah hilang, Mouza pun akhirnya segera bersiap untuk pergi kuliah. Namun, hingga 1 jam berlalu, Keanu belum juga pulang membuat Mouza memutuskan untuk memesan taksi online.
"Tumben gak liat abang gue disini?" sindir Alan saat melihat Mouza duduk diteras depan.
"Bukan urusan lo!" ketus Mouza dengan lirikan tajam.
"Ya udah, kita berangkat bareng aja ya. Palingan Bang Ke sibuk sama kerjaannya," kata Alan yang sudah sangat berharap jika Mouza mau berangkat bersama.
"Jangan karena gue mau menerima uluran tangan dari lo, jadi lo mikirnya kejauhan. Kalau gak urgent gue juga ogah menerima uluran tangan lo! Tahu diri napa?" cibir Mouza.
Alan hanya mende.sah pelan. Ternyata Mouza sudah benar-benar menutup hati untuk dirinya. Bahkan hanya sekedar mengajaknya untuk berangkat bersama pun dia sudah tidak mau.
"Gak harus segitunya juga kali, Za! Semua orang punya kesalahan. Masa gue cuma melakukan satu kesalahan lo langsung benci gue seumur hidup," keluh Alan seraya meninggalkan Mouza yang masih berdiri sambil memainkan ponselnya.
Tak ada jawaban dari Mouza, dia membiarkan Alan berlalu begitu saja.
"Za, gue emang bodoh, tapi gak sebodoh lo! Lo itu bodoh, Za! Bang Ke itu bukan pria baik. Bahkan tidak hanya satu wanita yang sudah dia tiduri setiap malamnya dan lo masih mau menerima dia apa adanya? Lo akan menyesal Za!" kata Alan sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Dada Mouza hanya naik turun saat Alan mengatakan sisi buruk dari Keanu. Tanpa diberitahu pun Mouza sudah tahu jika Keanu bukanlah pria baik. Bahkan Mouza juga sudah tahu apa pekerjaan Keanu.
Sebenarnya Mouza ingin berteriak tak terima atas sisi gelap Keanu, tetapi itu bukan caranya untuk mundur dan meninggalkan pria yang sedang salah jalan itu. Tugas Mouza saat ini adalah menyadarkan Keanu agar menjadi orang baik dan berguna untuk keluarganya.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
Sesampainya di kampus Mouza kembali menjadi perhatian dari semua orang. Kali ini bukan untuk mencibirnya, melainkan menyambut kedatangannya dengan ramah. Entah apa yang sudah terjadi pada mereka sehingga dalam hitungan jam mereka sudah berubah layaknya film power rangers kesukaan. Apakah mereka juga memiliki kekuatan untuk merubah diri?
"Pada aneh!" gerutu Mouza saat melewati beberapa orang yang memberikan senyuman dibibir.
Satu-satunya orang yang bisa ditanya adalah Alan, tetapi Mouza sedang malas berurusan dengan mantan kekasihnya itu, takut jika dia masih berharap padanya.
"Masa bodoh, gue gak peduli," ucap Mouza yang tetap acuh.
Sesampainya di kelas, Mouza juga terheran saat beberapa orang yang datang dan meminta maaf kepadanya atas insiden foto kemarin. Matanya langsung fokus pada Alan yang duduk di bangkunya. Apakah semua ini karena Alan?
Mouza tak ambil pusing siapa yang sudah berada dibalik layar, yang penting saat ini semua teman-temannya udah pada tahu fakta yang sebenarnya jika dia bukan wanita simpanan.
"Lan, makasih udah bantuin gue buat menyelesaikan masalah foto itu, ya," kata Mouza saat melewati bangku Alan.
Pria itu mengernyit. Bahkan dia juga tidak tahu mengapa semua orang langsung meminta maaf pada Mouza.
"Gak usah berterima kasih sama gue, karena gue gak ngelakuin apa-apa," ujar Alan dengan nada ketus. Dia masih kesal dengan Mouza yang tak bisa memaafkan dirinya, padahal dia hanya melakukan satu kesalahan, sedang Keanu?
Dalam hati Mouza merasa malu karena telah salah sasaran. Harusnya dia mencaritahu kebenarannya baru mengucapkan terima kasih pada Alan. Jika seperti ini Alan pasti akan besar kepala.
"Dasar Mouza bodoh! Ngapain juga berterima kasih sama bocah itu?! Yang ada kepala kepala dia makin besar," gerutu Mouza dalam hati.
πππ
Mouza merasa heran saat pesan yang dikirimkan kepada Keanu tak satupun yang dibalas, bahkan juga tak dibaca.
"Bang Ke kemana, sih?" Mouza terus menimang ponselnya, berharap jika ada balasan pesan dari Keanu. Namun, hampir 30 menit Mouza berdiri di samping halte bis, tak ada tanda-tanda Keanu menjemputnya. Padahal biasanya dia sudah standby ditempat itu untuk menunggunya. Kali ini hatinya semakin resah.
Alan yang tak sengaja melihat Mouza segera menurunkan kaca mobilnya.
__ADS_1
"Lo ngapain disitu? Belum ada tanda-tanda suami lo jemput? Ikut gue aja!" teriak Alan.
"Gak sudi!" Mouza pun berteriak.
Alan tak ingin memaksakan keinginan dan memilih berlalu begitu saja, tetapi dia masih memperhatikan Mouza dari kaca spionnya.
"Kasihan juga dia. Kemana ya kang jemputnya? Tumben aja jam segini belum jemput? Apa dia ngeluyur lagi? Awas aja kalau sampai bermain membuat Mouza kecewa!" Alan mengepalkan tangannya sebelum dipukulkan ke setir kemudinya.
Sementara itu Mouza yang sudah lelah untuk menunggu akhirnya memilih untuk memesan taksi online. Dia sudah yakin jika Keanu tak akan datang untuk menjemputnya.
"Tumben aja semua pesan gak ada yang dibaca. Dia kenapa ya? Perasaan tadi pas berangkat dia baik-baik aja, deh."
Tak butuh waktu lama Mouza pun sampai di rumah. Matanya menyapu garasi, berharap menemukan motor Keanu, tetapi garasi kosong. Bahkan mobil Alan juga tidak ada, itu artinya Alan tidak langsung pulang.
"Mbak Lili!" teriak Mouza memanggil asisten rumah tangga.
"Iya, Neng. Ada apa?" Wanita yang dipanggil mbak Lili itu mendekat.
"Apakah bang Ke belum ada pulang sejak kepergian tadi pagi," jelas mbak Lili.
Mouza akhirnya berjalan lesu menuju ke kamar sambil menggigit jarinya. Detak jantungnya kian berdebar saat tak mendapati Keanu di rumah. Apakah saat ini sedang sedang berada di markas, atau memang sedang pergi ke club. Apakah sampai saat ini Keanu belum berubah?" Pikiran Mouza semakin lama semakin berat.
.
.
.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
Halo-halo, selagi nunggu novel ini up lagi mampir dulu ke Novel my besty LichaLika dengan Judul PERNIKAHAN RAHASIA ANAK SMA dijamin ceritanya bikin baper. Mampir ya!