Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 96 | Menyerah


__ADS_3

Karena sejatinya pemilik nyawa itu adalah Sang Pencipta-Nya. Sekeras apapun seseorang berusaha untuk menyembuhkan, jika Sang Pencipta berkehendak lain, maka kematian tak akan bisa dihindari. Setiap manusia telah memiliki garis takdir masing-masing dan kapanpun mereka dipanggil, maka tak akan ada yang bisa untuk bernego lagi.


Dalam keadaan susah Azra berusaha mengumpulkan rupiah dan rupiah untuk biaya pengobatan Delon. Namun, saat ia telah mempunyai biaya yang cukup untuk melakukan operasi, Delon malah memilih pergi begitu saja tanpa ingin berjuang lagi.


Hati siapa yang tak hancur ketika perjuangan itu telah dipatahkan begitu saja?


Azra hanya bisa menangis tanpa henti ketika Delon dinyatakan telah berhenti bernafas oleh seorang dokter. Bukan karena penganiayaan yang dilakukan oleh Alan, melainkan karena penyakit yang sudah ia derita bertahun-tahun lamanya.


Alan yang mendapatkan kabar tentang kepergian Delon, langsung meninggalkan kelas kuliahnya. Pikirannya sangat kacau, bahkan tanpa disadari Alan mampu menumpahkan air matanya, karena Alan juga bisa merasakan bagaimana perasaan Azra saat ini. Kepergian satu-satunya keluarga keluarga yang dimiliki pasti akan sangat hancur, terlebih Alan adalah penyebab Delon meninggal. Jika saat itu ia tak membabi buta menghajar Delon, mungkin semua tak akan seperti ini.


"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku telah menjadi seorang pembunuh?"


Pikiran Alan semakin tidak tenang saat mobilnya telah sampai di rumah sakit. Ia tidak tahu apakah kedatangannya akan diterima oleh Azra atau tidak, karena jauh sebelumnya agar sudah pernah mengatakan jika sampai terjadi sesuatu kepada Delon iya tak akan memaafkan dirinya.


"Tenang Alan, kamu pasti bisa menghadapinya," ucap Alan untuk meyakinkan diri sendiri sebelum masuk ke dalam rumah sakit.


Dadanya terus bergerumuh. Semakin lama semakin kencang, terlebih saat Alan telah melihat punggung Azra dari belakang.


Aku pasti bisa, batin Alan lagi.


Setelah jarak sudah dekat Alan memberanikan diri untuk memanggil Azra meskipun seluruh tubuhnya hampir bergemetar.


"Zra," panggil Alan.


Mendengar namanya dipanggil, Azra segera menoleh. Ia hanya menatap Alan dengan datar lalu membuang pandangannya.

__ADS_1


"Zra, aku turut berduka cita atas kepergian Bang Delon dan aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan kepadanya. Jika kamu ingin menuntutku atas kematian Bang Delon, aku ikhlas," ujar Alan.


Azra tersenyum tipis. "Kamu tenang saja aku tidak akan menuntutmu, tetapi aku hanya kita mengakhiri pernikahan yang tak sejalan ini. Untuk apa aku bertahan jika kamu tak bisa mencintaiku, dan satu-satunya alasanku untuk menikah denganmu sudah tidak ada. Mulai hari ini aku akan membebaskanmu."


Tubuh Alan membeku, bibirnya tak bisa untuk mengucapkan kata-kata lagi, terlebih saat Azra langsung meninggalkan dirinya begitu saja.


Mendadak hatinya terasa ngilu. Pernikahan yang belum berjalan satu bulan kini sudah akan berakhir. Rasanya Alan tidak rela, tetapi ia tak bisa untuk memaksakan keinginan Azra.


🌸🌸🌸


Setelah acara pemakaman Delon, Azra masih bertahan untuk berada diatas pusara yang masih basah. Satu-satunya keluarga yang ia miliki telah pergi untuk selamanya.


"Zra, sudah satu jam kamu berada disini. Sekarang kita pulang ya!" bujuk Alan yang masih setia menemani Azra.


"Jika kamu ingin pulang, pulanglah! Aku masih akan tetap di sini," tolak Azra dingin.


"Kamu bisa berbicara seperti itu karena kamu tidak merasakan bagaimana kehilangan satu-satunya keluarga yang kamu miliki!"


Alan hanya tersenyum getir. Siapa bilang dia tidak pernah merasakan kehilangan keluarga yang sangat dicintainya, bahkan dalam waktu yang bersamaan. Namun, saat ini Alan tak ingin memperdebatkannya, karena ia tahu hanya akan memperkeruh suasana.


"Baiklah, aku tahu bagaimana perasaanmu, tetapi saat ini bisakah kita pulang? Lihatlah, sebentar lagi akan turun hujan." Sebisa mungkin Alan membujuk Azra agar meninggalkan makam.


Azra terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia menyetujui ajakan Alan untuk pulang dengan perasaan yang hancur. Tak ada sepatah yang terucap dari keduanya hingga sampai di rumah Alan.


Sesampainya disana, Mouza segera menyambut Azra dan terus memberikan dukungan agar Azra tetap tegar atas kepergian abangnya.

__ADS_1


Azra menatap satu persatu penghuni rumah yang juga juga telah menunggunya. Detik kemudian Azra mengatakan jika ia ingin berbicara kepada mereka semua.


Kakek dan Mouza saling melempar pandangan. Keduanya merasa was-was saat Azra mengatakan ingin berbicara kepada mereka. Mereka bisa menebak jika semua ini ada kaitannya dengan kontrak perjanjian sebelum menikahi Alan.


"Kakek, terima kasih telah memberikan seperti harapan untukku dan juga bang Delon. Karena bantuan kakek, bang Delon mempunyai harapan untuk sembuh, meskipun harapan itu pupus. Kakek, terima kasih telah memberikan kepercayaan kepada Azra untuk menikahi cucu kakek. Namun, pada akhirnya Azra memilih untuk menyerah karena benteng pertahanan Alan sangat kuat. Azra punya harga diri, Kek. Tidak mungkin Azra akan selalu terlihat seperti seorang jall.ang untuk mendapat perhatian Alan. Azra tidak sanggup Kek. Maaf sudah membuat Kakek kecewa. Tenang saja Azra akan mengembalikan semua yang telah Kakek berikan kepada Azra," ucap Azra panjang lebar sambil menitihkan air matanya.


Semua yang duduk di sofa hanya terdiam tanpa ingin menyela ucapan Azra. Setelah selesai berbicara dengan kakek Wijaya, Azra kemudian menatap kearah Alan.


"Mulai saat ini kamu sudah bebas, Lan. Kamu tidak akan terikat dengan pernikahan konyol ini. Aku menyerah untuk meluluhkanmu, aku akui aku telah kalah. Kamu tenang saja uang yang pernah kamu berikan kepadaku, masih utuh belum pernah aku pakai. Aku juga akan mengembalikannya padamu. Karena saat aku kesini, aku tak membawa apa-apa, maka saat aku pergi pun aku juga akan membawa apa-apa," jelas Azra dengan linangan air mata.


Mouza yang berada di samping Azra hanya bisa memberikan sebuah pelukan. Ia tahu bagaimana hancurnya Azra saat ini.


"Kamu tenang dulu, oke! Jangan mengambil keputusan saat pikiran sedang kacau. Aku tahu saat ini kamu sedang hancur. Kamu butuh waktu untuk menerima kepergian bang Delon," ujar Mouza.


"Tidak, Za. Aku serius ingin berpisah dari Alan. Untuk apa aku bertahan saat harapanku untuk bertahan sudah tidak ada, terlebih lagi Alan tak pernah menganggap ku sebagai istrinya."


Mata Mouza pun langsung menatap kearah Alan dan memberi sebuah isyarat agar bocah itu juga ikut menenangkan hati Azra. Namun, sayang Alan tidak peka dan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mouza pun hanya bisa mende.sah kasar.


"Alan, katakan kepada Azra perasaanmu saat ini. Jika kamu sudah memiliki perasaan padanya, kakek tidak akan ambilkan Azra pergi untuk meninggalkan rumah ini, tetapi jika kamu tidak sama sekali memiliki perasaan padanya, maka apa boleh buat, kakek tidak bisa menghalangi kepergiannya. Semua keputusan ada di tanganmu. Sekarang tentukan keputusanmu!" timpal Kakek Wijaya.


Alan menelan kasar salivanya. Saat ini dirinya benar-benar tidak tahu akan memberikan keputusan seperti apa, karena satu sisi lain ia akan merasa bahagia karena terbebas dari pernikahan yang tak diinginkannya. Namun, satu sisi lain dada Alan terasa berdenyut ketika mendengar Azra menyerah untuk mempertahankannya. Entah mengapa hatinya terasa berdenyut.


"Alan, ayo jawab!"


...πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2