
Sesampainya di rumah, Mouza merasa sangat terkejut karena melihat rumah yang sudah tertata rapi dan juga makanan yang telah tersaji di masyarakat. Dalam hati bertanya-tanya apakah semua Ini Azra yang melakukannya. Namun, Mouza menepis dugaannya, karena Azra bukanlah wanita yang bisa mengurus rumah. Terlebih dalam urusan memasak.
"Ada apa, Za?" tanya Keanu yang melihat Mouza masih berdiri di tempatnya.
"Ada yang aneh gak, Bang?" tanya Mouza yang memberi isyarat agar Keanu memperhatikan sekitarnya.
" Gak ada. Hanya terlihat lebih rapi saja. Apakah ada yang hilang?"
Mouza hanya mede.sah kasar dan berjalan ke arah meja makan. "Ini siapa yang masak?" Kini Keanu bertanya pada Mouza.
"Mana aku tahu. Apakah mbak Lily udah pulang?" tebak Mouza yang tanpa disadari tepat sasaran.
"Bisa jadi." Tanpa pikir panjang Keanu langsung mengambil piring untuk menyantap hidangan yang telah terjadi di atas meja.
"Bang Ke, mau ngapain?" tanya Mouza heran.
"Mau makan," jawab Keanu apa adanya.
"Tadi kan udah makan. Dasar perut karet!" ledek Mouza yang kemudian meninggalkan Keanu untuk kamarnya.
Setelah kepergian Mouza, Keanu hanya bisa menggerutu pelan. Semua ini juga karen Mouza yang kelaparan sehingga menyikat makanan miliknya, padahal Mouza sendiri sudah habis dua porsi.
"Ini baru masakan mbak Lily. Ternyata pria itu sudah kembali. Syukurlah, jadi aku bisa pindah lebih cepat."
.
.
Setelah pulang kuliah Alan tak langsung pulang ke rumah. Siang ini Alan telah memberi kabar kepada teman-temannya untuk nongkrong bersama di tempat biasa. Setelah menikah dengan Azra, Alan tak ada mengunjungi tempat tongkrongannya karena saat itu tak ingin meninggalkan Azra di rumah sendirian hingga malam. Namun, karena sekarang Mouza sudah pulang, maka tak ada alasan Alan untuk mengkhawatirkan Azra lagi.
Baru saja turun dari mobil, Alan telah disambut oleh teman-teman. Hampir semua teman-temannya mengejek Alan.
"Dari mana aja lo, baru nongol? Mentang-mentang udah nikah, gas terus!" ujar salah seorang temannya.
"Kirain lo gak bakalan kesini karena terlena akan belain istri tercinta," timpal salah seorang lagi.
"Nikah gak nikah kalau Alan mau ngegas, ya tinggal tancap gas aja kali. Kayak gak tau Alan aja!" seru salah satu temannya lagi.
Seketika semua teman membenarkan ucapan yang baru saja mereka dengar. Memang bagi Alan jika ingin ngegas tinggal cari target dan tancap gas, tanpa perlu menunggu menikah terlebih dahulu.
__ADS_1
"Bisa diem gak! Kalau tahu akan seperti ini, mending gue nggak ke sini tadi! Dah ah, pulang aja gue!" Alan hendak berbalik masuk kedalam mobilnya. Namun, dengan cepat beberapa tangan langsung menarik Alan untuk masuk ke dalam.
"Gitu aja ngambek! Emang bener ya kalau udah nikah tuh lebih sensitif!"
Satu jitakan Alan daratkan di kepala temannya yang terus meledek dirinya sejak tadi.
"Sakit woii!"
"Gak mau diem, gue tambah lagi!" ancam Alan lagi.
Seketika semua teman-teman Alan terdiam. Mereka langsung mengikuti Alan untuk masuk kedalam sebuah cafe di mana tempat mereka sering menghabiskan waktu sekedar nongkrong. Meskipun hanya nongkrong biasa mereka mampu menghabiskan waktu berjam-jam.
"Gue penasaran sama bibi lo, cantik gak Lan?" tanya Amar, teman yang sejak tadi mengejek Alan.
"Kalau gak cantik, lo mau gantiin gue?"
Amar berdecak kasar. Berbicara dengan Alan memang membutuhkan kesabaran. "Gua cuma nanya aja. Tapi tebakan gue cantik, buktinya setelah nikah lu nggak ngomong. Gimana udah lo belah belum? Enak gak?" cerocos Amar.
Lagi-lagi satu jitakan mendarat di kepala Amar, membuat teman-teman yang lain mengecewakan Amar.
"Sakit tahu, Lan!" gerutu Amar sambil menggosok kepalanya.
"Ulat bulu?" Semua teman-teman membeo, karena memang tidak tahu apa itu ulat bulu.
Seketika Alan menyadari dengan ucapannya. Gara-gara Azra mulut Alan kelepasan menyebut Mili dengan ulat bulu.
"Maksud gue, sarden Mili," ujar Alan.
"Sejak kapan ondel-ondel punya nama panggilan baru? Ngapain lo nyari dia? Mau goyang dia? Gue yang liat udah nek rasanya, Lan! Gak naffsu," ujar Galang yang ada disebelah Alan.
"Lagian bisa-bisanya lo dinaikin ondel-ondel seperti itu sih, Lan? Rabun atau gimana mata lo? Sekarang nyesel kan? Pastinya nyesel banget dong, karena udah kehilangan Mouza," timpal Amar lagi.
"Banget! Apalagi sekarang Mouza sangat bahagia dengan kehidupan barunya, ya meskipun dapatnya juga barang bekas. Yang penting gak ditinggal goyang cewek lain." Galang menyela dan langsung mengundang tawa dari temen-temennya.
Niat Alan ingin mencari tahu keberadaan Mili untuk memberikan. Namun siapa yang menyangka telinganya dibuat gatal oleh teman-teman yang tak punya akhlak.
"Bisa diam gak! Gue harus kasih itu cewek pelajaran! Bisa-bisanya dia minta pertanggungjawaban atas kehamilannya. Padahal kan gue nggak ikut nanam. Masa gua suruh tanggung jawab? Gila kan?" jelas Alan sambil menyesap minuman yang tidaknya pesan.
Meskipun Alan bukanlah pria baik, tetapi dia bukanlah pria perokok ataupun peminum seperti Abangnya. Hanya karena satu kesalahan mampu membawa Alan ke jurang kesesatan.
__ADS_1
"Eh, serius? Gimana ceritanya lo bisa disuruh tanggung jawab? Jangan-jangan lo emang ikut nanam, sehingga ondel-ondel itu meminta lo untuk tanggung jawab. Lan, katakan tidak! Lo gak ikut menanamkan, Lan?" tanya Galang dengan heboh.
"Meskipun gue beberapa kali jalan bersama dengannya, tapi sumpah, gue nggak ikut nanam!"
Saat pikiran Alan sedang kacau matanya tak sengaja menangkap sosok wanita yang seperti dikenalinya. Tanpa berkedip Alan terus memperhatikan wanita tersebut. Semakin dekat, semakin jelas. Dan yang membuat bedanya terasa panas, wanita itu sedang berjalan dengan seorang pria.
"Bisa-bisanya dia keluyuran dengan pria lain. Bilangnya ada urusan urgent, nggak tahunya malah ketemuan sama pria lain! Dasar cewek munafik!" umpat Alan dengan kesal.
Beberapa temannya merasa terkejut ketika awan berdiri dengan tangan yang telah mengepal.
"Lan, lo mau kemana?!" teriak Amar.
Alan tak menghiraukan lagi pertanyaan teman-temannya, karena saat ini dadanya sedang terbakar.
Tangan Alan segera menarik tangan pria yang berjalan di samping Azra. Dan ….
BUGH ….
Satu pukulan mendarat di wajah pria asing yang tak dikenalnya. Matanya pun langsung menatap ke arah Azra yang terkejut dengan satu bogeman yang mendarat di pipi pria yang sedang bersama dengan dirinya. Saat menyadari jika pelaku pembogeman adalah Alan, mata Azra langsung membulat dengan lebar.
"Alan," liriknya pelan.
"Apa? Lo gak terima kalau gue hajar selingkuhan lo, hah?!" teriak Alan dengan lantang.
BUGH ….
Satu bogeman lagi mendarat di perut pria asing itu, hingga membuat Azra juga berteriak kepada Alan.
"Stop Alan! Stop! Kamu nggak tahu apa-apa, gak boleh main hakim sendiri! Dia bukan selingkuhanku dia adalah—" Belum sempat menyelesaikan penjelasannya, Alan sudah menghujani pria yang di samping Azra dengan berat bertubi-tubi pukulan hingga membuat pria itu tersungkur di lantai.
"Stop! Alan, stop!" teriak Azra yang berusaha untuk mencegah Alan membabi-buta. Namun, karena hati Alan yang telah tertutup awan panas, ia tak peduli dengan tangan Azra yang berusaha untuk mencegahnya. Hingga akhirnya tubuh Azra juga ikut terpental ke lantai karena Alan mencoba untuk menepisnya.
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
3 Bab sudah. Mana suaranya?? Belum sempat edit, moon maap kalau masih ada typo bertebaran 😊