Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 85 | Kakek Pulang


__ADS_3

Entah sampai kapan kakek Wijaya akan mengakhiri liburannya. Sebenarnya tidak masalah jika Kakek tua itu pergi berbulan-bulan asalkan tak membawa mbak Lily. Terkadang Keanu merasa heran, rumah sebesar itu hanya mbak Lily seorang yang mengurusnya. Sebenarnya bukan tidak mampu untuk membayar gaji ART, tetapi sang Kakek tua tak mempercayai orang baru, karena sudah pernah terlukai oleh seorang ART baru. Jadi pada akhirnya sang kakek hanya mempekerjakan mbak Lily seorang. Meskipun bekerja seorang diri tetapi mbak


Lily tidak pernah merasa terbebani akan pekerjaannya, terlebih saat harus menghadapi kedua cucu sang kakek yang selalu membuat kepalanya hampir pecah. Namun, sepertinya itu dulu. Karena saat ini kedua cucu sang kakek telah mempunyai keluarga dan tanggung jawab mereka masing-masing. Tidak mungkin semua kebutuhannya mbak Lily yang akan menyiapkannya.


"Tuan, sepertinya keadaan rumah sudah aman. Lihatlah nona Mouz telah mengirimkan pesan yang mengatakan jika mas Alan sudah mulai terpancing dengan Azra. Apakah tidak sebaiknya kita pulang saja? Saya kasihan kepada Nona Mouz. Pasti saat tugas dapur diambil alih olehnya," kata mbak Lily seraya menunjukkan sebuah pesan chatnya dengan Mouza.


Sang kakek menatap luasnya hamparan sawah yang terbentang luas, karena saat ini kakek tua itu sedang liburan ke sebuah desa yang masih asri untuk mencari ketenangan.


"Kamu benar. Kita juga sudah lama bersembunyi di sini ada baiknya jika kita pulang sekarang. Aku juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan Mouza yang sedang mengandung calon pewaris keluar dari sini selanjutnya," ujar sang Kakek.


"Baiklah, Tuan. Kalau begitu mari kita pulang dan berkemas."


.


.


Di sebuah kamar seorang wanita sedang merasa gelisah. Ia mondar mandiri layaknya sebuah setrika yang sedang melicinkan pakaian. Bagaimana tidak, sebuah kecerobohan mampu menghancurkan hidupnya. Saat ini sedang hamil dan ia tak bisa meminta pertanggungjawaban dari pria yang telah menyemai benih di rahimnya, karena tidak tahu siapa pemiliknya.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau melahirkan seorang anak tanpa suami!" Mili mengacak kasar rambutnya.


Setelah memeriksakan diri dan dinyatakan hamil, Mili merasa sangat frustasi, karena ia tak tahu siapa pemilik benih yang sedang berkembang di rahimnya.


Semua rencana untuk menjadi nyonya di keluarga Wijaya pun telah pupus. Itu semua itu karena kebodohannya yang melakukan penyatuan dengan Alan yang berakhir tragis. Semua itu dilakukan bukan tanpa alasan. Selama itu Mili sudah cukup bersabar memendam hasrat untuk bisa disentuh oleh Keanu yang berstatus sebagai kekasihnya saat itu. Namun, nyatanya pria itu sama sekali tak terpancing dengan godaannya, dengan alasan tak ingin merusak dirinya sebelum menikah.


"Semua ini karena wanita sialan itu! Seharusnya saat ini aku yang berada di samping Keanu dan Menjadi Nyonya di rumah itu, bukan dia!" geram Mili saat mengingat kebahagiaan yang dirasakan oleh Mouza.


"Arrrgghh!" Mili pun menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Semenjak dicampakkan Keanu dan masuk kedalam rumah tahanan, semua harapannya telah sirna. Selain dikucilkan oleh keluarganya, Mili juga ditendang dari susunan keluarga. Hidupnya tanpa arah membuat dirinya terpaksa menjadi wanita penghibur. Namun, entah saat dengansiapa ia tak memakai pengaman saat berhubungan sehingga menjadi sebuah boomerang untuk dirinya.

__ADS_1


"Jika aku telah gagal untuk mendapatkan Keanu, aku masih bisa mendapatkan Alan, bocah polos itu. Sepertinya tidak buruk jika aku memperalat bocah polos itu. Alan, mari kita bermain lagi." Sebuah senyum smirk mengambang luas dibibir Mili.


.


.


Pergi tanpa pamitan, pulang tanpa pemberitahuan. Itulah kakek Wijaya, sang penguasa di dalam rumah. Setelah puas bertapa untuk menenangkan keadaan, akhirnya hari ini telah sampai di rumahnya.


Suasana rumah terasa sangat sepi karena semua penghuni pasti sedang melakukan rutinitas mereka masing-masing. Keanu yang bekerja sedangkan Alan dan Mouza sedang kuliah. Hanya tersisa Azra saja.


"Kemana gadis itu? Mengapa dia juga meninggalkan rumah?" lirih sang kakek saat membuka pintu yang terkunci.


"Mungkin sedang keluar, karena merasa bosan, Tuan." Mbak Lily menimpali.


"Bisa jadi. Ly, siapkan air jahe untukku, sepertinya badanku sedang masuk angin!" Perintah kakek Wijaya.


"Siap Tuan, akan saya buatkan. Apakah anda masih sanggup berjalan untuk ke kamar?" tanya Mbak Lily.


Seketika Mbak Lily terdiam sambil menunduk. Sungguh ia tak bermaksud untuk meremehkan Tuan-nya. Ia hanya merasa khawatir saja, tetapi sang kakek salah mengartikannya.


"Maaf Tuan, bukan maksud saya meremehkan Tuan. Saya hanya khawatir saja. Sekali lagi saya minta maaf," sesal mbak Lily.


Dengan langkah sedikit tertatih menggunakan tongkat andalannya, sang kakek pun mencoba untuk naik keatas tangga. Namun, karena tidak hati-hati dirinya tersandung anak tangga dan hampir saja terjatuh. Untung saja ada Mbak Lily yang dengan sigap menangkap tubuh kakek Wijaya agar tidak jatuh ke lantai.


"Apakah aku bisa mengambang?" tanya kakek Wijaya yang merasa tubuhnya tak terjatuh ke lantai.


"Bukan mengambang Tuan, tapi saya yang menangkap Anda," ujar mbak Lily.


Menyadari jika saat ini tubuhnya dipegang oleh Lily, sang kakek langsung berkata, "Lepaskan! Jangan sentuh aku!"

__ADS_1


Mungkin apa yang telah Lily lakukan begitu lancang, karena telah berani menyentuh Tuannya. Namun, itu semua ia lakukan agar sang kakek tidak terjatuh ke lantai. Apakah itu salah?


Akhirnya karena Lily merasa takut ia pun segera melepaskan tubuh kakek Wijaya hingga akhirnya sang kakek pun terjatuh ke lantai.


BRUKK


Kini tubuh kakek Wijaya benar-benar menyentuh lantai. Meskipun tidak terlalu sakit, tetapi bola matanya menatap tajam ke arah Lily.


"LILY…. !" Suara kakek Wijaya mampu menggetarkan seluruh ruangan, membuat Lily hanya menutup telinganya dengan kuat.


"KENAPA KAMU MENJATUHKANKU KE LANTAI? APAKAH KAMU SUDAH BOSAN UNTUK BEKERJA DI SINI?" tanya kakek Wijaya dengan suara yang masih keras.


Tubuh Lily bergemetar karena dirinya benar-benar masih sangat takut. Bukankah beberapa detik yang lalu tuanya mengatakan lepaskan aku jangan sentuh aku. Lalu apakah salah jika Lily melepaskan kakek Wijaya?


"Maafkan saya Tuan. Tetapi Anda sendiri yang meminta untuk dilepaskan," ujar Lily.


"Kapan aku mengatakannya? Meskipun aku sudah tua, tetapi aku belum pikun, Ly! Ngapain lagi kamu plototin aku seperti itu? Ayo bantu aku untuk berdiri! Awas aja jika aku sampai cedera! Siap-siap kamu aku tendang dari rumah ini!" ancam sang kakek.


Lily hanya mendengus kasar. Menghadapi pria tua harus mempunyai kesabaran dua kali lipat daripada menghadapi dua orang cucunya yang lebih bandal.


Sabar Ly, anggap saja Ini adalah ujian untukmu. Kamu maklumi saja orang tua seperti ini. Pantas saja dua kerucut itu memiliki sifat yang semena-mena, ternyata itu turunan dari kakeknya, batin Lily.


"Apakah anda tidak marah jika saya sentuh?" Lily memastikan terlebih dahulu sebelum membantu kakek Wijaya bangkit.


Sang kakek semakin menatap tajam kearah Lily. "Kamu nanya?"


.


.

__ADS_1


...🥕🥕🥕...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2