
Karena saat ini keadaan Kenza sudah baik-baik saja, maka gadis kecil itu untuk pulang. Namun, karena Alan masih memiliki urusan yang harus diselesaikan dirinya memberi pengertian kepada Kenza untuk pulang ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Alan pun berjanji jika masalahnya telah selesai, ia akan menjemput Kenza kembali. Meskipun terasa sangat berat, tetapi Kenza pun luluh dengan bujukan Alan saat ini dengan syarat, Alan juga harus pulang ke rumahnya.
"Dadd, apakah setelah Daddy bisa bersatu dengan anak dan istri Daddy, Daddy akan menyisihkan aku?" tanya Eza sebelum Alan meninggalkan anak mantan pacarnya itu.
Seketika Alan pun langsung mengelus rambut Eza dengan lembut. "Kenapa pikiran kamu sampai jauh kesana? Mana mungkin aku akan menyisihkan monster kecil ini dari hidupku. Monster kecil yang membuatku bertahan sampai detik ini. Jika bukan karena kamu, mungkin saat itu aku sudah dikirim ke rumah sakit jiwa oleh kakek uyutmu!"
"Janji!" Kenza menyodorkan jari kelingking kedepannya wajah Alan.
Alan pun segera mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Kenza yang kecil. "Janji," ucapnya.
Setelah diizinkan pergi, Alan langsung menghela napas leganya. Beruntung saja Kenza bisa dia lumpuhkan dengan mudah.
"Anak mantan serasa anak kandung. Apa kabar dengan kandungku sendiri. Alan ... Alan!" gumam Alan setelah menjalankan mobilnya. Kali ini tujuannya Alan adalah ke cafe tempat Azra bekerja. Dia sudah bersemangat membawa Azra untuk menjenguk kakeknya di rumah sakit.
"Kali ini Kakek tua itu harus bertanggung jawab. Siapa suruh selama ini membohongiku, hingga aku tidak tahu jika aku sudah memiliki anak. Dasar Kakek sialan!" umpat Alan ditengah perjalanannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Alan sudah masuk ke sebuah cafe yang cukup terkenal karena berada dibawah naungan Keanu yang sudah mempunyai nama besar setelah menggantikan posisi kakeknya.
Kedatangan Alan disambut ramah oleh pelayan cafe, tetapi Alan hanya datar. Mata menyapu keseluruh celah untuk mencari keberadaan Azra, tetapi sosok itu tidak ada.
"Mau pesan apa, Tuan?"
Mata Alan berkeliaran untuk mencari Azra yang tak terlihat.
"Azra," ucapanya tanpa sadar.
"Apa, Tuan?" pelayan itu hanya mengernyitkan dahinya.
Seketika Alan baru saja kebablasan dan menyebut nama Azra.
"Ah, maksudku dimana Azra?"
"Tuan sedang mencari Azra? Tapi sepertinya dia sedang menjemput anaknya, karena ini adalah jam pulang sekolah anaknya."
Alan hanya mengangguk pelan. Namun, sebelum pelayan itu pergi Alan juga menanyakan keberadaan Angga selaku pemilik cafe.
"Apakah Bang Angga ada disini?" tanya Alan.
__ADS_1
"Pak Angga yang mengantar Azra, Tuan."
Mendengar penjelasan dari pelayan, bola matanya langsung mendelik. "Apa?!"
Namun, sebisa mungkin Alan mencoba untuk tetap tenang. Ia percaya jika Angga tidak akan berani untuk menikungnya. "Baiklah, pergi sana!"
Lima belas menit Alan sabar untuk menunggu kedatangan Azra. Jujur dirinya sangat gugup karena akan bertemu dengan bibit premiumnya. Alan sudah tidak sabar untuk segera melihat anak yang tak sengaja ia cetak.
"Lama sekali sih mereka? Apa jangan-jangan Bang Angga memang sengaja ingin menikungku? Jika itu benar, lihat saja apa yang akan aku lakukan!" gerutu Alan dengan dada yang sudah naik turun menahan emosinya.
Karena tak sabar lagi Alan menunggu, akhirnya ia pun menelepon Angga. Namun, baru terdengar suara berdering, Alan segera mematikan ponselnya, karena sosok yang ditunggu sudah terlihat, meskipun belum mendekat.
Jantung Alan berdetak lebih kencang saat melihat bocah yang sedang digandeng oleh Azra. Karena ingatan Alan sangat tajam, ia pun masih bisa mengenali bocah yang berjalan mendekat kearahnya.
Ya, dia adalah Ellena, teman baru Eza yang sempat ia antarkan pulang, tetapi karena tidak ada siapa-siapa di rumah terpaksa ia bawa ke sekolahan lagi. Dan siapa yang menyangka jika bocah itu adalah anak kandungnya sendiri.
"Haii," sapa Azra setelah mendekat di meja Alan.
"Hai juga," balas Alan dengan gugup.
"Lan, maaf jika sudah menunggu lama karena tadi sempat dihadang macet," jelas Angga sebelum Alan berpikir terlalu jauh. "Ya sudah, aku tinggal dibelakang."
"Uncle Daddy-nya Eza kan? Hari ini kenapa Eza tidak masuk ke sekolah?" tanya Ellena.
Mata Alan langsung menaut. "Kamu masih mengenaliku?"
"Tentu saja. Daya ingatanku sangat tajam. Mana mungkin aku akan melupakan wajah Uncle yang sudah terekam dalam ingatanku," ujar Ellena.
Saat ini hanya percakapan antara Alan dan juga Ellena yang terdengar. Rasanya terasa kelu saat ingin memberitahu Ellana jika Alan adalah Daddy-nya. Namun, Azra tidak ingin membiarkan masalah ini berlarut-larut, terlebih Ellena juga butuh sosok ayah disampingnya.
"Jadi Ellen dan Uncle ini sudah pernah bertemu?" tanya Azra.
"Sudah, Momm. Uncle ini adalah Daddy-nya Eza, teman baru Ellen.
"Ohh ... "
Mata Alan masih menatap Azra dan menunggu dirinya menjelaskan pada Ellena jika dia adalah Daddy-nya.
__ADS_1
"Ellen, Mommy ingin mengatakan sesuatu kepadamu, tapi kamu enggak boleh marah, benci ataupun kecewa, karena semua ini salah Mommy," ucap Azra sang anak.
"Mommy ada masalah?"
Kepala Azra menggeleng dengan pelan. "Tidak, Sayang. Mommy tidak ada masalah. Hanya saja Mommy ingin mengatakan jika Daddy kamu belum meninggal."
Saat itu juga mata Alan langsung membulat dengan lebar. "Tega kamu, Zra!"
"Lan! Kamu gak tahu bagaimana posisiku saat itu. Aku terpaksa mengatakan kamu sudah meninggal karena aku tidak mau dikatakan hamil tanpa suami!"
Alan hanya mendengus dengan kasar. "Jika kamu tidak ingin dikatakan hamil tanpa suami, kamu kan bisa mencariku. Bukankah aku ini suamimu!"
"Iya aku mengaku salah. Aku minta maaf."
Ellena sudah bisa mencerna ucapan dua orang yang sedang beradu mulut akhirnya tahu jika pria yang ia panggil Uncle itu adalah suami Mommy-nya. Berarti dia adalah Daddy-nya.
"Kamu keterlaluan!"
Azra hanya membuang napas kasarnya. Sebenarnya saat itu Azra pernah berniat untuk memberitahu kepada Alan jika dirinya hamil. Namun, saat itu Alan masih keras dan mempertahankan ego dan gengsinya, sehingga Azra merasa percuma untuk mengejar cinta Alan.
"Iya. Makanya aku minta maaf, Lan!"
"Terlambat!"
"Alan!" sentak Azra
"Stop!" Kini suara Ellena lebih tinggi dari Mommy-nya.
πΈπΈπΈ
Halo-halo, apakah masih ada yang menantikan novel ini? Semoga masih ada ya. Lope-lope buat kalian yang masih stay di sini π
Oh, iya sambil menunggu novel ini update kembali mampir dulu yuk ke novel teman Othor. Dijamin ceritanya seru
Judul Novel : PENANTIAN CINTA ALYA
Author : AYi
__ADS_1
Mampir ya!