Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 78 | Menggoda Alan


__ADS_3

Mentari yang menyingsing membuat Azra menggeliat dengan pelan. Perlahan ia mengerjap karena merasakan sebuah tangan yang menindih perutnya. Kepalanya pun juga masih terasa berat, tetapi Azra mencoba untuk bangkit. Namun, saat menyadari jika tangan Alan menindih, Azra segera menyingkirkan tangan Alan.


Sial! Mengapa harus terlalu cepat, sih? Mana aku gak ingat apa-apa lagi. Kan jadi gak tahu gimana rasanya. Semua ini gara-gara Mouza. Awas aja nanti! Harusnya malam unboxing itu lebih berkesan meskipun Alan bekasnya ulat bulu. Batin Azra sambil melirik kearah Alan yang masih terlelap.


Wajah Alan yang terlihat damai seperti tak mencerminkan jika dia adalah seorang bibit casanova. Apakah semua itu dilakukan untuk pelarian dari rasa sakit hatinya saat melihat Mouza selalu menunjukkan keromantisan didepannya, terlebih suami Mouza adalah kakaknya sendiri. Pasti akan terasa sangat menyakitkan.


Duh, sayang banget sih ganteng-ganteng gini mainya sama ulet bulu. Tapi tenang aja, setelah malam ini aku pastikan akan ada malam kedua, ketiga dan malam seterusnya. Tangan Azra berusaha untuk menyentuh wajah Alan. Namun, dengan cepat Alan mencegahnya.


"Mau apa?" tanyanya.


Azra yang terkejut langsung menelan kasar salivanya. "Aku hanya ingin—"


Belum sempat Azra menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja tubuh Alan langsung menindihnya. "Apakah pertempuran tadi malam masih kurang?"


Kini giliran tangan Alan yang menyentuh pipi Azra dan menimbulkan seperti arus listrik yang sedang menyengat sekujur tubuhnya.


"Tapi sayangnya gue udah gak nafsu. Jika bukan karena obat menjijikan itu, aku tidak akan sudi menyentuh tubuhmu yang biasa saja," bisik Alan tepat ditelinga Azra.


Azra hanya bias mende.sah kasar, tetapi ia tak akan patah semangat untuk menaklukkan Alan.


"Jangan berharap gue akan terbuai!" ketus Alan yang kemudian memilih untuk bangkit. Namun, baru saja ingin berdiri ia baru menyadari jika saat ini tak ada sehelai benang yang menutup tubuhnya. Matanya pun menyapu kanan kiri untuk mencari celananya, tetapi tak ada.


Sial! Dimana gue lempar celana gue ya?! Ah, gak mungkin juga gue toples ke kamar mandi. Bisa-bisa tuh cewek tertawa puas. Mending gue ambil aja selimutnya. batin Alan.


Azra yang terus mengamati gerak-gerik Alan terus waspada. Jangan sampai apa yang ia pikirkan dilakukan oleh Alan.


Aku yakin kalau Alan lagi cari jalan untuk ke kamar mandi. Jangan sampai dia bawa selimut ini kabur. Batin Azra.


Benar saja apa yang dipikirkan oleh Azra, jika Alan ingin kabur menggunakan selimut yang digunakan untuk menutupi tubuhnya. Dengan kuat Azra menahannya.


"Kamu apa-apaan sih, Lan!"


"Lepasin gak? Gue mau ke kamar mandi." ketus Alan.


"Tapi gak harus bawa selimut juga, dong!"


"Suka-suka gue dong! Lepasin gak!" bentak Alan.

__ADS_1


"Gak mau! Kamu kan tahu selimut ini sedang menutupi keseksianku!"


"Bodo amat!"


Karena tidak ada yang mau mengalah akhirnya Azra memilih untuk mengalah dengan cara mengantar Alan ke kamar mandi dengan langkah terseok karena rasa ngilu di **** *************.


"Lan jangan cepat-cepat. Anuku sakit!"


Alan berdecak kesal, tetapi pada akhirnya ia pun berjalan pelan. "Merepotkan!" gerutunya.


Meskipun tadi malam keduanya telah menghabiskan malam panas, tetapi tetap saja masih merasa malu dan gengsi untuk memperlihatkan kembali keseksian tubuh mereka.


"Lan, jangan lama-lama. Aku kebelet nih!" teriak Azra dengan menahan rasa mules di dalam perutnya.


Meskipun Alan mendengar teriakan Azra, tetapi pria itu tak peduli dan malah berlama-lama di kamar mandi. Jangan ditanya lagi bagaimana Azra yang terus menerus menggedor pintu kamar mandi.


"Lan, please cepetan dong! Aku udah gak tahan!" Ingin sekali Azra mendobrak pintu karena saat ini hasratnya sudah hampir sampai di ujung.


Astaga Alan … kenapa kamu terlalu kejam padaku. Azra yang tak sanggup memilih untuk berjongkok di lantai. Ia seakan pasrah jika harus mengulurkan tabungnya di tempat itu.


"Mirip sekali seperti gelandang di pertigaan sana, sangat menyedihkan," cibir Alan yang kemudian berlalu.


Azra mendongak dengan rasa kesal dan langsung menyerobot untuk masuk ke dalam. "Kamu sengaja kan berlama-lama di dalam!"


.


.


Karena saat ini pakaian yang dipesan belum juga sampai, terpaksa keduanya hanya memakai kimono yang disediakan oleh pihak hotel. Masih mending ada yang dipakai, daripada tidak sama sekali.


"Lan, lapar." Azra mengelus perutnya karena cacing dalam perut sudah pada mendemo.


"Terus?" Alis Alan menaut.


"Pesan makanan gitu, kek!"


"Emang lo siapa, nyuruh-nyuruh gue?"

__ADS_1


Azra mendengus kasar. Detik kemudian ia mendekat ke arah Alan. Tanpa pikir panjang Azra duduk dipangkuan Alan. Tangannya juga membelai rambut pria arogan yang telah menjadi suaminya.


"Kali aja kamu lupa biar aku ingatkan lagi. Saat ini aku istri kamu. Aku berhak menyuruhmu. Coba lihat dengan mata yang lebar, ada apa di leherku?" Tangan Azra memegang kepala Alan agar bisa melihat jenjang leher Azra yang mulus. Namun, sayangnya ada beberapa mahakarya yang melukis lehernya.


"Aku yakin kamu gak lupa sama mahakarya yang telah kamu ciptakan. So, apakah kamu akan menyangkal jika ini bukanlah mahakaryamu?"


Dada Alan telah bergemuruh dengan kencang. Bahkan ia juga kesulitan untuk menelan salivanya. Mahakarya yang ia buat dengan kesadaran karena terlalu hanyut dalam sensasi yang tak bisa dijabarkan.


"Baiklah aku akan memesan makanan, tetap menyingkirkan dari pangkuanku!" ketus Alan.


"Kalau aku tidak mau menyingkirkan kenapa? Mau mengulangi lagi malam panas tadi malam? Dengan senang hati aku akan memuaskanmu, suamiku," ucap Azra dengan manja. Kini tangannya pun juga sudah mera.ba dada Alan.


Mata Alan hanya memejamkan karena ia tak bisa menahan sesuatu yang telah terbangun akibat kejahilan Azra.


"Aku jadi penasaran bagaimana wajahmu saat mendapatkan kepuasan," kekeh Azra.


Tak ingin terjebak dalam suasana yang akan membuat khilaf, Alan segera mendorong tubuh Azra.


"Dasar wanita jall.ang!"


"Jadi bagaimana apakah kamu ingin memesankan makanan atau kamu yang akan aku makan?!" ancam Azra dengan memainkan kuku panjangnya.


Kali ini Alan hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak percaya dengan sikap Azra yang terlalu berani menantang dirinya. Seharusnya Alan yang mengeluarkan kata-kata seperti itu, bukan Azra. Sepertinya saat ini dunia sedang terbalik, dimana kekuasaan yang dimiliki oleh Alan di atas ranjang akan segera diambil alih oleh Azra.


"Lo benar-bener gak punya harga diri ya!" cibir Alan kesal.


"Punya, tapi sayangnya udah aku gadaikan."


Azra pun langsung tertawa kuat.


.


.


...🥕🥕🥕...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2