
Satu Minggu telah berlalu dan tak ada tanda-tanda Delon siuman. Hal itu tentu saja membuat Azra semakin frustasi. Bahkan sampai saat ini ia belum bisa memaafkan Alan.
"Apa yang akan kamu lakukan jika dia tak bisa selamat?" Suara dari belakang membuat Azra tersentak. Suara yang tak asing baginya. Siapa lagi jika bukan suara kakek Wijaya.
Azra langsung menoleh dan memaksakan senyumnya. Meskipun ia sedang marah kepada Alan, bukan berati ia juga marah kepada kakeknya, orang yang telah memberikan sepercik harapan untuk Delon sembuh. Namun, semua itu dipatahkan oleh cucunya sendiri.
"Kakek," kata Azra yang kemudian langsung berdiri. "Duduk, Kek!"
Kakek Wijaya menolak. Ia memilih tetap berdiri sambil menatap Delon dengan sisa wajah lebamnya.
"Jawab Kakek, Zra!"
Azra menghela nafas panjangnya. Matanya fokus kearah pria yang terbaring, lemah tak berdaya. Mungkin jika tak ada alat bantu yang menyangga, pria itu sudah tak bernafas lagi.
"Aku tidak tahu, Kek. Bang Delon adalah sebagian hidupku. Jika ia pergi, aku tak punya tujuan hidup lagi. Bukankah Kakek tahu alasanku mau menikah dengan Alan? Jika satu-satunya harapanku telah tiada, untuk apa aku bertahan. Terlebih Alan tidak mencintaiku. Percuma saja akan mempertahankan hubungan yang tonic ini, Kek. Jika Bang Delon pergi, aku juga akan pergi, Kek," ujar Azra.
Kakek Wijaya masih diam ditempatnya. Ia tahu bagaimana perasaan Azra saat ini. Namun, pemikiran Azra sangat salah. Siapa yang mengatakan jika Alan tidak mencintainya? Jika Alan tidak mencintainya, bocah itu tidak akan melakukan kebodohannya, karena cemburu buta. Alan membabi buta karena ia merasa cemburu dan itu adalah bukti jika Alan sudah mempunyai perasaan kepada Azra, meskipun ia mencoba untuk menutupinya.
"Lalu apakah kamu tetap akan pergi jika ternyata Alan mencintaimu?"
Azra tersenyum getir. Tidak mungkin Alan mencintainya, meskipun mereka pernah menghabiskan malam panas bersama. Jika Alan mencintainya, ia tak akan acuh dan tak akan mengabaikan dirinya. Bahkan hampir setiap malam Azra harus menggoda Alan layaknya seorang jalla.ng. Namun, pada akhirnya Alan sama sekali tak meliriknya, bahkan mengacuhkannya. Apakah itu yang disebut cinta?
"Itu tidak mungkin, Kek! Alan lebih tergiur dengan ulat bulu yang lebih menggoda di luar sana!"
Mendengar pernyataan Azra membuat Kakek Wijaya tertawa. Bagaimana bisa wanita yang ia kenal tangguh tiba-tiba berubah menjadi pesimis dan menyerah sebelum bertanding lagi. Mungkin semua ini pengaruh dari kondisi Delon yang kian memburuk.
__ADS_1
"Azra … Azra! Apa yang kamu pikirkan? Jika bocah itu tidak mempunyai perasaan kepadamu, untuk apa ia membabi buta menghajar Delon? Bukankah kamu tahu jika bocah itu gengsinya selangit?"
Azra hanya bisa menghela nafas kasarnya. Meskipun benar, tetapi untuk saat ini Azra belum bisa memaafkan Alan. Jikapun pada akhirnya Delon tak terselamatkan, mungkin saat itu juga hatinya akan ikut mati, meskipun Alan telah mempunyai cinta didalam hati.
"Kek, Azra sangat berterima kasih, karena berkat bantuan Kakek Azra bisa melunasi hutang-hutang Azra dan bisa membawa Bang Delon untuk melakukan pengobatan lagi. Tapi, Azra minta maaf jika Azra memilih menyerah. Sungguh Azra tak akan sanggup untuk bertahan jika Bang Delon benar-benar meninggalkan Azra. Dia adalah pengganti ayah dan ibu untuk Azra, Kek. Azra akan sangat bersalah jika Bang Delon pergi sebelum Azra membuatnya bahagia, Kek."
Tanpa disadari air mata yang sejak tadi dibendung seketika meleleh. Berulang kali Azra mengusap, tetapi air mata itu semakin deras. Melihat Azra menangis, Kakek Wijaya ikut sedih. Tangannya pun terulur untuk meraih bahu Azra dan langsung memeluk untuk menenangkannya.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Hapus air matamu! Jika kelak terjadi sesuatu tak diinginkan pada Delon, Kakek tidak akan menuntutmu untuk tetap berada disamping Alan. Anggap saja Alan bukan jodohmu. Kamu tak perlu memikirkan tentang perjanjian itu. Semua salah Alan. Bahkan Kakek tidak keberatan jika kamu akan menuntut Alan," ujar Kakek Wijaya sambil mengelus rambut Azra.
Azra yang merasa hidungnya telah berair, tak berpikir panjang dan langsung mengelapkan pada baju sang kakek hingga terasa keluar semua. Sang Kakek hanya menghela nafas kasarnya.
Beruntung saja kinerjamu sudah membuahkan hasil dan membuat bocah sialan itu melupakan dunia malamnya. Jika belum jangan harap dada ini bisa menyangga kepalamu. Jika bukan karena bocah sialan yang membuatmu menyerah, jangan bermimpi bisa mengusapkan ingusmu di bajuku. Kamu wanita hebat, Zra! Bahkan mendiang istriku saja tak pernah mengusapkan ingus di bajuku. Sungguh kamu wanita pertama yang berani melakukan itu padaku. gerutu Kakek Wijaya dalam hati. Meskipun berat, ia tak bisa memarahinya.
Azra yang tak kunjung diam membuat Kakek Wijaya terus berusaha untuk menenangkannya. Ia terus mengelus rambut Azra.
Disaat itu juga pintu kamar rumah sakit dibuka. Dua orang yang hendak masuk langsung terbelalak lebar saat melihat sang Kakek sedang memeluk tubuh Azra. Bahkan mereka bisa melihat jika kedua terlihat sangat mesra dengan tangan kakek yang mengelus rambut Azra.
"Astaga … apa ini?" pekik Mouza yang langsung menutup mulutnya.
Azra yang melihat sosok Mouza dan Alan yang berjalan mendekatinya, langsung menjauhkan tubuhnya dari kakek Wijaya.
"Jangan bilang Kakek ingin menusuk Alan dari belakang!" ujar Mouza lagi.
Azra langsung terbelalak mendengar ucapan Mouza langsung menggelengkan kepalanya. "Jangan salah paham dulu, Za! Ini tak seperti yang kamu lihat," ujarnya.
__ADS_1
Alan yang awalnya ingin melihat keadaan Delon, akhirnya berputar haluan dan memilih untuk keluar. Dadanya terasa berdenyut saat melihat Azra berada di dalam pelukan kakeknya.
"Alan!" panggil Azra. Namun, sayangnya Alan tak menghilangkan lagi panggilan Azra.
"Mouza, percayalah aku tak seperti yang kamu pikirkan! Kakek, ayo bicara, dan jelaskan kepada Mouza jika kita tak seperti tuduhan Mouza, Kek!" Azra memohon kepada kakek Wijaya untuk memberikan penjelasan kepada Mouza agar tak salah paham mengenai pelukan yang sempat mereka lakukan.
"Tak ada yang harus dijelaskan karena tidak ada apa-apa. Apakah hanya karena sebuah pelukan seseorang bisa memberikan tuduhan selingkuh? Tidak kan? Di sini aku berperan sebagai pengganti orang tua kalian, saat aku melihat kalian menangis, sudah menjadi tugasku untuk menenangkan kalian. Tidak semua pelukan itu mengarah pada perselingkuhan! Pikiran kalian saja yang terlalu negatif!" ujar kakek Wijaya dengan santai.
"Tuh, dengerin Za!" kata Azra.
"Aku denger kok. Tapi Alan gak denger, dia udah keburu kabur karena cemburu. Untuk saja yang kamu peluk itu adalah kakeknya sendiri. Kalau bukan, mungkin pria yang sedang memelukmu akan beri nasib bersama seperti Bang Delon." Mouza mende.sah kasar.
Karena tak ingin terjadi salah paham lagi kepada Alan, akhirnya Azra memilih keluar untuk mengejar Alan dan menjelaskan mengapa ia bisa iya bisa berada di dalam pelukan sang kakek. Dari mana jalan ceritanya Azra berselingkuh dengan kakeknya, sekalipun pasang kakek adalah seorang duda kaya raya. Azra masih normal dan waras untuk melabuhkan hatinya. Sesampainya di luar ya sudah tak melihat lagi gimana keberadaan Alan.
"Cepat banget sih tuh anak hilangnya? Apa coba yang dipikirkan? Masa iya bisa punya pikiran jika aku selingkuh dengan kakek, kan aneh!" gerutu Mouza.
Di dalam kamar tinggallah kakek dan juga Mouza. Mouza hanya menatap pria tua itu berjalan menghampiri sebuah sofa yang tersedia. Menyadari akan tatapan Mouza yang tak lepas membuat sang Kakek mendengus kasar.
"Apakah kamu masih berpikir jika Kakek sedang menusuk Alan dari belakang?"
"Masih sedikit, Kek!" ujar Mouza dengan jujur.
"Kamu jangan gila, Za! Mana mungkin Kakek akan menusuk Alan dari belakang untuk mengambil istrinya. Jika Kakek mau, Kakek bisa mencarinya sejak dulu bahkan yang lebih bohai. Tetapi Kakek tidak mau, dan tidak tertarik. Jadi buang pikiran kotor itu!" tegas Kakeknya.
"Abis Kakek terlihat mesra banget sama Azra. Siapapun yang melihat pasti akan berpikir seperti itu, Kek! Lagian ngapain sih peluk-peluk istri orang! Aneh deh Kakek!" protes Mouza.
__ADS_1
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...