Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Season 2 | Anakmu, Bukan Anakku


__ADS_3

Alan tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Reno, sehingga asisten pribadi Keanu itu mencari tempat yang sunyi hanya untuk berbicara. Jika bukan berita yang sensitif, tak akan mungkin Reno menghindar dari Keanu.


"Ada apa?" tanyanya setelah sampai di sebuah taman belakang rumah sakit.


"Nona muda sudah kembali dengan seorang anak perempuan," ujar Reno.


"Jika kamu hanya ingin mengatakan hal itu, aku sudah tahu. Bahkan anak perempuannya juga satu kelas dengan Kenza. Apakah aku harus terkejut dengan berita yang akan kamu berikan? Tidak, Bang! Aku sudah tahu," ujar Alan dengan tatapan kosong kedepannya.


Reno hanya bisa mende.sah kasar saat melihat raut wajah Alan yang sudah ditekuk. Ia tahu jika pertemuan tak terduga itu akan tak seperti yang ia inginkan. Bahkan Azra tak peduli lagi kerinduan yang dirasakan oleh Alan.


"Apakah Anda tahu jika anak perempuan itu adalah anaknya," tanya Reno.


Seketika mata Alan terbelalak dengan lebar. "Bang Reno bilang apa? Maksud Bang Reno, Elenna anakku?"


Kepala Reno mengangguk dengan pelan. "Benar Tuan. Dia adalah putri Anda."


"Darimana Bang Reno tahu kalau Elenna adalah anakku?" tanya Alan yang masih belum percaya dengan ucapan Reno.


"Tak perlu Anda tahu dari mana saya mengetahuinya. Yang jelas anak itu adalah anak Anda. Maaf jika selama ini saya telah menyembunyikan kebenaran yang sesungguhnya."


Karena merasa bersalah, Reno langsung menceritakan tentang apa yang ia ketahui. Bahkan selama delapan tahun lamanya Reno memantau keberadaan seseorang. Bahkan ia meletakkan mata-mata di kanan dan kiri target pantauannya.


Selama delapan tahun itu juga, Reno menyembunyikan rahasia besar dari Alan. Sebenarnya Reno tidak tega saat Alan hampir menjadi gila karena kehilangan Azra. Namun, sakit yang Azra rasakan tak mampu dibalut begitu saja dalam waktu yang singkat. Saat itu juga Azra terlanjur membenci dirinya sendiri dan juga membenci Alan yang tak bisa menerimanya, sekalipun dirinya bak ja.la.ng yang sedang menggoda pria hidung belang.


"Kenapa Bang Reno baru mengatakan sekarang? Apakah Bang Reno juga senang melihatku menderita?"


"Bukan begitu, Tuan. Ini semua keinginan Nona muda. Saya tidak bisa berubah apa-apa dan hanya bisa memantaunya dari kejauhan saja," jelas Reno.


"Apakah kakek juga mengetahuinya?"

__ADS_1


"Iya. Beliau yang menyuruh saya untuk terus mengawasi Nona muda. Mungkin Kakek hanya shock saat mendengar kabar jika Nona muda sudah kembali. Beliau sudah tidak sabar untuk menggendong anak Anda, Tuan."


Entah harus bahagia atau bersedih saat mendengar penjelasan Reno tentang Azra. Ia tidak percaya ternyata pergulatan satu malamnya dengan Azra langsung berbuah. Namun, jika benar itu adalah anaknya, mengapa Azra malah menjauh darinya?


🌸🌸


Malam yang sunyi terasa sangat panjang. Bahkan saat melihat sang kakek sedang terbaring diatas ranjang rumah sakit, Alan hanya bisa mende.sah berulang kali. Setega itukah sang kakek menyembunyikan keberadaan Azra selama hampir lebih 8 tahun. Bahkan sang kakek juga mengetahui jika sebenarnya telah melahirkan anak. Itu sebabnya kakek tidak mau disapa oleh malaikat Izrail sebelum bertemu dengan cicitnya.


Mentari pagi telah menyingsing. Mengusir gelapnya malam dengan cahaya terangnya. Alan mengerjap pelan saat ponselnya berdering. Dengan rasa malas, Alan mengangkat panggilan dari sang asisten yang mengatakan jika pagi ini ada meeting penting yang harus dihadiri olehnya.


"Suruh Bang Ke aja yang menghadiri. Hari ini aku tidak bisa datang ke kantor.".


"Tapi, Bos—"


"Tidak ada tapi-tapian!" Alan segera mematikan sambungan teleponnya.


"Mengapa Kakek lakukan semua ini kepada Alan? Bukankah Kakek tahu jika Alan hampir gila karena kehilangan Azra. Dan tanpa Alan ketahui ternyata Kakek selama ini mengetahui dimana Azra berada. Apa maksud Kakek?" tanya Alan pada sang Kakek.


"Beruntung saja Kakek sakit lagi sehingga Alan bisa mengetahui bangkai yang sedang Kakek sembunyikan. Jika Kakek tetap sehat, mungkin Alan tidak akan mengetahui jika ternyata Alan sudah punya anak. Dan ternyata Alan sudah bertemu dengannya. Pantas saja Alan merasa tidak asing saat pertama kali melihatnya," ujar Alan sambil mende.sah panjang.


Demi untuk menemui Azra, Alan rela meninggalkan rapat penting yang harus dihadiri. Ia ingin menjalankan rencana yang telah ia susun dengan Reno, berharap Azra mau membuka pintu hatinya lagi.


Baru saja hendak masuk ke dalam mobil, ponselnya kembali berdering. Kali ini panggilan dari Mouza. Dengan rasa malas Alan langsung mengangkat panggilan teleponnya.


"Ada apa?" tanya Alan dengan ketus.


"Lan, kamu dimana? Aku pusing menghadapi Eza. Dia gak mau mandi, gak mau sekolah bahkan dia gak mau makan." Mouza mengadu dari ponselnya.


"Lalu apa hubungannya denganku? Dia anakmu, bukan anakku!"

__ADS_1


"Tapi Eza maunya sama kamu, Lan. Aku harus bagaimana?"


"Mulai saat ini urus anak kamu, karena aku juga akan mengurus anakku sendiri."


Alan mende.sah kasar lalu mematikan panggilan teleponnya. "Dasar monster yang menyusahkan hidup orang saja," gerutunya.


Karena Alan sudah mengetahui dimana alamat rumah Azra, ia pun langsung meluncur ke rumahnya untuk segera bertemu dengan Azra. Kali ini Alan akan menggunakan sang Kakek sebagai alat untuk meluluhkan kerasnya hati Azra.


"Dia pikir aku akan percaya jika dia sudah mempunyai kehidupan baru. Baiklah, mari kita lihat seberapa kuat kamu bertahan," ucap Alan sambil mengemudikan mobilnya, tanpa ingin peduli kepada Kenza yang sedang membuat ulah di rumah orang tuanya. Mungkin mulai saat ini Alan harus membiasakan Kenza untuk bisa beradaptasi dengan Daddy dan Mommy.


"Kok jadi kasihan juga ya sama monster kecil itu. Pasti saat ini lagi ngurung diri di kamar mandi. Jadi gak tega juga," gumam Alan saat mengingat ucapan Mouza.


Perasaan bimbang menyelimuti hatinya. Antara ingin menemui Azra atau pulang ke rumah Keanu untuk mengurus Kenza terlebih dahulu. Dua-duanya terasa sangat berat, tetapi Alan sudah bulat dengan tekadnya untuk menemui Azra.


"Aku tahu kamu pasti kecewa dengan keputusanku, Za. Tapi Azra adalah hidupku. Aku sudah lama menunggunya. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini," ucap Alan dengan rasa berat.


Hanya dalam waktu 15 menit Alan telah sampai di rumah Azra. Namun, saat ingin turun dari mobil, matanya menangkap Azra yang hendak keluar dari rumah. Yang membuatnya mengurungkan niatnya untuk turun adalah sosok pria yang juga keluar dari rumahnya.


"Tunggu! Bukankah itu seperti Bang Angga." Alan berusaha untuk mempertajam penglihatannya. "Ya, tidak salah lagi. itu adalah Bang Angga. Ngapain dia disini? Masa iya kali ini aku ditikungan lagi.? Ini gak bisa dibiarkan!"


Saat Alan hendak turun untuk memberikan pelajaran kepada Angga, seklebat bayangan suram melintas di dalam pikirannya. Dimana saat dirinya sedang membabi-buta untuk mengajar Delon dan pada akhirnya pria itu meninggal.


"Tidak! Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang salah. Aku harus bisa mengendalikan emosiku." Alan mencoba untuk membuang nafas kasarnya. Jangan sampai emosinya hanya akan menghancurkan rencana yang telah ia susun.


"Baiklah, sabar. Orang sabar disayang mantan," ucapnya sambil mengelus dada.


...🌸🌸🌸...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2