Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 42 | Keanu Yang Aneh


__ADS_3

Mouza yang mendengar teriakan Keanu langsung berlari menuju kamar. Ia takut telah terjadi sesuatu pada suaminya.


"Ada apa, Bang?" tanya Mouza saat melihat Keanu yang telah berdiri di depan pintu kamar mandi.


Sambil menutup hidung Keanu menyuruh Mouza untuk membersihkan kamar mandi agar tak bau nenek-nenek yang sangat menyengat hidungnya. Mouza yang tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Keanu rasanya ingin menjerit.


"Bang, udah aku katakan kamar mandi ini gak bau apa-apa. Itu bau sabun yang sering Abang pakai!" tegas Mouza.


"Terserah! Aku tidak akan mandi disini sebelum bau nenek-nenek itu hilang!" ujar Keanu yang kemudian berlalu meninggalkan kamarnya.


Lagi-lagi Mouza hanya mende.sah pelan sambil mengelus dadanya. "Sabar, Za. Anggap aja ini ujiannya. Mungkin Bang Ke tertekan karena pekerjaan barunya." Akhirnya Mouza pun juga meninggalkan kamar.


Entah kemana Keanu perginya, Mouza tak ambil pusing karena ia harus segera sarapan dan pergi ke kampus.


Di meja sudah ada kakek Wijaya yang sudah siap untuk menunggu anggota keluarga untuk sarapan bersama. Meskipun saat ini ia sudah tak mengurus pekerjaan perusahaan, tetapi ia juga harus sarapan.


"Pagi Kakek," sapa Mouza dengan wajah yang berseri. Terlihat ada aura terang dari wajah Mouza sehingga membuat Kakek Wijaya membalas senyuman Mouza.


"Pagi juga. Dimana suamimu? Apakah dia belum bangun?"


"Bang Ke kayaknya lagi mandi, Kek. Tapi gak tahu mandi dimana," kata Mouza apa adanya, karena ia tak tahu kemana suaminya pergi.


"Kok gitu? Kalian lagi berantam?"


Mouza menggeleng. Lebih tepatnya Mouza sedang kesal pada Keanu karena dikatakan bau nenek-nenek, padahal aromanya sama seperti biasanya.


"Bang Ke aneh, Kek. Masa Mouza dikatakan bau nenek-nenek, padahal biasa aja baunya, Kek." Adu Mouza pada sang Kakek.


Mendengar cerita Mouza, kakek Wijaya tertawa pelan. "Mungkin dia sedang kesambet jin kantor sehingga hidungnya tersumbat. Sudahlah jangan dengarkan dia, aroma kamu wangi kok, gak seperti nenek-nenek," hibur Kakek Wijaya.


Senyum kecil terukir di bibir Mouza. "Mungkin dia juga kelelahan karena pekerjaan barunya, Kek." Mouza menimpali.


"Mungkin juga."


Tak lama suara derap langkah terdengar begitu nyaring. Mouza hanya mendengus kesal saat melihat siapa pelakunya, siapa lagi jika bukan suaminya.


"Siapa suruh duluan kesini?" tanya Keanu yang cepat. "Pasangkan dulu dasiku!"


Saat ini Mouza harus menyetok kata sabar untuk menghadapi Keanu yang mendadak berubah hanya dalam waktu satu malam. Padahal kemarin ia masih baik-baik saja.


"Menunduk sedikit, Bang!" pinta Mouza.


"Gak mau, kamu masih bau!"


Kakek Wijaya hanya menggeleng sambil membuang napas kasarnya. Sejak kapan sang cucu yang dingin tiba-tiba menjadi manja seperti ini seperti bukan Keanu yang sebenarnya.


"Udah." kata Mouza yang kemudian kembali ke tempat duduknya.

__ADS_1


Melihat makanan yang ada di meja makan Keanu mengernyit heran, karena semua menu adalah varian baru. "Siapa yang masak?" tanya Keanu.


"Aku," kata Mouza penuh percaya diri. Saat itu juga Keanu langsung mencicipi untuk memastikan bagaimana rasanya.


"Lumayan. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin kamu yang masak, Za?" tanya Keanu karena masakan Mouza sesuai dengan lidahnya.


"Kalau aku yang masak, terus kerjaan mbak Lili apa? Kan itu tugasnya mbak Lili, bukan tugasku," sanggah Mouza


Keanu hanya menganggukkan kepala dan langsung mengambil sarapannya, karena sebentar lagi ia akan berangkat kantor.


Baru saja ingin menyuapkan makanan ke dalam mulut, Alan dan Keanu. Saat itu juga selera makan Keanu langsung hilang. Entah mengapa saat melihat wajah Alan, tiba-tiba terasa kenyang.


"Lho, kenapa nggak jadi dimakan, Bang?" tanya Mouza heran, karena ke anu meletakkan lagi sendoknya.


"Liat Alan selera makan ku jadi hilang. Dan perutku terasa kenyang," ujar Keanu.


Alan hanya tersenyum sinis kepada Abangnya. Tanpa ambil hati iapun terlihat cantik untuk mengambil sarapannya. "Menu baru, nih," ucapannya.


"Iya. Aku yang masak. Cobain pasti nagih," ujar Mouza sambil mengembangkan senyum di bibirnya.


"Waoow, keren. Gue baru tahu kalau lo pinter masak. Gue cobain, ya." Alan bersemangat untuk mengambil lauk pauk yang ada di hadapannya. Saat itu juga sang kakek langsung berdeham, membuat Alan langsung terdiam.


Jangan ditanya lagi bagaimana panasnya dada Keanu saat melihat interaksi antara istrinya dan mantan kekasihnya. Ia pun merasa sangat aneh padahal sebelumnya ia sangat lapar, tetapi setelah melihat wajah Alan tiba-tiba laparnya hilang.


"Mau kemana, Bang?" tanya Mouza saat Keanu meninggalkan meja makan.


"Mau bersiap untuk kantor," jawabnya dengan ketus.


Sesampainya disana, ternyata Keanu menolak kehadiran Mouza dan mengatakan jika badannya masih bau nenek-nenek.


"Za, coba kamu mandi dulu di kamar tamu, biar hilang bau nenek-neneknya! Aku gak sanggup jika aroma tubuhmu seperti ini," ujar Keanu yang tetap ngotot jika aroma tubuh Mouza seperti nenek-nenek.


"Baru sehari menjabat sebagai pimpinan perusahaan, udah stress. Daripada aku mandi lagi mending aku berangkat kuliah. Bang Ke kan gak mau deket-deket sama aku, berarti pagi ini aku berangkat Alan, ya. Oh iya, aku juga udah siapin bekal Bang Ke, kali Abang nanti lapar." Mouza pun tanpa menyelami tangan Keanu langsung meninggalkan kamar.


"Oza! Siapa yang izinkan kamu berangkat bersama Alan? Za!" teriak Keanu yang berusaha untuk mengejar Mouza.


"Untuk kali ini aja, Bang. Aku ada kelas pagi. Daa ... Abang ku sayang .... " Mouza kemudian melemparkan ciuman jarak jauhnya.


Untuk kali ini Keanu tak bisa melarang Mouza untuk berangkat bersama dengan Alan. Ia bener-bener tak sanggup saat menghirup aroma tubuh Mouza yang membuat perutnya bergejolak. Tiba-tiba saja ....


Hueek ....


Keanu merasa mual dan langsung berlari menuju ke wastafel. Tak ada yang keluar, hanya cairan bening. Mbak Lili yang tak sengaja melihat Keanu muntah-muntah di wastafel segera menghampirinya.


"Mas Ke kenapa?" tanya Mbak Lili dengan panik.


Keanu hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Gak tahu, Mbak. Mungkin masuk angin karena tadi malam lembur," ujarnya.

__ADS_1


"Makanya kalau lembur itu jangan lupa pakai baju, Mas. Biar gak masuk angin."


"Sok tahu aja! Emang lembur apaan?" sentak Keanu.


"Lembur nyetak bayi, eh .... " Mbak Lili langsung menutup mulutnya karena kelepasan.


"Mbak Lili ngintip ya? Awas aja ntar bintitan, lho! Dahlah, bikin teh anget sana!" Keanu kembali menyentak mbak Lili.


Wanita tengah baya yang memilih dipanggil mbak Lili itu segera membuatkan teh hangat untuk Keanu. Mungkin karena beberapa hari terakhir ini cucu majikannya sibuk dengan pekerjaan barunya sehingga ia melupakan jadwal makannya.


"Nih diminum dulu. Udah Mbak kasih jahe merah untuk menghangatkan tubuh Mas Ke. Oh iya, jangan lupa bekal dari Istri tersayang udah ada diatas meja makan ya. Mbak mau nyuci."


Keanu acuh dengan ucapan mbak Lili. Namun, matanya fokus pada sebuah kotak bekal bertingkat sudah berada diatas meja.


"Mas iya pemimpin perusahaan bawa bekal warna pink?" Keanu tertawa pelan tetapi dalam hatinya ia merasa sangat bahagia.


Sementara itu di tengah jalan, Mouza meminta Alan untuk memberhentikan mobilnya. Ia tak ingin satu mobil dengan mantannya.


"Lo pikir gue seriusan mau berangkat satu mobil sama lo? Jangan ngarep! Berhenti!" pinta Mouza dengan ketus.


Alan yang merasa telah dipermainkan enggan untuk menuruti permintaan Mouza. Ia tetap mengajukan mobilnya.


"Lo dengar nggak, Lan? Oke kalau lo nggak mau berhenti, gue bisa lompat kok!" ancam Mouza. Saat itu juga Alan langsung menginjakkan rem secara mendadak, membuat Mouza menghantam dashboard.


"Sialan lo! Sakit tahu!" gerutu Mouza.


"Za, bisa gak sih lo itu gak usah galak-galak sama gue? Gue udah minta maaf dengan tulus, lho. Bahkan gue juga udah ikhlasin lo nikah sama Abang gue. Gue kurang apa agar lo bisa maafin gue, Za? Hah?!" bentak Alan yang tak bisa mengontrol emosinya.


Mouza yang awalnya bersikeras untuk keluar, tiba-tiba membeku di tempatnya. Selama menjalin hubungan bersama dengan Alan, sekalipun pria itu belum pernah membentak dirinya seperti hari ini. Bibirnya terasa kelu saat ingin mengatakan kata maaf karena telah memanfaatkan dirinya untuk memanasi Keanu yang sejak pagi mengatakan aroma tubuhnya sangat bau.


Saat menyadari jika mata Mouza telah berkaca-kaca, Alan mede.sah pelan.


"Sorry, Za. Gue lepas kontrol. Jika lo mau turun, turunlah!"


.


.


.


...πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•...


...BERSAMBUNG...


Baru nongol lagi, makasih yang udah tinggalin jejak di kolom komentar. πŸ’‹πŸ’‹


Selagi nungguin novel ini update kembali mampir dulu yuk ke novel teman aku judulnya

__ADS_1


PERNIKAHAN TANPA HATI, mampir ya



__ADS_2