
Tiga bulan menghilang tanpa kabar, akhirnya Azra menyerah dan menunjukkan sosok dirinya yang entah bersembunyi di mana selama ini. Dengan jantung yang berdebar, Alan menuju ke sebuah cafe tempat yang telah dipesan oleh Azra.
Kali ini Alan sudah menyadari akan perasaannya dan ingin memperbaiki apa yang telah hancur. Ia sudah bertekad ingin mengajak Azra untuk membina sebuah keluarga seperti apa yang diinginkan oleh Kakeknya.
"Iya, gue harus mengatakan kalau gue cinta sama dia dan gue juga membawa Azra pulang," ucap Alan sebelum masuk kedalam cafe.
Mata Alan celingukan untuk mencari keberadaan Azra. Tiga bulan berpisah, membuatnya gugup saat melihat wajah barunya Azra yang terlihat lebih cerah bahkan tubuhnya juga sedikit berisi. Mungkin setelah menghilang Azra merasa lebih bahagia, pikirnya.
"Haii …," sapa Alan setelah menemukan keberadaan Azra disebuah meja.
Dengan senyum yang mengembang di bibir, Azra menyambut kedatangan Alan.
"Haii juga! Silahkan duduk!"
Alan mengangguk dan langsung menarik sebuah kursi yang ada di depan Azra.
"Kamu apa kabar, Zra? Sekarang tinggal dimana, mengapa nomor teleponmu tak bisa dihubungi?" tanya Alan tanpa jeda.
Azra hanya tersenyum tipis. "Kabar aku baik, Lan. Aku sengaja menonaktifkan nomor teleponku karena sedang ingin menenangkan diri. Sudahlah, ada yang ingin aku katakan kepadamu, tapi nanti ya! Karena saat ini aku sedang penasaran dengan menu di cafe ini. Ini adalah cafe yang baru buka beberapa hari yang lalu. Katanya sih menunya lain daripada yang lain," ujar Azra dengan senyum tipis dibibirnya.
Sungguh Alan merasa sangat grogi. Bahkan detak jantungnya berdetak dengan kuat. Sesekali ia melirik ke arah Azra yang sedang membaca buku menu yang telah disediakan. Tak lama ia memanggil seorang pelayan.
"Kamu mau pesan apa, Lan?" tanya Azra santai.
Alan terpana dengan pesona Azra yang menurutnya semakin cantik, bahkan dengan pakaian feminim, tak seperti Azra yang terkesan tomboy.
"Lan," panggil Azra kembali.
"Ah, iya. Ada apa, Zra?"
Azra mende.sah pelan. "Kamu mikirin apa sih? Tenang aja, kita gak lama kok. Tapi sebelum ke intinya, kita makan dulu ya. Aku udah lapar. Jadi kamu mau pesan apa?" Azra bertanya kembali.
Bukan hanya penampilannya saja yang berubah, tetapi gaya bahasa Azra juga terdengar lebih lembut, membuat jantung Alan berdicoan layaknya musik DJ.
"Aku ngikut kamu aja," ucap Alan.
__ADS_1
"Oke." Azra pun akhirnya memesan dua porsi menu yang sama untuk Alan.
Sebisa mungkin Alan berusaha untuk menetralkan detak jantungnya yang tak bisa dikondisikan. Bahkan sejak tadi dirinya sangat gugup untuk menjawab pertanyaan Azra.
"Tiga bulan tidak bertemu, kamu semakin terlihat dekil atau hanya mataku saja yang rusak ya," kata Azra yang menyadari penampilan Alan tak cool seperti beberapa bulan sebelum mereka berpisah.
"Mata kamu gak salah kok, Zra. Aku memang seperti ini. Mungkin karena jarang mandi," seloroh Alan.
"Ih, jorok!"
Suara dan wajah yang sangat dirindukan akhirnya bisa didengar dan dilihat. Ingin sekali Alan memuji perubahan Azra, tetapi bibirnya terasa kelu.
"Bagaimana, enak?" tanya Azra setelah Alan menghabiskan menunya.
Kepala Alan mengangguk pelan dan berkata, "Iya, enak."
"Kamu kenapa sih Lan, aku perhatikan dari tadi seperti nggak semangat. Apakah ada masalah? Apakah kamu dituntut oleh salah satu ulat bulu untuk bertanggung jawab? Ah, sudahlah aku ke sini tidak akan membahas urusanmu. Kedatanganku kali ini hanya untuk menyelesaikan hubungan kita yang masih menggantung. Karena pernikahan kita tidak ada rasa cinta, lebih baik kita berpisah. Ini adalah surat gugatan perceraian kita." Azra menyerahkan sebuah amplop putih kepada Alan.
Alan sangat terkejut dengan ucapan Azra. Mata Alan terbelalak dengan jantung yang masih berdetak dengan kencang. Ia benar-benar tak percaya jika ada mampu mengajukan gugatan perceraian. Dengan kepala menggeleng Alan tidak setuju.
Azra masih tersenyum tipis menatap Alan. "Ini serius, Lan! Aku tidak bercanda. Tidak baik untuk menggantungkan sebuah hubungan. Kita menikah karena terpaksa. Bahkan tak ada cinta di antara kita. Lalu untuk apa dipertahankan? Pernikahan yang tak dilandasi engan cinta, hanya akan menyakiti hati, Lan! Kamu dan aku butuh kebahagiaan. Dan keputusanku berpisah adalah, aku tak ingin mengikatmu dalam pernikahan setingan ini, Lan. Kamu perlu bahagia bersama dengan orang yang kamu cintai. Begitu juga denganku."
"Tidak! Aku tidak mau berpisah denganmu, Zra! Aku cinta sama kamu. Aku ingin kita memulai hubungan kita dari nol. Please Zra! Jangan berpisah."
Azra terbelalak dengan pengakuan Alan yang mengatakan kata cinta untuknya. Akhirnya apa yang ia inginkan sejak dulu bisa ia dengar. Namun, sayangnya Azra sudah tak menginginkan kata cinta dari Alan. Dan berpisah adalah keputusan bulatnya.
Dengan garis bibir yang diangkat Azra berkata, "Terima kasih sudah mencintaiku, Lan. Aku juga mencintaimu, tapi itu dulu sebelum hatiku mati."
"Maksud kamu apa, Zra?" tanya Alan dengan kedua alis yang menaut.
"Dulu aku pernah berjuang untukmu dan berharap kamu akan membalas cintaku. Namun, nyatanya kamu mematahkan semua harapanku. Saat aku sedang rapuh atas kepergian Bang Delon, kamu sama sekali tak peduli denganku, tak peduli dengan perasaanku. Bahkan saat aku pergi, kamu tak berusaha untuk mencegahku. Sampai detik ini bayangan itu masih terekam jelas dalam ingatanku, Lan. Semua sudah terlambat. Jika saat ini kamu mencintaiku, aku sangat berterima kasih kepadamu, tapi maaf aku tidak bisa membalas cintamu," ujar Azra dengan mata yang terasa panas.
Alan benar-benar tidak terima dengan keputusan Azra yang sepihak. Bahkan ia juga telah meminta maaf dengan tulus agar Azra memaafkan semua keegoisannya dan bersumpah tak akan menyia-nyiakannya lagi, tetapi percuma karena Azra tetap dengan pendiriannya yaitu menginginkan perpisahan.
"Zra, aku harus bagaimana agar kamu bisa menerima perasaanku saat ini. Aku benar-benar cinta sama kamu. Aku mohon, kita bangun lagi puing-puing yang telah runtuh agar bisa menjadi sebuah bangunan yang kokoh, ya. Please, Zra!" Alan terus memohon agar Azra membatalkan gugatan perceraian mereka. Namun, kali ini Azra tidak bisa mengabulkan permintaan Alan dan sudah siap untuk mengakhiri pernikahan mereka.
__ADS_1
"Maaf Lan! Aku gak bisa. Aku harap kamu bisa menghargai keputusanku, sebagaimana aku menghargai semua keputusanmu. Sepertinya pertemuan kita cukup sampai di sini." Asra segera beranjak dari hadapan Alan.
"Zra!" panggil Alan untuk menghentikan langkah Azra. Namun, Azra acuh tak peduli.
Percuma saja Alan meyakinkan Azra jika wanita itu sudah tak memiliki perasaan lagi kepada dirinya. Ingin sekali Alan meluapkan emosinya pada piringan dan gelas yang berada dihadapannya, tetapi ia mencoba untuk meredamnya. "Alan sabar."
Patah hati untuk kedua kalinya, sungguh sangat menyakitkan. Bahkan saat ini rasanya Alan ingin tenggelam di dasar laut agar merasakan bagaimana sakitnya patah hati. Mungkin ini adalah karma atas apa yang telah diperbuat selama ini.
"Kenapa? Kenapa saat aku sudah mulai jatuh cinta, kamu malah tak mencintaiku Zra? Kenapa? Kamu pikir aku akan datang dalam persidangan itu? Tidak! Aku tidak akan pernah datang!" Tangan Alan langsung merobek amplop coklat yang belum ia baca. Setelah puas, ia pun juga berlalu.
Azra yang belum sepenuhnya meninggalkan cafe hanya bisa membuang nafas beratnya. Karena sebuah rasa kecewa, Azra mampu menutup pintu hatinya saat Alan sudah sadar akan perasaan.
"Maaf Lan, cintamu telah membunuhku."
🌸🌸
Alan yang sedang patah hati hanya bisa melampiaskan kekecewaannya pada minuman kaleng yang mengandung alkohol. Bahkan Angga dan Jio selaku penghuni basecamp merasa sangat heran. Saat pergi terlihat sangat berseri-seri, tetapi saat pulang terlihat sangat hancur.
"Lo kenapa lagi, Lan?" tanya Angga dengan heran.
"Gue gak tahu gimana ngadepin perempuan. Saat gue udah cinta, pasti gue ditinggalkan," ujar Alan dengan frustasi.
"Dulu gue diputusin Oza karena ketahuan kuda-kudaan sama Mili, sekarang gue ditinggalkan Azra karena kebodohan gue yang gak mengakui perasaan gue!" kata Alan sambil menenggak kandas minumannya.
"Kalau udah masalah cinta, gue gak ikut-ikutan. Gue gak tahu, karena gue gak pernah jatuh cinta. Coba lo berkonsultasi sama Bang Ke, kali aja dia punya solusinya. Lihat aja Mouza makin lengket!" saran Jio.
Sepercik harapan itu telah sirna. Cintanya untuk Azra bertepuk sebelah tangan. Mungkinkah ini karma atas apa yang telah ia lakukan pada Azra kala itu. Seperti inikah rasanya cinta terabaikan?
"Arrgghh! Lo liat aja, Zra! Gue akan buat lo jatuh cinta lagi sama gue dan gak bisa untuk ninggalin gue! Liat aja nanti!" racau Alan dalam keadaan setengah sadarnya. Angga dan Jio hanya membuang nafas kasarnya, ternyata benar, patah hati mampu membuat orang gila.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
Oh, iya syarat dapat dapat pulsa @20 aku pilih dari segi keaktifan kalian kasih komen ya ☺️ Kalau peminatnya banyak, aku tambah slot jadi 10 orang. Semoga beruntung yang sering komen Novel ini ☺️ Ini cuma seru-seruan aja ya, sebagai rasa terimakasih othor pada pembca setia novel ini ☺️
__ADS_1