
Karena kepala Mouza masih terasa pusing, ia memutuskan untuk beristirahat di kamar. Mood-nya kembali rusak karena mulut Keanu yang tak bisa dikondisikan. Bisa-bisanya mulut sang suami mengatakan jika Alan akan menidurinya. Istri mana yang tak akan kesal dengan ucapan seperti itu.
"Ini kepala kenapa masih berdenyut, sih?" gerutu Mouza. Terlebih saat ini perutnya juga terasa mual. Sudah beberapa kali ia keluar masuk kamar mandi hanya untuk mengeluarkan rasa yang bergejolak di dalam perutnya.
Keanu yang baru masuk mengernyit saat melihat wajah Mouza terlihat pucat.
"Za, kamu kenapa?"
"Gak tahu, Bang. Perut aku mual. Mungkin masuk angin karena tadi malam gak ada yang kelonin," ujar Mouza.
"Makanya jangan nyuruh suami tidur diluar, kan kedinginan gak ada yang ngangetin. Sini aku kerok biar keluar anginnya."
Mouza pun pasrah saat Keanu hendak mengerok dirinya. Menurut kepercayaan, mengerok punggung ketika sedang masuk angin bisa mengeluarkan angin yang sudah bersarang di dalam tubuh.
Dengan telaten Keanu mengerok punggung Mouza.
"Za, kapan terakhir aku nyetak kuping, ya? Kayaknya udah lama deh," celoteh Keanu tiba-tiba.
"Baru juga dua Minggu yang lalu. Udah deh nggak usah belok pikirannya. Aku tuh lagi gak enak badan," ujar Mouza.
"Bukan gitu, Za. Bisa aja karena aku gak ngelanjutin nyetak kuping, para kecebong yang lagi ngeram di dalam perutmu pada protes sehingga kita demam secara bersamaan."
"Dih, pikiran Bang Ke selalu aja mesuuum, deh!"
Keanu tertawa pelan. Jika tidak mengingat Mouza sedang sakit, mungkin saat ini ia akan melanjutkan untuk mencetak kuping, bahkan mencetak kaki untuk kecebongnya. Tangan Keanu pun tak tinggal diam. Perlahan mulai mengelus perut Mouza yang masih datar.
"Kayaknya perutmu nggak ada perkembangan deh, Za. Perasaan datar mulu. Kayaknya harus sering di dijenguk biar cepat besar," ujar Keanu dengan senyum smirk.
"Gak usah modus deh, Bang! Gimana mau besar kalau baru bulan! Besok kalau 9 bulan awas kalau di protes ya! Dah, ngerok yang bener, biar cepat sembuh terus dapat service!"
Mendengar kata servis membuat Keanu semakin bersemangat untuk mengerok punggung Mouza. Bahkan tanpa diminta Keanu memberikan pijatan ke tubuh Mouza, berharap sang istri cepat sembuh.
.
.
Alan yang baru saja ingin pulang merasa terkejut karena diangkut paksa oleh beberapa untuk masuk ke dalam sebuah mobil. Alan tak bisa memberontak karena tenaga pria yang mengangkutnya sangat kuat. Setelah sampai di dalam mobil Alan terkejut saat melihat Reno yang berada di dalam mobil.
"Bang Reno," lirih Alan.
__ADS_1
"Maafkan kami, Tuan muda. Kami hanya menjalankan perintah," ucap Reno.
Alan mende.sah pelan. Ia sudah tahu jika ini adalah ulah kakeknya.
"Sepertinya pria tua itu sedang ingin memberikan kejutan untukku. Kejutan apa itu Bang Reno?" tanya Alan datar.
"Saya kurang tahu pasti, Tuan. Karena tugas saya hanya untuk membawa Anda ke sebuah tempat."
Alan langsung muka. Percuma saja ia bertanya kepada Reno, karena pria itu tak akan mau untuk berterus terang kepada dirinya, karena dia adalah tangan kanan sang kakek.
Lima belas menit mobil yang ditumpangi Alan telah sampai di sebuah butik. Alan hanya mengernyit saat Reno menyuruhnya untuk turun.
"Kita mau ngapain kesini, Bang?" tanya Alan heran.
"Saya tidak tahu, Tuan. Saya hanya diberi perintah untuk membawa Anda ke tempat ini karena di dalam sudah ada Tuan besar," ujar Reno.
"Kakek ada di dalamnya?"
Karena tak sabar, Alan segera masuk kedalam butik untuk mencari kakeknya. Benar saja matanya menangkap pria tua berambut putih sedang duduk di sebuah sofa dengan seorang wanita cantik, yang tak tahu siapa dia.
"Kakek," panggil Alan.
"Nah, ini anaknya sudah datang," ujar kakek Wijaya dengan raut wajah yang berbinar. "Duduklah!"
Dengan patuh Alan duduk di sofa yang berseberangan dengan kakeknya. Sorot matanya terlihat tajam saat wanita yang ada di samping sang kakek. Ia sudah bisa membatin jika wanita itu adalah wanita yang hendak dijodohkan dengan dirinya.
"Sebagai calon pasangan suami istri kalian harus perkenalan terlebih dahulu agar saling mengenal," ujar sang kakek.
"Alan, perkenalkan ini adalah Azra, calon istrimu. Kakek sengaja menculikmu kesini untuk melakukan fitting baju yang akan kalian gunakan di hari pernikahan kalian nanti. Azra seperti inilah model calon suamimu nanti, jadi kamu nggak usah terkejut jika nanti dia dingin terhadapmu. Kalau nanti dia akan dingin terus-menerus maka kamu harus menghangatkan dia agar mencair," lanjut kakek Wijaya lagi.
"Kakek tenang saja aku pasti bisa mencairkan kulkas dingin ini dengan kehangatan tubuhku," kata Azra sambil memainkan satu matanya ke arah Alan.
Alan hanya merasa geli, mengapa bisa biasanya sang kakek menjodohkan dirinya dengan wanita murahan seperti Azra.
"Baiklah, kakek percaya denganmu."
Alan hanya pasrah tak ada perlawanan. Bahkan tanpa kata ia mengikuti instruksi dari kakeknya untuk mencoba beberapa jas yang akan digunakan di hari pernikahannya.
Saat ini bukan waktunya untuk melawan sang kakek. Jika sang kakek bisa berbuat sesuka hatinya, maka ia pun juga bisa berbuat sesuka hatinya. Dalam hati ia telah berjanji akan membuat hidup Azra tak tenang sehingga Azra tidak sanggup untuk menghadapinya dan memilih untuk menyerah.
__ADS_1
Kelicikan juga harus dibalas dengan kelicikan. Bukankah lebih seru jika bisa membuat hidup orang lain sengsara? Kita lihat saja nanti, seberapa kuat lo bisa melawan gue, karena gue akan memastikan jika lo takkan pernah sanggup untuk melawan gue. batin Alan
Hampir satu jam Alan dan Azra melakukan fitting baju pengantin. Keduanya tak lepas dari pantauan sang kakek. Jika Alan hanya mencoba beberapa jas saja, tetapi tidak Azra yang harus mencoba berkali-kali. Padahal semua baju terlihat sama di mata Alan, tetapi sang Kakek tak juga merasa puas dengan baju yang dicoba oleh Azra.
"Gak sekalian aja suruh wanita itu mencoba semua pakaian yang ada di sini, Kek?" tanya Alan yang sudah merasa bosan karena sang kakek belum merasa pas dengan gaun yang dicoba oleh Azra.
Kakek Wijaya hanya mende.sah dengan pertanyaan Alan. "Dasar pria tak tahu selera. Taunya cuma ikan asin! Buka matamu lebar-lebar, ini bukan ikan asin!"
Perdebatan kecil itu akhirnya terputus ketika sosok Azra keluar dengan menggunakan gaun yang kesekian kalinya. Kali ini sang Kakek terkesima oleh penampilan Azra yang dianggap sangat sempurna. Bahkan Alan saja juga sempat terbelalak dengan gaun yang dikenakan Azra kali ini.
"Bagaimana, Kek?" tanya Azra.
Sang kakek mengacungkan kedua jempolnya. "Perfect," ujarnya.
Azra tersenyum puas. Akhirnya selesai juga pemilihan baju untuk hari bahagianya nanti. Ternyata fitting baju pengantin tak seperti yang ia pikirkan yang sekali coba langsung jadi. Selera orang kaya memang berbeda, batinnya.
"Oh iya, malam ini Kakek juga sudah menyiapkan gala dinner untuk kalian berdua." Sang Kakek tersenyum kearah Alan. Ia yakin jika Alan pasti akan setuju.
"Jangan berpikir untuk kabur, karena setelah ini kamu akan dikawal ketat oleh anak buah kakek. Jika kamu sampai kabur, kamu tahu kan konsekuensi yang harus kamu tanggung? Bukan hanya pemecatan dari daftar anggota keluarga, tetapi juga putus hubungan kita." Lagi-lagi kakek Wijaya tersenyum smirk kearah Alan.
Saat Alan diancam oleh sang kakek, sorot matanya pun terlihat semakin tajam saat melihat kearah Azra.
Aku jadi semakin tertantang untuk melumpuhkan kearoganan pria ini. Kita lihat saja nanti episode selanjutnya. Azra tertawa pelan dalam hati.
.
.
...π₯π₯π₯...
...BERSAMBUNG...
Moon maaf kalo di setiap bab ada typo nya. Padahal sebelum up udah aku teliti, tapi tetap saja masih ada typo π kalau kalian menemukan typo bantu ingatkan Author, dong. Kadang mata Author sliwer π€§
selagi menunggu novel ini update kembali mampir dulu ya ke novel teman Author
Judul Novel : Nikahi Aku, Pak Dosen
Author : Aveei
__ADS_1