Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 77 | Malam Untuk Alan


__ADS_3

Sepeninggal Mouza, Alan dan Azra sama-sama acuh. Keduanya memilih untuk menikmati makan malam yang telah tersaji di atas meja. Bagi Azra kapan lagi bisa menikmati makanan mewah bintang sepuluh.


"Dasar cewek bar-bar. Kampungan!" cibir Alan saat melihat Azra makan layaknya seorang gelandangan.


"Gak papa kampungan, yang penting kantong tebal," kekeh Azra.


Melihat cara makan Azra saja sudah membuat Alan merasa kenyang. Akhirnya Alan memilih untuk meminum air putih yang ada didepannya.


"Entah mimpi apa gue, bisa-bisanya kakek tua itu nikahin gue sama cewek bar-bar seperti ini," gerutu Alan dengan perasaan yang teramat kesal.


"Kok rasanya lainnya, ya?" kata Azra yang baru saja meminum air minumnya.


"Bukan lain, tapi lidah lo aja yang gak terbiasa minum air putih restoran bintang sepuluh," timpal Alan.


Azra tak memperdulikan air putih yang baru saja ia minum. Mungkin benar kata Alan jika lidahnya belum terbiasa dengan air putih di restoran bintang 10, yang rasanya tidak senang dengan air putih biasa.


Lima menit kemudian Alan mendadak merasa sangat gerah. Bahkan Alan sempat memprotes kepada seorang pelayan untuk menambah suhu ruangan. Namun, sang pelayan mengatakan jika suhu ruangan berada dalam suhu normal.


"Panas banget sih," gerutu Alan.


Ternyata bukan hanya Alan saja yang merasa gerah. Detik selanjutnya Azra juga merasakan hal yang sama seperti Alan. Tubuhnya terasa gerah dan panas meskipun berada didalam ruangan ber AC.


"Eh, kok tiba-tiba kepalaku pusing ya," kata Azra merasakan matanya telah berkunang-kunang.


"Kepala gue juga pusing. Jangan-jangan kita lagi dikerjain sama Oza," kata Alan.


"Bisa jadi. Harus dikasih pelajaran tuh anak!" timpal Azra dengan kepala yang semakin terasa berat.


Begitu juga dengan Alan yang suhu tubuhnya sudah semakin panas dan kepala yang terasa berat. Saat ingin meninggalkan meja makan, ia melihat Azra yang sudah meletakkan kepalanya di atas meja.


"Cih, bikin repot aja! Azra, ayo pulang!"


Tak ada jawaban dari Azra, tetapi Alan bisa melihat jika tangan Azra sedang membuka kancing kemeja yang dikenakan.


"Lo jangan gila!" Alan langsung mencegah tangan Azra yang hendak membuka kancing kemejanya lagi.


"Gerah banget. Sepertinya aku butuh kolam renang, deh. Berendam dulu yuk!"


"Jangan bodoh! Ayo pulang!" Terpaksa Alan menyeret Azra untuk meninggalkan meja mereka. Dalam langkah sempoyongan Azra tak bisa mengontrol dirinya sendiri.


"Lan, kenapa aku gak boleh buka baju. Panas sekali ini!" racau Azra.


"Dasar cewek gak tahu malu!" Meskipun Alan juga merasakan hal yang serupa dengan Azra, tetapi ia mencoba untuk waras. Jika dirinya tak bisa mengontrol kewarasan, entah apa yang akan terjadinya.

__ADS_1


"Liat aja, Za! Gue bakalan bales perbuatan lo malam ini," batin Alan.


Baru saja Alan dan Azra keluar dari restoran, seorang sopir telah menyambut keduanya.


"Selamat malam, apakah benar dengan Tuan Alan? Saya diutus untuk menjemput Anda," katanya.


Sebuah kebetulan untuk Alan jika ada yang mengantarnya pulang, karena saat ini dirinya tidak akan bisa berkonsentrasi untuk menyetir mobil.


"Baguslah jika mereka masih memikirkan jalan kami pulang. Awas saja setelah ini gue gak bakalan maafin mereka. Cewek bar-bar, lo masih waras kan?" Alan menoleh kebelakang dan melihat jika Azra sudah membuka dua kancing kemejanya.


"Dasar cewek bar-bar gak tahu malu." Dengan cepat Alan menarik tangan Azra untuk masuk ke dalam mobil.


"Ih, sakit tahu!" protes Azra.


Sebenarnya sang sopir merasa kasihan kepada pasangan yang harus diantar ke sebuah tempat. Namun, itu semua sudah menjadi konsekuensinya sebagai seorang supir.


"Sepertinya kalian berdua telah mengkonsumsi vitamin bergairah. Seharusnya kalian bisa mengkonsumsinya di rumah," celetuk sang sopir setelah menjalankan mobilnya.


"Sembarang! Jika kami tidak dijebak, tidak mungkin kami akan meminum ramuan setan seperti itu disini! Sudah jalankan mobilmu dengan cepat! Lihatlah, cewek bar-bar ini sudah kehilangan kewarasan. Jika bukan aku yang berada disampingnya, mungkin saat ini cewek ini sudah menjadi mangsa lunak pria hidung belang!" ujar Alan yang juga terasa kepanasan.


"Kalau begitu minumlah ini. Semoga bisa meredakan gerah kalian." Sang sopir langsung memberikan dua botol air mineral kepada Alan. "Minumlah sampai habis agar kalian merasa tidak kepanasan lagi!"


Maafkan saya Mas Alan. Saya hanya menjalankan tugas dari Tuan Wijaya. Beliau berkata semua ini demi kelangsungan hidup Anda. Saya tidak tahu, demi membuat pengantin baru main bola, mereka memilih cara seperti ini. Apakah Anda tidak tertarik bermain bola bersama dengan istri Anda? Kalau saya yang menjadi suaminya, gak usah dipancing saya akan cetak gol berkali-kali. Anda memang aneh, Tuan. Batin sopir yang tak lain adalah orang kepercayaan kakek Wijaya.


Tanpa pikir panjang, Alan pun meminum air yang diberikan oleh sang sopir. Berharap jika gerahnya akan hilang.


Tanpa banyak kata, Azra langsung mengambil dan menenggak tandas air yang dalam botol itu.


"Lan, ini bukan air minum biasa. Air ini rasanya sama seperti air didalam tadi," ujar Azra.


"Itu menurut lidah kampungan lo!" Alan tak mempercayai ucapan Azra yang dianggap kampungan.


Namun, memang ada yang aneh. Setelah beberapa saat tubuh Alan malah kian panas. "Kok malah makin gerah ya, Pak?" tanya Alan yang yang kini mencoba untuk menahan gejolak dalam dirinya.


"Mungkin karena efek minum penambahan gairah. Tenang saja, ini tidak akan berpengaruh apa-apa, asalkan Anda bisa melampiaskannya. Begitu juga dengan istri Anda. Saat ini kalian berdua sedang dalam pengaruh minuman bereksperimen. Semoga stamina kalian seperti kuda liar," ucap sang sopir yang membuat mata Alan membuka lebar.


"Jadi minuman tadi juga mengandung ramuan kuda perang? Argh … sial! Gue bener-bener sedang di jebak!"


Tak berapa lama, mobil yang ditumpangi oleh Alan sudah sampai di sebuah hotel berbintang lima belas, dimana hotel termewah se-nusantara. Terlihat ada beberapa staf karyawan yang sudah menunggu kedatangan Alan.


"Sudah sampai. Untuk malam ini Anda menginap saja di Hotel agar tak membuat kekacauan di rumah utama."


Saat ini Alan dan juga Azra sudah kehilangan kesadaran. Keduanya dipapah masuk kedalam oleh staf yang telah diutus oleh kakek Wijaya.

__ADS_1


"Apakah masih lama sampai di kamar?" tanya Alan yang masih setengah sadar.


"Sebentar lagi, Tuan. Sesuai dengan permintaannya Tuan besar, kamar Anda ada di lantai paling puncak."


"Jadi kalian mau menempatkanku di rooftop?"


"Bukan begitu, Tuan. Maksud kami, kamar untuk Anda ada di lantai paling tinggi di hotel ini. Semoga Anda merasa puas."


Tak berapa lama pun dua orang staf telah mengantarkan Alan dan juga Azra ke kamar yang paling istimewa. Kamar menara hotel tersebut.


Saat masuk ke dalam kamar, tubuh Azra langsung dibaringkan di ranjang, begitu juga dengan Alan. Setelah memastikan kedua tamunya sudah aman, kedua staf itu langsung meninggalkan kamar yang ditempati oleh Alan.


Azra yang sejak tadi merasa gerah akhirnya bisa membuka kemejanya, begitu juga dengan Alan.


"Lan, tambahin Acnya!" perintah Azra.


"Lo siapa, berani nyuruh-nyuruh gue? Ogah!" ketus Alan.


"Lan," panggil Azra.


"Hmm."


"Sepertinya semua ini sudah ada yang merencanakannya. Mereka sengaja ingin membuat kita menghabiskan malam berdua. Daripada menyiksa diri, mending kita habiskan saja malam panjang ini," saran Azra setengah sadar.


"Naj.is menghabiskan malam sama lo! Mending gue berendam di kamar mandi!"


Azra langsung membalikkan tubuhnya untuk manahan Alan agar tak beranjak pergi. "Gak bisa! Semua ini gara-gara keluargamu. Jika bukan iming-iming hidup yang layak, aku gak mau nikah sama kamu, terlebih kamu bekas para ulet bulu. Sungguh aku tidak rela, tetapi uang Kakek menyilaukan mataku. Kamu gak tahu kan bagaimana rasanya harus me.meras keringat untuk mendapatkan sesuap nasi? Saat Kakek Wijaya datang kepadaku dan mengatakan ingin menjamin kehidupanku, aku langsung menyetujuinya, meskipun aku tahu jika aku harus mendapatkan bekas para ulat bulu yang sudah menjamah tubuhmu." Azra meracau dengan tangan yang menahan lengan Alan.


Pria mana yang sanggup untuk menahan gejolak dalam hati ketika ia sudah terpengaruh oleh minuman perangsang. Bukan Alan tidak ingin melampiaskan hasilnya kepada Azra, tetapi ia mencoba untuk membentengi dirinya sendiri agar tidak menyentuh Azra.


"Anggap saja saat ini diriku adalah ulat bulu yang selalu memuaskanmu. Malam ini kamu harus menjadi milikku untuk selamanya." Azra langsung menarik tangan Alan agar kembali ke tempat tidurnya.


"Zra, lo mau apa?" Alan berusaha untuk menyingkirkan tubuh Azra yang telah menindih tubuhnya.


"Diam saja. Malam ini aku akan memuaskanmu layaknya para ulat bulu memuaskanmu."


Alan yang sudah tidak kuat untuk menahan hasratnya hanya pasrah ketika Azra telah melumpuhkan dirinya. Karena sudah berada di ubun-ubun, Alan segera membalikkan tubuh Azra.


"Jangan salahin gue, karena lo yang minta!"


.


.

__ADS_1


...πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•...


...TERSAMBUNG...


__ADS_2