Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Season 2 | Kembali Pulang


__ADS_3

Kebahagiaan kecil kini sedang dirasakan oleh Alan. Ditengah-tengah sang Kakek yang sedang menunggu jemputan malaikat, dirinya bisa malah merasa bahagia karena bisa menanggapi Azra kembali kedalam pelukannya. Kini Alan berjanji akan mencintai Azra segenap jiwa raganya dan melupakan bayang-bayang kisahnya dengan Mouza.


Cinta pertama memang begitu sulit untuk dilupakan, terlebih pernah memberikan sebuah luka. Meskipun telah hidup bahagia, tetap akan membekas di hati.


Setelah berhasil menggenggam Azra kembali, Alan langsung membawa anak dan istrinya untuk pulang. Bersama dengan itu sang Kakek pun juga ikut pulang karena kondisinya sudah stabil setelah berhasil melihat, bahkan memeluk Ellena, cicit keduanya. Bahkan Kakek Wijaya telah menyiapkan sebuah warisan untuk Elenna.


"Zra, terima kasih telah mau untuk kembali pulang," ujar Alan sesampainya di rumah.


Azra yang mendorong kursi roda kakek Wijaya, tersenyum tipis saat kakinya melangkah kembali ke rumah yang telah lama ditinggalkannya. Tak ada sedikitpun bangunan itu yang berubah. Bahkan masih sama persis seperti pada delapan tahu yang lalu.


"Ini serius rumah Daddy?" tanya Ellena yang merasa takjub akan kemegahan rumah Alan.


"Bukan. Ini adalah rumah Tuan Wijaya. Rumah ini tidak akan diberikan kepada siapa-siapa, kecuali Tuan Wijaya mengubah lagi wasiatnya," ujar Alan.


"Tuan Wijaya itu siapa?" Ellena bertanya lagi.


"Elen!" sentak Azra.

__ADS_1


"Sudah gak usah ribut. Ellen, kemarilah!"


Ellena yang berjalan di samping Mommy-nya langsung maju ke depan. "Tuan Wijaya itu adalah kakek uyutmu."


Ellena yang sudah berada di barisan paling depan bersama Alan langsung menoleh ke belakang untuk menatap pria tua yang sedang di dorong oleh Mommy-nya.


"Daddy tidak sopan kepada orang tua!" Mata Ellena menatap kearah Alan kembali.


"Apanya yang tidak sopan?" Kening Alan mengerut.


"Apakah Daddy selalu memperlakukan kakek Uyut tidak sopan?"


Seulas senyum mengembang dibibir pria tua. Impian yang selama ini ia harapkan bisa terkabulkan. Sampai saat ini malaikat belum menyapanya. Rasa syukur yang tiada henti karena bisa menyatukan dua insan yang saling meninggikan egonya.


Azra terus mendorong kakek hingga ke kamarnya. Bahkan Alan dan Ellena juga mengikutinya dari belakang.


"Azra, terima kasih karena sudah mau kembali lagi ke rumah ini untuk membina keluarga bersama bocah sialan ini. Kakek merasa sangat bahagia, bahkan jika saat ini malaikat Izrail menjemput, setidaknya Kakek tidak mati dalam rasa penyesalan," ujar Kakek Wijaya.

__ADS_1


"Kakek ngomong apa, sih? Malaikat belum akan menjemput Kakek, karena kakek juga harus melihat cicit Bang Keanu dan juga Oza launching lagi. Azra percaya jika malaikat masih lama untuk menyapa Kakek, karena malaikat ingin melihat Kkakek bahagia terlebih dahulu. Maafkan Azra yang selalu meninggikan ego, tanpa ingin memikirkan keadaan Kakek," sesal Azra yang kini telah membantu pria tua itu untuk berbaring di atas tempat tidurnya.


"Kamu jangan merasa bersalah, karena ini bukan salahmu. Andaikan saja bocah sialan itu tidak meninggikan gengsinya setinggi langit, mungkin kalian tidak akan berpisah selama ini. Asal kamu tahu, setelah kepergianmu bocah sialan itu hampir saja masuk ke dalam Rumah Sakit jiwa karena hampir kehilangan kewarasannya.. Beruntung saja bayi Kenza menyelamatkan kewarasan bocah sialan itu," terang sang kakek.


"Kenza?" Azra menautkan dua alisnya.


"Iya. Kenza anak Keanu."


Karena tidak ingin membuat salah paham lagi antara dua insan yang baru saja perbaikan, sang kakek langsung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Saya kakek takut jika akhirnya berpikir jika Alan ikut menabur bibit kepada Mouza karena bentuk wajah Kenza yang hampir mirip dengan Alan.


Bahkan kakek Wijaya juga berpesan kepada Azra agar wanita itu juga menganggap Kenza seperti anaknya sendiri, sebagaimana Alan menyanyi Kenza. Karena tanpa Kenza, mungkin saat ini Alan sudah berada di jalan yang salah dan semakin parah.


"Kakek tenang saja Azra akan menyayangi Kenza seperti Azra menyanyi Ellena. Azra akan menganggap Kenza sebagai anak Azra sebagai Alan menganggapnya."


"Aku tidak pernah menganggap dia sebagai anakku. Dia itu hanya monster kecil yang selalu menindasku. Apakah perlakuannya seperti itu layak untuk dianggap sebagai anak?"


"Lan!" sentak Azra yang hanya bisa menelan kasar salivanya saat melihat Kenza dan juga Keanu masuk kedalam kamar kakek Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2