Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 110 | Mengapa Harus Alan?


__ADS_3

Sampai pagi kembali menyapa, Mouza masih terpikirkan dengan putrinya yang sedang bersama dengan Alan. Sampai saat ini Alan belum bangun dan ia juga tak mendengar ada tangisan bayi di kamar Alan. Apakah Alan sudah berbuat sesuatu kepada putrinya?


"Jangan-jangan Alan …. " Mouza menangkup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Ia segera menghampiri Keanu yang sedang bersiap hendak pergi ke kantor.


"Bang, sampai detik ini Alan belum menyerahkan baby Kenza. Jangan-jangan baby kita diapa-apain sama Alan, Bang," adu Mouza dengan kepanikannya.


Keanu yang sedang kesusahan untuk memasang dasi, sekilas melirik ke arah istrinya dan langsung memanggilnya.


"Kamu ngomong apa sih, Za? Mending kamu pasangkan dasiku dulu!"


Mouza mengernyit. "Bang, aku lagi mode serius lho! Gimana kalau sudah terjadi sesuatu pada baby Kenza?"


"Seburuk-buruknya Alan, bocah itu gak akan berbuat macam-macam kepada Kenza. Kamu gak usah takut kayak gitu. Cepatan pakaian dasiku!"


Langkah Mouza pun semakin mendekat. "Menunduklah!" ucap Mouza dengan ketus.


"Za, percayalah, Alan tidak akan mencelakai bayi kita. Mungkin mereka belum bangun," kata Keanu untuk menenangkan hati Mouza.


Bukan tidak percaya pada Alan, tetapi ibu mana yang tak akan khawatir dan berpikir macam-macam ketika anaknya telah menyusahkan hidup orang lain, terlebih itu adalah seorang mantan pacar.


Untuk membuktikan kepada Mouza jika bayi aman bersama dengan Alan, Keanu langsung membawa Mouza ke kamar Alan. Berulang kali pintu diketuk, tetapi tak ada sahutan. Keanu tak putus asa, ia tetap mengetuk pintu, berharap Alan mendengarnya.


"Tuh bocah tidur apa mati, sih?" gerutu Kenau.


"Tuh kan, Bang! Jangan-jangan Alan udah berbuat macam-macam sama Kenza." Mouza menimpali.


Baru Keanu ingin mengetuk pintu lagi, tiba-tiba kepalanya sudah membuka pintunya sehingga bukan pintu yang ia ketuk melainkan kepala Alan.


"Aww … sialan lo, Bang!" umpat Alan yang langsung menggosok kepalanya.


Mouza yang sudah tidak sabar langsung menerobos pintu dan mendorong tubuh Alan agar bisa masuk kamarnya. Sesampainya di dalam Mouza langsung bernapas lega ketika melihat bayinya masih terlelap di bawah selimut Alan.


"Gak lakik, gak istri sama aja. Sama-sama gak punya akhlak!" umpat Alan.


"Sorry, gak sengaja. Gimana anak gue, nyusahin lo, gak?" tanya Keanu.

__ADS_1


"Lo liat aja sendiri! Dasar kalian bisanya nyetak gak bisa ngerawat!" cibir Alan dengan ketus. "Udah bawa sana! Gue mau siap-siap kuliah. Awas aja nanti kalau gue di kampus dapat panggilan karena suruh nenangin bayi kalian!".


"Lo serius udah mau masuk kuliah, Lan?" tanya Mouza terkejut.


"Iya. Gue udah bosen di rumah karena harus ngomong bayi lo! Mau ngumpul sama temen juga gak boleh! Mending gue kuliah biar otak gue gak buntu," ujar Alan dengan santai.


Mouza tak akan menghalangi Alan untuk pergi kuliah, meskipun ia tahu jika saat ini adik iparnya itu masih dalam masa cuti. Mungkin benar ucapan Alan, ia harus mencari udara seger.


"Ya udah, makasih ya udah mau jagain baby Kenza. Anggap aja ini permulaan. Kayaknya baby Kenza betah sama lo, deh Lan. Nanti gue pumping dulu, untuk stok. Kali aja nanti malam baby Kenza mau bobok sama lo lagi," kata Mouza yang sudah mengangkat anaknya untuk dibawa ke kamar.


Setelah kepergian satu keluarga menyebalkan, Alan malah kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasanya masih malas untuk berangkat kuliah. Namun, ia juga tidak mau keberadaannya di rumah malah disalah gunakan oleh Mouza untuk mengurus bayinya.


"Tuhan, kenapa Engkau kirimkan keponakan yang hanya membuatku menderita? Bayi itu adalah anak Keanu dan juga Mouza, mengapa harus aku yang mengurusnya? Tuhan, tolong jangan buat aku semakin menderita," keluh Alan sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


Cobaan demi cobaan datang silih berganti. Bahkan cobaan yang harus ia hadapi belum menemukan titik terang, kini muncul cobaan lainnya yang pasti akan membuat dirinya semakin menderita. Apalagi jika bukan monster kecil yang siap untuk membuatnya menderita siang dan malamnya. Tak ingin larut dalam kekesalan hatinya, Alan memutuskan untuk segera bersiap ke kantor sebelum monster kecil itu berulah lagi.


🌸🌸🌸


Baru saja Alan Ingin turun ke lantai bawah, telinganya mendengar suara tangisan bayi yang melengking di telinganya. Sudah tidak ragu lagi jika itu adalah suara tangisan monster kecil. Saat ingin mengabaikan, ada rasa tak tega ketika bayi itu terus menangis. Bahkan terdengar juga jika saat ini baby Kenzo juga ikut menangis. Padahal bayi itu hampir tak pernah terdengar tangisannya.


Sebelum masuk, Alan mengetuk pintu kamar Mouza terlebih dahulu. Meskipun niatnya baik, bukan berarti ia bebas untuk langsung masuk.


Di dalam kamar ternyata sudah ada dua baby sitter yang menenangkan kedua bayi itu. Namun, tetap saja baik itu terus menangis.


"Beruntung lo datang Lan. Tolongin gue dulu ya. Gue nggak tahu kenapa tiba-tiba baby Kenza nangis kejer seperti itu sampai baby Kenzo juga ikutan nangis. Gue gak tau harus ngapain. Dikasih ASI pun mereka gak mau," kata Mouza dengan mengiba.


Alan mendesah kasar dengan tatapan malas. "Makanya kalau gak bisa ngurus, gak udah dicetak. Hobi nyetak, ngurus gak bisa!" cibir Alan.


Kali ini Mouza memilih untuk mengalah dan menghela nafas beratnya, karena sedang membutuhkan bantuan Alan. Anggap saja saat ini Alan adalah malaikat kesasar yang diutuskan untuk mengurus bayi perempuannya.


"Ya mau gimana lagi, kalau nyetak enak sih, rasanya," lirih Mouza.


"Kebiasaan!" Meskipun harus mengerut, Alan pun langsung mengambil Kenza dari tangan baby sitter-nya dan langsung menimang-nimangnya.


Layaknya seorang ayah yang sedang menenangkan anaknya, Alan berusaha untuk membuat Kenza diam.

__ADS_1


"Dengerin gue! Gue mau kuliah biar cepat lulus dan mengurus perusahaan. Lo di rumah gak boleh rewel, kalau sampai gue denger tangisan lo, gue lakban mulut lo, mau?"


Bocah yang sedang ditimang langsung memberikan ekspresi tawa tanpa suara. Seolah ia sedang mengejek Alan.


Mouza hampir tak percaya dengan cara Alan menenangkan anaknya. Hanya dengan ucapan seperti itu anaknya langsung terdiam, bahkan seorang sedang membalas ucapan Alan.


"Lan, lo pakai mantra apa menangi baby Kenza?" yang Mouza terheran.


Sekilas Alan melirik kearah Mouza dan berkata, "Gue gak pakai mantra apa-apa. Mungkin dia tahu kalau lo gak nikah sama Bang Ke, mungkin monster kecil ini akan jadi anak gue."


"Gak gitu juga konsepnya, Lan. Kan beda cetakan!" sanggah Mouza.


Karena saat ini baby Kenza sudah aman, Alan pun langsung mengembalikannya pada astaga baby sitter yang mengasuh Kenza. Saat baby Kenza diam, baby Kenzo pun juga terdiam. Mungkin bayi yang baik budi itu merasa terganggu dengan adiknya, sehingga ia ikutan menangis.


"Dengerin ucapan gue! Sempet lo nangis lagi gue lakban mulut lo!" Alan kembali memperingati baby Kenza agar tidak menangis selama ia pergi kuliah.


Jika bisa berbicara mungkin baby Kenza akan memberikan jawaban atas ucapan Alan : Berarti kalau uncle sudah pulang, aku boleh menangis lagi kan?


Setelah yakin jika baby Kenza tidak mengulah, Alan pun langsung meninggalkan kamar Mouza. Meskipun sebelumnya Alan tak pernah memegang bayi, tetapi ia bisa menaklukkan baby Kenza dengan mudah. Dalam langkahnya Alan berpikir, apakah baby Kenza juga pelaku yang hobi menindas sewaktu masih berada di dalam perut Mouza. Jika benar, maka saat ini dan seterusnya nasib Alan akan selalu ditindas oleh monster kecil itu. Entah salah apa Alan padanya, sehingga bayi itu selalu ingin menindas dirinya.


"Apa karena gue udah kecewain emaknya, sehingga monster kecil itu menyimpan dendam sama gue? Lah, apa hubungannya, kan saat itu Mouza belum nyetak monster kecil itu belum dicetak." Alan bermonolog sambil menuruni anak tangga.


"Hmm ... hmm."


Suara deheman membuat Alan langsung mendongak untuk melihat siapa pelakunya.


"Sepertinya sudah ada yang bangkit dari keterpurukannya," celoteh sang Kakek yang melihat Alan menarik sebuah kursi di meja makan.


"Dasar tukang kepo!" cibir Alan dengan acuh. "Dari pada kepoin orang, mending kepoin kapan Kakek disapa sama malaikat Izrail."


"Kamu tenang saja, malaikat Izrail belum mau menyapa Kakek sebelum Kakek menggendong bibit premiummu, Lan!" ucap Kakek Wijaya dengan santai.


Mulai ... baru juga dapat cicit dua sekaligus, masih belum puas juga. batin Alan.


...πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2