Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 93 | Masih Cemburu


__ADS_3

Azra menyerah ketika kehilangan jejak Alan. Ia pun memilih kembali ke kamar Delon dan membiarkan Alan berlalu dengan kesalahpahaman. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Mouza jika Alan masih labil dan butuh kesabaran untuk menghadapi bocah itu.


Azra mendengus kasar ketika sudah kembali ke kamar Delon. Melihat wajah Azra yang ditekuk, Mouza sudah yakin jika Azra tak bisa menghentikan langkah Alan.


"Gimana, Zra? Dapet gak?" tanya Mouza memastikan.


Kepala Azra menggeleng dengan pelan dan langsung mengambil tempat duduk di samping Mouza. "Gak tahu ngilang kemana tuh bocah. Cepet banget ngilangnya," ujar Azra.


"Sudahlah, gak usah kamu pikirkan bocah itu. Sekarang kamu sudah tahu kan tanpa dijelaskan bocah itu sudah menunjukkan perasaan. Sekarang tinggal bagaimana kamu akan mengambil keputusan. Jika kelak kamu masih ingin bertahan kakek akan merasa sangat bahagia. Namun, jika kamu ingin menyerah, apa boleh buat Kakek akan pun juga akan mencari penggantimu, karena sebelum Kakek dipanggil oleh malaikat Izrail, Kakek ingin menggendong cicit pewaris keluarga Wijaya," jelaskan kakek Wijaya dengan santai.


Azra masih terdiam. Meskipun niat awal menikah dengan Alan untuk biaya pengobatan kakaknya, tetapi tak dipungkiri jika Azra telah menyukai Alan dari awal pertemuan. Hubungan yang awalnya terasa dingin sudah mulai menghangat. Bahkan Alan juga telah mengganti panggilan menjadi aku-kamu. Namun, karena insiden cemburu buta kemarin, membuat Azra merasa ingin menyerah. Satu-satunya harapan yang ia perjuangkan harus terbaring kembali di ranjang rumah sakit. Padahal beberapa hari yang lalu Delon baru saja keluar dari rumah sakit. Bahkan jika kondisinya sudah membaik Delon akan melakukan operasi pencakokan jantung. Ternyata semua itu hanya anganan semata.


"Zra, kamu gak papa?" tanya Mouza yang melihat Azra tak berkedip.


"Aku gak papa, Za. Oh iya Kek, malam ini aku izin tidak pulang karena ingin menunggu Bang Delon, boleh kan?"


Kakek Wijaya mende.sah pelan. Baginya tak keberatan jika Azra ingin tidur di rumah sakit untuk menemani Delon, karena Delon adalah satu-satu keluarga yang ia miliki.


Karena sudah ada Mouza, Kakek Wijaya pun memilih untuk pulang. Meskipun sempat ara kesalahpahaman, tetapi ia tak peduli. Hanya pemikiran orang sempit saja yang akan berpikir jika dirinya sedang menusuk dari belakang.


"Berhubung sudah ada Mouza, Kakek pulang duluan," ujar Kakeknya.


"Eh Kek, tunggu! Aku juga ikut pulang. Aku mau ngerjain tugas karena besok udah deadline. Zra, kamu gapapa kan kalau ditinggal? Kalau ada apa-apa langsung kasih kabar." kata Mouza.


Azra mengangguk pelan. "Iya gapapa kok."


Mau bagaimana lagi, meskipun merasa kasihan tetapi tugas kuliah juga lebih penting bagi Mouza. Ia tak ingin mengecewakan semua orang. Terutama mas Arif yang pernah berjasa pada dirinya.

__ADS_1


Mengingat nama Mas Arif, mendadak wajah Mouza berubah murung. Sampai saat ini ia belum menemukan keberadaan kakaknya. Namun, harapan Mouza dimanapun Mas Arif berada, semoga tetap baik-baik saja.


πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•


Selama perjalanan pulang, tak ada pembicaraan antara Mouza dan juga Kakek Wijaya. Keduanya sama-sama diam. Sopir yang diam-diam mencuri lirikan dari kaca spion merasa aneh. Biasanya jika ia mengantarkan kedua orang yang sedang ia angkut, pasti akan terasa ramai seperti pasar kaget. Namun, tidak dengan saat ini. Bahkan bisa dilihat jika wajah istri Keanu itu terlihat seperti tidak baik-baik saja.


"Apakah Nona Mouza sedang sakit?" tanya Jupri, tiba-tiba.


"Pak Jupri kok tanya seperti itu? Apakah aku terlihat seperti orang sakit?" tanya Mouza yang langsung memegang pipinya.


"Sedikit lebih pucat saja," balas pak Jupri, sopir pribadi sang Kakek.


Mouza langsung mengambil kaca mini yang disimpan dalam tasnya. Saat melihat pantulan dirinya di dalam, tak memperlihatkan kita wajahnya terlihat besar.


"Kek, coba lihat wajah aku dulu! Emang pucat ya?" tanya Mouza yang tak sungkan.


Mouza hanya mendengus kasar. Meminta pendapat kepada kakeknya tak beda jauh dengan meminta pendapat suaminya, sama-sama kang gombal!


"Kakek, emang gitu! Semua perempuan yang dilihat pasti akan terlihat cantik, itu semua karena kaca pembesar kakek terlalu bagus," protes Mouza.


Kakek Wijaya tertawa pelan saat melihat wajah Mouza yang sudah ditekuk. Bagi Kakek, Mouza adalah perempuan unik dan apa adanya. Bahkan bisa dikatakan jika hubungan sang kakek dengan Mouza lebih dekat dan mampu mengalahkan hubungan kakek dengan kedua cucunya.


"Bukan pucat, hanya terlihat murung saja. Kenapa, ada apa? Apakah Keanu membuat ulah lagi?" Tiba-tiba sang kakek bertanya dengan serius.


Mouza menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kek. Bang Ke udah jinak sekarang."


"Lalu?"

__ADS_1


Mouza mendengus kasar, seakan mengeluarkan rasa sesak di dalam dadanya. "Mas Arif, Kek."


Mouza pun langsung menceritakan apa yang telah terjadi kepada kakaknya yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya.


"Kenapa kamu tak mengatakan kepada Kakek? Apakah kamu meragukan kemampuan Kakek untuk menemukan kakakmu? Serahkan semuanya pada Kakek dan tunggu 1 x 24 jam, Kakek pastikan kakakmu akan langsung ditemukan," ujar Kakek Wijaya sedikit menyombongkan diri.


Bola mata Mouza membulat dengan bibir yang menyungging lebar. "Benarkah?"


Sebuah anggukan kecil kakek Wijaya mampu membuat Mouza berbinar-binar. Seharusnya ia meminta bantuan Kakek Wijaya ketimbang suaminya yang akhir-akhir ini sangat sibuk.


🌸🌸🌸


Baru saja masuk kedalam rumah, sepasang mata menatap kakek dan juga Mouza dengan sinis. "Sepertinya satu saja tidak cukup. Siang dengan siapa, sore dengan siapa?" sindir Alan.


Mouza langsung mendelik ke arah Alan yang tak punya sopan kepada Kakeknya, padahal ia tak tahu cerita yang sebenarnya bagaimana. Itulah akibatnya jika lebih membesarkan ego diri sendiri tanpa ingin mendengarkan penjelasan orang lain. Karena tak berfaedah untuk menanggapi Alan yang sedang terbakar api kecemburuan, kakek Wijaya memilih berlalu begitu saja.


"Za, gak usah kamu tanggapi kucing mengeong. Kerjaan saja tugas kuliahmu di kamar!"


"Siap Kek!"


Alan semakin kesal saat tak dirinya diacuhkan. Ia pun melemparkan bantal ke arah layar televisi. "Dasar buaya darat. Gue heran mata Azra dan Oza apakah sudah rabun? Bisa-bisanya mereka tergoda pria tua yang hampir bau tanah, sih?!" gerutu Alan dengan kesal.


Tanpa disadari Mbak Lily yang melihat Alan uring-uringan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Mau heran tapi beginilah keluarga pak Wijaya, dimana kakek dan cucu gak pernah akur. Beruntung aja ada Neng geulis yang bisa menghangatkan suasana," lirih Mbak Lily.


...πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2