Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 81 | Terbang Ke Bali


__ADS_3

Sesuai dengan keinginan Azra, kini dirinya benar-benar terbang ke Bali. Jika awalnya Alan tidak tertarik dengan keinginan Azra, tetapi pada akhirnya pria itu juga ikut terbang ke Bali. Tentu saja Alan tidak akan mengizinkan Azra untuk melirik pria lain.


Sesampainya di Bandara, keduanya langsung disambut oleh seorang sopir untuk diantar ke penginapan. Karena ini adalah pengalaman pertama untuk Azra, dirinya sangat takjub dengan tempat yang ia kunjungi. Padahal niat Azra hanya ingin bercanda. Namun,siapa yang menyangka jika Alan semakin terpancing dan membuat Azra nekat untuk membuktikan ucapannya.


"Gue tahu kalau ini adalah kali pertama lo datang ke tempat ini. Gue harap lo nggak malu-maluin!" pesan Alan saat hendak turun dari mobil.


"Iya, aku tahu kok. Tapi sumpah Lan, turis disini ganteng-ganteng. Mana pada putih dan mulus lagi. Bisa gak ya dibungkus satu bawa pulang." Azra terkagum saat melihat beberapa turis yang ia lihat.


Seketika Alan langsung menutup mata Azra agar tak jelalatan. "Gue congkel mata lo kalau masih jelalatan! Ayo!" Alan segera menarik paksa tangan Azra.


"Lan, koper kita!"


"Biar aja! Nanti ada yang bawain ke kamar."


Azra mede.sah kasar. Dirinya tak memberontak saat tangannya telah berubah digandeng oleh Alan. Bahkan Alan juga menyempatkan kacamata hitamnya kepada Azra agar matanya tak jelalatan.


Sesampainya di kamar hotel, Azra terkesima dengan pemandangan dari kamarnya, dimana ia bisa melihat ombak laut dari dalam kamarnya.


"Wah, ini baru traveling," ujarnya dengan kagum.


"Gak usah berlebihan!" tegur Alan.


Azra tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka, akhirnya mengabadikan foto selfie dari balkon kamar. Merasa ada yang kurang, Azra pun langsung memanggil Alan.


"Lan, sini bantuin dong!" kata Azra sambil melambaikan tangan kepada Alan.


Pria yang hendak menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, mede.sah kasar dan menghadiri Azra. "Ada apa?" tanyanya setelah mendekat pada Azra.


"Sini lebih dekat! Aku gak bakalan makan kamu, kok!"


Lagi-lagi terdengar helaan nafas panjang. Tanpa memprotes, Alan pun merapatkan tubuhnya pada Azra.

__ADS_1


"Liat hape!"


Cekrek


Satu bidikan sesuai dengan keinginan Azra, dimana bibirnya telah menempel di pipi Alan.


"Sempurna!" ujar Azra dengan hasilnya.


Mendapatkan ciuman dadakan dari Azra, membuat Alan membeku dengan menelan kasar salivanya. Tiba-tiba saja tubuhnya seperti tersengat arus listrik yang menjalar hingga ke otaknya. Tanpa kata, Alan memegangi pipi yang baru saja dicium oleh Azra.


"Kamu kenapa, Lan?" tanya Azra heran saat Alan masih membeku dalam posisi yang sama. "Baru juga ciuman di pipi sudah membuatmu tak berdaya. Bagaimana jika di bibirnya. Kok aku jadi penasaran ya? Kita coba yuk, Lan?" Azra tersenyum smirk kearah Alan.


Menyadari jika saat ini Azra sedang menggoda, Alan memilih untuk meninggalkan Azra. Dia tak ingin larut dalam perasaan.


Gak boleh! Ini nggak boleh terjadi! Dia bukan Oza, tapi kenapa gue langsung luluh! Gak, gue nggak boleh luluh sama cewek bar-bar itu! Alan membatik dengan kesal.


Dari balkon Azra memperhatikan Alan yang sedang salah tingkah. Bibirnya tersenyum puas karena sudah berhasil membuat Alan tak berada.


Karena bidikan foto terlihat sangat sempurna, ia pun langsung memposting ke akun Instagram miliknya, berharap juga akan dibaca oleh Mouza yang sedang berada di luar negeri sana. Meskipun tak bisa terbang ke luar negeri, setidaknya Azra juga memiliki satu foto romantis dengan Alan, meskipun tak sebanding dengan kenyataannya.


Namanya juga dunia tipu-tipu, tak akan ada yang tahu kenyataan yang sebenarnya, karena mereka hanya akan melihat yang manisnya saja. Batin Azra.


.


.


Deburan ombak menyapu kaki Azra yang sengaja ingin bermain air di tepian pantai. Menikmati sunset dipinggir pantai tak pernah masuk dalam kamus hidupnya. Namun, kini ia bisa melihat dengan jelas bagaimana sang surya ingin terbenam di ufuk barat.


Rasanya seperti mimpi, terlebih saat ini tangan Alan yang tak melepaskan genggaman tangannya. Semenjak Azra keluar dari kamar hotel, Alan terus menggandeng tangan Azra dengan positif dengan alasan agar tak akan ada yang berani untuk mendekatinya. Terlalu berlebihan, tetapi Alan benar-benar tak rela juga Azra melirik pria lain, terlebih para turis terlalu tampan dibandingkan dengan dirinya.


"Lan, bisakah aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Azra tiba-tiba.

__ADS_1


"Tinggal bertanya saja apa!" timpal Alan.


"Alan … aku tak tahu masalah apa yang sedang kamu alami hingga kamu memilih terjun ke dunia hitam yang mengotori dirimu sendiri. Setiap masalah yang datang, pasti akan ada cara untuk menyelesaikannya, tetapi bukan untuk menyiksa diri sendiri. Banyak di luar sana orang-orang yang tertimpa masalah lebih berat dari yang kamu alami. Namun, mereka tetap berjuang di jalan yang benar untuk tetap mempertahankan kewarasannya. Jujur aku sangat terkejut ketika kakek memberikan kuota orang yang sangat menyilaukan mataku. Karena aku memang sedang membutuhkan uang, aku menyanggupi tawaran kakek untuk menikah denganmu. Padahal ini sama sekali tak adil untukku. Aku dipaksa untuk menjadi jall.ang untuk pria yang telah sah menjadi suamiku. Tak ada cinta di antara kita berdua, tetapi aku terus berusaha untuk mendapatkan cintanya. Sungguh miris bukan? Alan, aku tak mengharapkanmu untuk mencintaiku, tetapi aku hanya meminta, jika suatu saat nanti terjadi salah paham di antara kita berdua, bisakah kamu untuk tetap percaya padaku?" Dengan mata yang berkaca-kaca, Azra menatap tajam mata alam yang tepat berada di hadapannya.


Alan pun menatap mata Azra dengan dalam. Getaran di dalam dadanya kian bergemuruh. Alan sadar dengan pernikahannya dengan Azra yang memang terpaksa. Namun, ia tak menyalah siapapun dalam pernikahannya


Andaikan saja dirinya tidak mengotori diri sendiri, mungkin sang kakek tidak akan mengambil tindakan sekonyol ini, dengan menikahkannya dengan Azra. Pernikahan yang dianggap saling menguntungkan di antara kakek dengan Azra, sehingga Azra tergiur akan tawaran dari kakeknya.


"Aku tidak tahu, Zra. Aku saja tak mengenalmu, lalu bagaimana aku akan percaya kepadamu? Bisa saja kamu hanya memanfaatkan situasi ini hanya untuk mendapatkan harta keluarga Wijaya."


Mata Azra kian membulat ketika mendengar kata yang keluar dari bibir Alan yang terasa berbeda dan membuat dadanya semakin berdebar.


Tangan Azra pun langsung menempel di kening Alan. "Kamu gak lagi sakit kan, Lan?" tanya Azra heran.


Alan pun ikut mengernyit. " Apaan, sih?"


"Kayaknya aku tadi gak salah dengar sewaktu bibirmu mengatakan aku-kamu. Katakan, aku gak salah dengar kan, Lan?" desak Azra.


Alan mende.sah kasar dan langsung menggeleng pelan.


Jangan ditanya lagi bagaimana raut wajah Azra saat Alan mengubah panggilan aku-kamu kepada dirinya. Apakah ini pertanda jika Alan telah menerima dirinya? Karena merasa sangat bahagia Azra langsung menge.cup singkat bibir Alan.


"Anggap saja sebagai kata terima kasih telah mendengarkan celotehanku," ujar Azra tanpa rasa malu karena telah menyosor Alan.


Senja kali ini terasa lebih indah dan syahdu, karena selain bisa melihat matahari yang terbenam secara langsung, keduanya bisa merasakan sentuhan di bibir. Entah siapa yang memulai, tetapi pasangan suami-istri itu saling menikmati decakan demi decakan.


.


.


...πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2