
Suasana ruang makan terasa hening. Tak ada sedikitpun percakapan di antara kakek dengan cucunya. Hanya denting sendok dan piring yang terdengar sedang beradu.
Mouza hanya bisa menatap satu persatu dari ketiga lelaki lelaki yang ada di hadapannya. Bukan tanpa alasan suasana terasa hening. Semua itu Keanu baru saja mengajar Alan. Bagaimana tidak dihajar jika Keanu mendapatkan surat peringatan dari kampus karena sudah hampir dua Minggu Alan bolos tanpa alasan. Terlebih ia juga mendapat aduan dari Angga, jika Alan selalu menghabiskan waktunya untuk mabuk-mabukan di basecamp.
Pria tua sebagai penegak keadilan sejak tadi hanya menghela nafas beratnya. Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk meluruskan jalan cucu bungsunya yang sudah hampir gila karena cinta. Bahkan, kakek Wijaya juga tidak bisa membujuk Azra untuk kembali lagi pada Alan, karena wanita itu telah lelah untuk berjuang.
"Jika kamu ingin mendapatkan hati Azra, bukan seperti ini caranya, Lan! Tunjukkan bahwa kamu benar-benar mencintainya. Bukan hanya sekedar ucapan saja, tetapi juga dengan sebuah tindakan. Wanita itu butuh bukti, bukan janji!" ujar Kakek Wijaya yang sudah bosan dengan suasana keheningan.
Alan yang mendapatkan masukan dari sang Kakek hanya terdiam tanpa ingin menjawab, karena dirinya sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk bisa mendapatkan hati Azra kembali. Bahkan setelah pertemuannya di cafe saat itu, Alan jejak Azra lagi.
"Jika kamu hanya mengandalkan keegoisanmu, maka sampai kapanpun dan dengan siapapun kamu menjalin hubungan, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan sebuah kebahagiaan. Intinya jangan gengsi untuk mengakui sebuah perasaan, jika sudah hilang dari genggaman tangan, sakit bukan?" lanjut sang Kakek lagi.
"Lan, lo denger gak sih?! Kakek lagi ngomong sama lo!" sentak Mouza sambil menendang kaki Alan. Kali ini tendangannya tepat sasaran dan tidak mengenai kaki sang Kakek.
Mata Alan hanya melotot ke arah Mouza sambil menahan rasa sakitnya.
"Iya, gue denger! Terus gue mau jawab apa?" ketas Alan.
Mouza hanya bisa mendengus kasar dengan sikap acuh Alan. Sebagai seorang teman sekaligus kakak ipar, Mouza ingin membantu Alan untuk keluar dari masalahnya. Meskipun ini bukan kali pertama Alan patah hati, tetapi kali ini Alan benar-benar kehilangan arah dan tujuan. Semua itu karena cintanya pada Azra.
"Harusnya lo itu mikir, gimana caranya untuk mengambil hati Azra, bukan malah merusak diri sendiri. Dengan cara lo seperti ini, Azra muak liat lo. Udah sering bolos kuliah, mabuk-mabukan gak jelas! Meskipun lo punya sebagian hak di perusahaan, tetapi kalau lo kayak gini gue gak akan memberikan hak lo, karena sifat lo gak sesuai dengan syarat yang tertulis!" timpal Keanu.
"Untuk kali ini, Kakek setuju dengan Keanu. Lan, kamu seharusnya kamu belajarlah dari kesalahan di masa lalumu. Bukankah kamu pernah gagal dalam menjalin sebuah hubungan? Lalu sekarang kamu ingin gagal lagi? Jika ada kesempatan kedua, maka tidak akan ada lagi kesempatan ketiga. Jika kamu benar-benar mencintai Azra, kejarlah, meskipun kamu harus berlari tanpa alas kaki! Jangan sampai ada bahu lain tempatnya bersandar," sambung Kakeknya.
Dalam diam, Alan melihat satu persatu wajah tiga orang yang berada di hadapannya. Ketiganya sama-sama menyudutkan dirinya.
__ADS_1
"Terlambat! Azra sudah menggugat cerai!" ujar Alan yang kemudian memilih meninggalkan meja makan.
Ketiga orang yang baru saja menghakiminya saling bertukar pandangan dengan mata yang membulat lebar. Mereka sama-sama terkejut dengan pengakuan Alan yang sangat mengejutkan. Bahkan berita penting seperti ini anak buah kakek Wijaya tidak melapor padanya.
"Jadi apa itu artinya mereka telah bercerai?" tanya Kakek Wijaya dengan keterkejutan.
"Oza gak tahu, Kek." Mouza mengedikkan bahunya.
Kini mata Kakek Wijaya dan juga Mouza secara bersamaan menatap kearah Keanu. "Apalagi aku yang sibuk nguli di kantor. Gak usah tanya padaku, karena aku gak tau apa-apa," ujar Keanu.
πΈπΈπΈ
Dalam keheningan malam, Alan selalu saja merasa gelisah dan tak bisa tidur di dalam kamarnya. Itu sebabnya ia sering tidur di basecamp milik Keanu untuk mengusir kegelisahan.
"Kenapa Zra, kenapa lo bohongin gue? Lo bilang kalau lo mau meluluhkan hati gue, tapi apa? Lo malah nyerah saat gue udah luluh." Azra mengacak kasar rambutnya.
Untuk malam kesekian kali, Alan tak mau untuk tidur di kamarnya. Semua itu karena bayangan Azra yang masih tersimpan di dalamnya. Karena Alan tak diizinkan ngeluyur, ia pun memutuskan untuk tidur di kamar tamu.
"Zra, sebenarnya lo kemana, sih? Please, beri gue satu kesempatan lagi. Gue mau memperbaiki puing-puing yang telah runtuh," kata Alan sambil mengusap layar ponsel, dimana sebuah foto dirinya dan juga Azra dijadikan wallpaper.
"Zra, sampai kapan lo mau menghukum gue seperti ini? Gue tahu kalau lo masig cinta sama gue. Zra, please, kembalilah!"
πΈπΈπΈ
Didalam sebuah kamar yang tidak terlalu besar, Azra hendak memejamkan matanya. Setelah seharian bekerja, tubuhnya terasa sangat lelah. Ingin sekali langsung terlelap, tetapi banyak drama yang harus ia lalui sepanjang hari.
__ADS_1
Meskipun kakek Wijaya menolak saat Azra mengambilkan kartu ATM, bukan berarti Azra tergiur untuk menggunakan isi dalam ATM pemberian dari kakek Wijaya. Bahkan ATM dari Alan pun masih berada ditangannya. Sama seperti sang Kakek, Alan juga menolak saat Azra ingin mengembalikan ATM tersebut.
Baru saja ingin memejamkan mata, Azra harus ke kamar mandi lagi karena perutnya yang terus-menerus terasa mual.
"Sepertinya aku harus berobat untuk mengetahui penyakit apa yang sedang bersarang dalam tubuhku. Tidak mungkin aku masuk angin setiap hari," ucap Azra ketika dirinya sudah lelah keluar masuk ke kamar mandi.
Sudah satu Minggu dirinya merasa mual tak beraturan. Kadang pagi, kadang malam, kadang pas mau makan tiba-tiba juga maul. Namun, karena ia dituntut untuk bekerja, ia pun berusaha untuk mengabaikan rasa mualnya.
"Sepertinya aku harus menggunakan uang itu untuk berobat. Tidak mungkin aku meminjam lagi, sementara hutang yang kemarin saja belum aku bayar." Azra bermonolog sambil melihat dirinya dalam pantulan kaca di kamar mandi.
"Heran, semakin hari semakin chubby ini pipi. Padahal jarang makan," gumam Azra.
Karena tak ingin larut dalam pemikirannya, ai pun memilih untuk memejamkan mata. Berharap malam ini ia akan mimpi indah. Namun, sebelum Azra memejamkan mata, sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Sebuah pesan dari Mouza. Padahal Azra sudah mengatakan jangan pernah menghubunginya lagi, tetapi hampir setiap hari Mouza mengirimkan pesan, meskipun selalu diabaikan.
Kali ini bukan Mouza mengirimkan sebuah foto tanpa keterangan, dimana dalam foto tersebut menampilkan wajah Alan yang babak belur.
Cukup lama Azra menunggu sebuah keterangan lagi dari Mouza, tetapi sepertinya tak ada keterangan apa-apa.
"Astaga, ini wajah Alan kenapa bisa babak belur seperti ini? Apakah dia baru saja berkelahi? Atau baru saja kena begal?" Azra terus bergumam saat melihat foto Alan di ponselnya.
Mendadak Azra merasa sangat khawatir kepada Alan. Tetapi, karena rasa kecewanya yang terlalu tinggi, Azra langsung menepis perasaannya dan membuang jauh rasa kasihannya pada Alan. Apapun yang terjadi pada Alan, bukan urusannya lagi.
...π₯π₯π₯...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1