
Karena sibuk membersihkan kamar, Mouza sampai melupakan hatinya yang sedang hancur. Kamar yang dia anggap seperti sebuah gudang, kini sudah terlihat bersih dan rapi. Bahkan Mouza juga telah mengganti sprei tempat tidurnya.
"Capek juga."
Mouza yang kelelahan tertidur disebuah sofa. Entah sudah berapa jam Mouza tertidur, kini Keanu datang ke kamar dengan mata yang melebar. Semua terlihat bersih dan rapi, bahkan aroma lantainya juga sedikit wangi. Mata elangnya meneliti setiap sudut untuk menemukan Mouza. Setelah mendapati Mouza tertidur di sofa, Keanu segera membangunkannya karena hari juga sudah hampir gelap.
"Mouz, bangun!"
Sayup-sayup Mouza membuka matanya. Dilihatnya wajah Keanu yang sedang berjongkok di depannya. "Bang Ke mau apa?" gugup Mouza.
"Gue pikir lo pingsan mau gue kasih napas buatan."
"Sembarang lo, Bang. Ngatain gue pingsan. Gue kecapekan beresin kamar lo yang udah kayak gudang."
Keanu segera melemparkan sebuah handuk ke wajah Mouza. "Mandi sana! Kamar mandi yang bisa dipakai cuma satu, jadi kita gantian mandinya."
Mouza menautkan alisnya. Bagaimana dia bisa mandi, sementara dia tak memiliki sehelai pakaian ganti. Tidak mungkin Mouza akan mengenakan pakaiannya lagi yang sudah bau keringat. "Masih diam. Mandi sana!" ulang Keanu.
"Tapi Bang, gue gak punya pakaian ganti, gimana dong?"
Keanu membuang napas beratnya, seakan dia melupakan jika Mouza memang tidak memiliki pakaian ganti. "Pakai kemeja sama celana gue dulu. Nanti kita cari!"
Mouza segera terbelalak. "Yang serius aja, Bang! Emang bang Ke punya anu ... itu ..." Mouza menggigit jarinya karena lidahnya kelu saat hendak menyebut barang penutup dua aset berharganya.
"Anu, itu apa? Yang jelas kalau ngomong!"
Mouza semakin menautkan alisnya dan berpikir apakah Keanu memang tidak peka atau pura-pura tidak tahu. "Malah diam! Anu, itu apa?" ulang Keanu
Mouza berdiri dan membisikkan sesuatu kepada Keanu yang membuat matanya melotot sambil tertawa.
"Tuh kan ... malah diketawain." Mouza menyebikkan bibirnya kesal.
"Lu pikir gue cowok apaan koleksi begituan. Dah gak usah pakai, gak bakalan yang tahu kalau Lu gak pakai bra. Kecil begitu," cibir Keanu.
"Sembarang Lu, Bang! Gede gini Lu bilang kecil? Terus yang gede itu seberapa?" Moza menyilangkkan kedua tangannya di depan dada. "Bang beliin dulu ya," rengek Mouza dengan kedua matanya yang mengedip-edip.
Keanu hanya bisa berdecak kasar. Seharusnya dia tahu konsekuensi saat membawa wanita untuk tinggal bersama. Pasti akan ribet dengan segala keperluannya, tak seperti laki-laki bisa cukup dengan baju dan celana saja.
"Ya udah, buruan gih! Dah mau magrib."
Mouza merasa girang saat Keanu mengabulkan permintaannya untuk membeli perlengkapan untuknya.
"Makasih ya, Bang. Baik banget sih Lo."
Keanu menuruni anak tangga dengan kasar hingga terdengar suara yang nyaring.
__ADS_1
"Merepotkan," ujarnya.
"Tapi 'kan bang Ke yang ajakin aku kesini," sahut Mouza dari belakang.
"Kalau gak gue bawa kesini, emang Lo punya tujuan? Gak 'kan?"
Mouza hanya memasang wajah lesunya. Memangnya benar jika tak dibawa Keanu kesini, mungkin saat ini Mouza sudah menjadi gelandangan di jalanan.
"Mau kemana Lo, Bang?" tanya salah seorang yang melihat Keanu menghidupkan motornya.
"Kenapa? Mau ikut? Sorry, gak ada tempat."
Mouza hanya bisa menelan kasar salivanya. Ternyata Keanu sangat jauh beda dengan Allan.
"Malah bengong. Ayo naik!"
Sepanjang perjalanan Mouza terus memikirkan bagaimana caranya untuk tetep bertahan hidup. Selama ini biaya hidupnya ditanggung oleh kakaknya. Sementara saat ini Mouza sudah diusir dari rumah yang artinya tak dia harus bisa menghidupi dirinya sendiri.
"Malah bengong. Turun!" sentak Keanu. "masih mikirin baji.ngan itu?"
Mouza menggeleng pelan dan menjawab, "Bang Ke, ngapain sih malah ngingetin dia? Aku lagi malas bahas dia!"
Keanu tak peduli dengan Mouza yang kesusahan untuk membuka helmnya. Dia memilih berlalu untuk masuk kesebuah toko pakaian. Bahkan Keanu acuh dengan panggilan Mouza yang terus memanggil namanya.
Semua pengunjung toko tertuju kepada Mouza yang baru saja masuk kedalam. Bagaimana tidak, Mouza masuk dengan keadaan helm yang masih menempel di kepalanya. Bahkan ada beberapa orang yang menertawakan dirinya, termasuk Keanu yang menahan tawanya.
"Sialan! Gue malah jadi bahan tawaan mereka," gerutu Mouza dalam hati.
Karena merasa kasihan akhirnya Keanu mendekat daj bertanya mengapa Mouza tak melepaskan helm saat akan masuk.
"Terus aja ketawanya!" Mouza mendengus pelan.
"Lagian gue heran aja, bayi kolot kayak Lo gak bisa buka helm sendiri. Ckckck, pintar dikitlah biar gak diselingkuhin," cibir Keanu.
Mouza terdiam untuk beberapa saat. Seketika dia menyadari jika dirinya bodoh. Bahkan selama berpacaran dengan Allan, Mouza selalu menolak saat Allan meminta kiss dibibir. Mouza hanya memberikan pipinnya yang sedikit cuby sebagai gantinya.
Sadar akan ucapan yang membuat Mouza terdiam, Keanu mende.sah pelan. Tangannya mulai terulur untuk membuka kancing helm.
"Besok-besok belajar cara buka kancing helm. Gini aja gak bisa!" Hanya sedikit sentuhan, kancing terlepas dan helm sudah terlepas dari kepala Mouza. Dia segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Udah cari sana apa yang Lo perluin! Gue tunggu disini," kata Keanu yang menentang helm ditangannya.
"Bang Ke mau berdiri disini?" tanya Mouza mengernyit.
Satu jitakan mendarat di kepala Mouza. "Ini kepala isinya apa sih? Gue nunggu disana!" Keanu menunjukkan sebuah tempat khusus menunggu. "nanti kalau udah siap panggil gue!"
__ADS_1
Mouza mengangguk pelan. Mungkin memanfaatkan Keanu adalah caranya untuk bertahan hidup sementara waktu.
"Baiklah, aku akan belanja sepuasnya."
Cukup lama Mouza mengelilingi toko. Awalnya hanya ingin membeli yang dia perlukan saja. Namun, nyatanya kata diskon membuatnya khilaf. Mouza berhasil memboyong satu tumpukan baju ke meja kasir.
Tangan Mouza melambai kearah Keanu sebagai isyarat bahwa dia telah siap belajar. Keanu yang memperhatikan Mouza hanya mampu mengernyitkan dahinya.
"Bang Ke, udah!"
Sang kasir mengernyit saat mendengar kata 'bang ke' dari mulut Mouza.
Tak berapa lama Keanu pun maju kearah kasir dan memberikan sebuah card kepada mbak-mbak kasir.
"Lo mau jualan?" tanya Keanu.
"Kenapa?" Mouza mengernyit.
"Banyak amat belinya?"
Mouza terkekeh pelan. "Lumayan lagi diskon, Bang. Lagian aku juga gak punya ganti. Gak mungkin mau pakai bajunya bang Ke terus.
Keanu tak merasa keberatan. Harga sebuah baju tak akan membuanya langsung jatuh miskin. "Tumben pintar?"
Mouza mendengus kesal saat Keanu menganggapnya sebagai perempuan bodoh. Setelah pembayaran selesai, Mouza terbelalak saat melihat struk yang diberikan oleh kasir. Bahkan Mouza masih meneliti satu persatu harganya.
"Mbak ini gak salah 20 juta?" protes Mouza sebelum meninggalkan tempat kasir.
Mbak-mbak kasir hanya tersenyum melihat kearah Mouza. "Tidak, Mbak. Ini sudah benar, kalau tidak percaya silakan cek lagi bandrolnya."
Saat Mouza ingin mengecek, tangan Keanu langsung menariknya.
"Gak perlu dicek lagi, udah bener! Ayo pulang!"
"Tapi, Bang! Ini kemahalan. Uang 20 juta bisa buat modal nikah Abang nanti. Aku kembalikan aja deh!"
"Kamu nggak baca tulisan itu? Barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan." Keanu menunjuk sebuah tulisan besar yang berada disamping kasir.
Dengan raut wajah kesal, Mouza memilih mengikuti Keanu keluar. Terbesit rasa bersalah karena sempat memanfaatkannya. Namun setelah mengetahui jumlah yang sangat fantastis, Mouza malah merasa tidak enak.
.
.
...Bersambung...
__ADS_1