
"Pokoknya gue gak mau tahu, lo harus ngomong sama mereka kalau hubungan kita udah End! Gue gak mau terus-menerus dibully sama mereka!" kata Mouza dengan tegas.
"Ya udah kan lo tinggal ngomong aja kalau hubungan kita udah End. Gitu aja repot!"
Mouza menghempaskan napas kasarnya. Bukan tidak mau, tetapi ketiga mahasiswi itu tak akan mempercayainya akan ucapannya jika saat ini dirinya sudah putus dari Alan.
"Gue udah ngomong, tapi mereka gak percaya!"
"Ya udah, berarti itu derita lo, Za."
Mouza menatap Alan dengan tatapan tajam. "Oke, gak masalah kalau lo nggak mau jelasin semuanya sama mereka, gue bakalan ngadu sama kakek, kalau gue selalu di-bully dan lo juga ikut-ikutan bully gue!" ancam Mouza.
"Eh ... gak bisa gitu dong, Za! Ini semua gak ada hubungan sama kakek tua itu! Gak usah bawa-bawa dia!" Alan memprotes ancaman Mouza.
"Siapa bilang nggak ada hubungannya sama kakek? Lo harus ingat saat ini gue lagi hamil anaknya Bang Ke, cucu dari kakek Wijaya, calon penerus keluarga Wijaya, mana mungkin kakek Wijaya akan tinggal diam saat gue di-bully."
Kini Alan hanya pasrah dengan ancaman Mouza. Wanita yang akan memiliki sejuta rencana untuk mengalahkan musuhnya dengan taktik liciknya.
"Dasar suami-istri sama-sama nyebelin!" gerutu Alan yang kemudian berlalu meninggalkan Mouza.
Perempuan itu masih tertegun dengan kepergian Alan. Mouza mengira jika Alan tidak akan mau membantu dirinya untuk menjelaskan semuanya kepada mahasiswi yang beberapa hari ini hobi membully dirinya. Namun, siapa yang menyangka jika Alan benar-benar mendatangi ketiga mahasiswi yang sedang berada ditempatnya tadi. Mouza hanya mengamati Alan saat berbicara kepada tiga orang yang tidak menyukainya. Entah apa yang diucapkan oleh Alan, tetapi ketiga perempuan itu hanya tertunduk di hadapan Alan.
"Mudah-mudahan masalahnya kelar. Tapi gue pengen kasih kejutan juga ah, sama mereka." Mouza tertawa pelan sambil mengirimkan pesan pada Keanu. Hari ini ia ingin dijemput oleh Keanu. Mouza ingin melihat reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh Iren saat suaminya datang ke kampus untuk menjemput dirinya.
"Siap-siap pasang wajah tembok tuh anak. Mentang-mentang terlahir dari anak orang terus mau sama nenek sama orang kismis? Buat apa banggain kekayaan orang tua, mending banggain kekayaan suami." Saat itu juga Mouza tertawa seorang diri hingga mendapatkan tatapan aneh dari mahasiswa yang berwawasan dengannya. Mungkin mereka mengira jika saat ini Mouza sedang kelebihan satu ons.
.
.
Saat ini Keanu sedang menunggu Reno. Ia ingin menanyakan bagaimana keadaan dua orang yang telah diturunkan jabatan menjadi seorang karyawan biasa yang berada di gudang pemasaran.
"Mengapa Tuan tidak langsung memecat mereka saja, padahal mereka sudah terang-terangan menghina Anda, Tuan," kata Reno yang sebenarnya menginginkan dua orang itu langsung dibaca. Entah mengapa Keanu malah membiarkan keduanya masih tetap tinggal di perusahaan ini.
"Karena aku yakin mereka kunci dari penggelapan dana perusahaan," datar Keanu.
"Mengapa Anda bisa saya yakin itu?"
"Aku sempat membaca dokumen yang mereka berikan kepadaku untuk difotokopi, tetapi data yang ada di file itu berbeda dengan data sebenarnya. aku yakin mereka telah mengutak-atik data tersebut. Tolong awasi dan pantau dia! Sepertinya ada tikus besar yang sedang memanfaatkan mereka," jelas Keanu.
Reno tahu apa yang harus ia lakukan untuk tetap menjaga agar tikus kecil itu tidak lari. Dan Reno baru paham mengapa kedua orang itu diletakkan di gudang pemasaran, karena dari tempat itu bukti bisa ditemukan.
__ADS_1
Aku pikir Tuan Ke hanya bisa bermain-main dengan para wanita, tetapi nyatanya dia bisa menyelesaikan masalah yang sedang ada. Semoga saja masalah penggelapan dana ini segera terungkap siapa dalangnya. batin Reno sebelum meninggalkan ruangan Keanu.
Keanu terus memantau ponselnya, berharap ada pesan dari istrinya lagi, karena sebelumnya Mouza mengatakan jika ia ingin dijemput. Dengan senang hati Keanu akan menjemput bidadari hatinya.
Karena tak kunjung mendapatkan pesan, akhirnya Keanu memutuskan untuk langsung pergi ke kampus. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mouza. Selama beberapa hari ini ia mengalami mood yang naik turun. untuk saat ini ia akan merasa lapar jika sedang memandang wajah istrinya, perbedaan jika ia melihat wajah Alan yang akan merasa mual.
Bahkan Keanu sudah berkonsultasi dengan seorang dokter untuk mendeteksi penyakit apa yang ada di dalam tubuhnya sehingga mood-nya berubah-ubah. Namun, dokter hanya menertawakan keluhan Keanu. Dokter itu mengatakan jika itu adalah hal yang wajar ketika dialami oleh seorang wanita yang sedang hamil muda. Mood-nya pasti akan berubah-ubah. Berhubung saat ini Keanu yang mengambil nyidam yang seharusnya dialami oleh sang istri, maka tak heran jika saat ini modnya akan berubah-ubah seperti wanita hamil muda pada umumnya.
"Ribet amat, sih! Siapa yang hamil siapa yang harus menderita. Kayaknya kecebong yang ada di perut Oza bakalan menjadi anak ajaib, deh. Belum apa-apa aja udah nyiksa bapaknya, gimana nanti pas udah lahir? Bakalan lebih nyiksa lebih parah lagi. Duh, jangan sampai para kecebong itu jadi kecebong yang durhakim," ujar Keanu dalam perjalanan untuk menjemput Mouza.
Sesampainya di kampus, ternyata Mouza masih ada kelas. Terpaksa Keanu harus bersabar menunggunya. Harusnya ia sabar untuk menunggu kabar dari Mouza. Namun, Keanu tidak sabar untuk segera bertemu dengan Mouza.
Kedatangan Keanu ke kampus menjadi pusat perhatian, karena sebagian mereka sudah mengetahui siapa Keanu. Dia adalah kakaknya Alan, cucu sulung pemilik kampus yang mereka injak saat ini.
Penampilan Keanu layaknya seorang opa Korea membuat banyak mata terus ingin menatapnya. Mereka tak peduli meskipun diacuhkan, bisa melihatnya dari dekat saja sudah membuat para kaum hawa histeris.
Keramaian yang terjadi tak luput dari pendengaran Mouza yang baru saja ingin menuruni anak tangga. Ia pun merasa penasaran apa yang telah terjadi sehingga para mahasiswa sangat heboh.
Ia semakin mengernyit ketika beberapa mahasiswi berlarian sambil menuruni anak tangga. Karena Mouza merasa sangat penasaran, ia pun juga bergegas untuk melihat orang-orang yang telah berkerumun menghalangi jalan.
"Eh, ada apa, sih?" tanya Mouza pada salah seorang teman satu kelasnya.
"Oh, itu cucu pertama pemilik kampus datang."
"Iya. Jadi siapa lagi? Dasar kudet lo!"
Gue bukan kudet, tapi gue cuma ingin memastikan aja, kali aja salah. Lu tuh yang pada kudet. Asal kalian tahu, itu yang lagi kalian kerumunin kayak semut lakik gue. batin Mouza.
Namun, saat ia ingin membelah kerumunan yang ada, tubuhnya tersenggol seseorang hingga hampir. Beruntung saja ada seseorang yang sikap menangkap tubuh Mouza, hingga ia tak terjungkal ke lantai.
"Punya mata gak sih?" maki Mouza dengan kesal.
"Sorry, mata gue terfokus sama tunangan gue, jadi gak liat kalau ada sampah," ujar Iren dengan bangga.
"Tuh mulut gue lempar pakai sepatu baru tahu rasa!" umpat Mouza.
"Iya, tapi bisa gak berdiri yang bagus. Lo pikir gak berat nahan tubuh lo yang udah melar ini!"
Sadar akan tubuhnya masih ditahan oleh seseorang, Mouza pun segera bangkit untuk berdiri normal. "Lagian gue gak nyuruh lo untuk menangkap gue, kok."
"Kalau gue gak nangkap tepat waktu bisa-bisa gue gak jadi punya ponakan, dong."
__ADS_1
Ya, seseorang yang telah menangkap Mouza tepat waktu itu adalah Alan. Namun, bukannya berterima kasih Mouza malah berkomat-kamit menggerutu pada Alan.
"Serah lo aja deh, Lan!" Mouza pun meninggalkan Alan untuk ikut mengerumuni kedatangan Keanu. Namun, karena terlalu banyak yang mengerumuninya membuat Mouza kesulitan untuk melihat suaminya sendiri.
"Bang Ke nyebelin banget sih. Ngapain juga dia masuk ke dalam kampus kalau cuma mau buat kerusuhan aja! Kalau gini ceritanya, gimana gue bisa nyamperin dia, mana pakai senyum-senyum sok imut!," geram Mouza yang tak bisa membelah kerumunan para mahasiswi yang mengerumuninya.
"Bang." Suara seorang wanita membuat kiano menoleh. Karena ingin memastikan apakah itu adalah Mouza atau bukan, Keanu melepaskan kacamatanya.
Senyum manis mengembang pada seorang perempuan yang tak dikenalnya bahkan dengan percaya diri dia melambaikan tangan ke arah Keanu.
Dimana sih, Mouza. Jangan bilang gue lagi dikerjai bocah itu. Awas aja nanti malam ya
Siapa yang menyangka jika Alan akan nekat untuk membelah kerumunan yang ada sambil menarik tangan Mouza. Mantan kekasih Mouza itu tak tega saat melihat Mouza sempat menangis karena tak bisa membelah kerumunan yang ada.
"Lain kali gak usah masuk kedalam kampus kalau nggak bisa mencari keberadaannya. Bikin sepet mata aja!" kata Alan yang kemudian pergi.
"Bang Ke pasti sengaja kan masuk ke dalam biar menjadi sorotan semua orang." Kini kayak gini giliran Mouza yang memproteskan.
"Ngomong apa, sih? Kan tadi kamu yang minta jemput, nyampe sini kok malah marah sih? Lagian bukan keinginanku untuk menjadi pusat perhatian. Mata mereka aja yang kurang hiburan. Dah, ayo pulang!" Tangan Keanu langsung menggenggam tangan Mouza.
Semua mata yang sejak tadi mengagumi Keanu hanya bisa menggigit jarinya ketika dianu telah menemukan bidadarinya. Namun, tidak dengan tiga orang yang masih melotot tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"What ... ini gak salah konsep kan? Itu bukannya tunangan lo, Re? Kok malah gandeng cewek lain sih?"
Iren yang tak bisa menjelaskan mengapa Keanu menggandeng tangan Mouza.
"Lo gak sedang ditikung kan, Ren?"
Mouza yang melihat wajah Iren yang sudah menegang, meminta Keanu untuk menghampirinya, bahkan saat ini tangan Mouza bergelayut manja di lengan Keanu.
"Bang, Abang kenal dia?" Tunjuk Mouza pada Iren.
Keanu hanya mengernyit. Bahkan ia sampai melepaskan kacamatanya untuk melihat dengan jelas siapa wanita yang ditunjuk oleh Mouza.
"Gak kenal," ucapkan saat dirinya memang tidak mengenali siapa wanita itu.
"Dia bukan tunangan Abang Kan?"
( Aku potong ya dah panjang banget kayak rel kereta api )
Sambil menunggu aku update lagi mampir dulu yuk ke novel teman aku yang berjudul ONE NIGHT STAND IN DUBAI
__ADS_1