Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 80 | Ingin Bulan Madu


__ADS_3

Tubuh Alan membeku. Bagaimana ia bisa menjawab pertanyaan Azra, jika jawabannya hanya akan merendahkan dirinya saja. Tentu saja jawabannya adalah sangat merasa puas dengan milik Azra. Hanya pria bodoh yang akan mengatakan jika lebih enak milik para wanita di luar sana. Meskipun Alan diam, bukan berarti ia menjadi golongan pria bodoh yang tak menikmati kenikmatan yang baru didapatkan dari Azra.


Melihat Azra terbaring diatas tempat tidur membuat Alan mendadak merasa bersalah. Meskipun dirinya menunjukkan sifat dingin dan keras kapala, tetapi sesungguhnya hatinya mudah merasa iba dan lebih hangat saja. Terbukti Mouza pernah merasa nyaman bersama dirinya.


"Kamu gak jadi keluar?" tanya Azra saat melihat Alan memainkan PSnya di dalam kamar.


"Gak mood," ketusnya.


"Kenapa? Bukannya tadi kamu mau pergi?"


"Bisa diam gak? Gue gak konsen!"


Azra mende.sah kasar. Karena dirinya merasa ingin buang air kecil, ia pun berusaha bangkit. Namun, karena masih terasa sakit Azra pun meringis.


"Aduhh."


Seketika Alan langsung menoleh ke arah Azra. Melihat Azra yang hendak bangkit, Alan langsung berlari menghampirinya.


"Lo mau kemana?" tanya Alan dengan tangan yang udah memegangi tubuh Azra.


Mata Azra membulat. "Apaan sih. Aku mau ke kamar mandi. Kenapa, mau gendong?"


Tak ada kata yang terucap dari bibir Alan, tetapi itu itu langsung membopong tubuh Azra ke kamar mandi. Mendapatkan perlakuan tak biasa membuat Azra sangat terkejut. Bahkan matanya masih membulat lebar untuk menatap Alan.


"Gak usah segitunya liatin gue kayak gitu. Gue lakuin semua ini karena gak mau lo kencing di kasur!"


Seketika Azra membuang pandangannya dengan bibir yang mengerucut. Namun, dalam hatinya ia merasa sangat bahagia dengan perhatian Alan pada dirinya.


Cuma lecet dikit aja Alan begitu perhatian. Duh, pria idaman banget sih. Tapi sayangnya tersesat. Meskipun terlihat dingin, tapi sejatinya hatinya hangat. Fix, aku udah tahu kelamaan Alan. Lain kali bisa dibuat senjata. Batin Azra dengan tawa didalam hati.


"Gue tunggu di luar. Kalau butuh sesuatu panggil gue!" ujar Alan setelah meletakkan Azra di atas closet.


"Aku cuma mau pipis, Lan! Gak butuh apa-apa. Gak usah berlebihan, deh!"


Alan tak peduli dengan ucapan Azra dan melenggang pergi. Melihat Alan yang telah menunjukkan satu sisi hangatnya, Azra pun mencoba untuk menghubungi Mouza. Namun, sayangnya nomor Azra tak bisa dihubungi.


Nih anak kemana, sih? Jangan-jangan kabur karena takut aku interogasi. Batin Azra yang belum mengetahui jika Mouza sedang liburan ke luar negeri.

__ADS_1


Selama di dalam kamar mandi Azra memainkan ponselnya untuk berselancar ke media sosial. Tanpa sengaja matanya melihat postingan Mouza yang saat ini berada di Swiss. Dengan mata membulat lebar Azra sampai meng-zoom foto Mouza dan Keanu yang sedang menikmati berpose Bandara Swiss.


"Gila! Ini gak mungkin! Masa aku yang nikah Mouza yang bulan madu! Fix, salah konsep!" gerutu Azra yang tidak terima dengan Mouza yang diam-diam melakukan liburan, sedangkan dirinya ditinggalkan di rumah begitu saja.


"Eh, tunggu! Jangan-jangan ini termasuk bagian rencana mereka? Jangan bilang kalau kakek sama mbak Lily juga ikut pergi," lirih Azra dengan rasa penasaran.


Alan yangmenunggu Azra lebih dari 5 menit merasa sangat mengkhawatirkan keadaan Azra di dalam kamar. Pria itu takut jika telah terjadi sesuatu kepada Azra. Karena merasa penasaran, tanpa mengetuk pintu Alan langsung masuk. Kini matanya terfokus pada Azra yang masih berada diposisi semula dengan tangan yang lincah memainkan ponselnya.


"Zra, lo gak papa kan?" tanya Alan yang sudah berada didepan Azra.


Azra kembali mengernyit saat melihat Alan sudah berdiri di hadapannya. "Kamu ngapain disini, Lan?" tanya Azra bingung.


"Gue nanya, lo gak papa kan?" Alan mengulangi ucapannya.


Azra menggelengkan kepalanya. "Aku gak papa, emang ada apa?"


Alan mengacak kasar rambutnya seraya bertanya, "Jadi ngapain lama-lama disini? Bikin orang khawatir aja!" protes Alan.


"Aku lagi buka Instagram. Nih, ternyata Mouza udah terbang ke luar negeri untuk bulan madu. Apakah itu gak salah? Kan seharusnya kita yang pergi bulan madu, secara kita adalah pengantin baru. Mouza udah pengantin lama, udah bunting juga. Ngapain masih bulan madu segela." Azra berceloteh dengan wajah kesal.


"Kalau lo mau pergi bulan madu, lo bisa pergi kok," ujar Alan sambil mede.sah panjang.


Alan mengangguk pelan. "Iya. Tapi sendirian." Gelak tawa Alan menggema didalam kamar mandi membuat Azra kembali mengerucutkan bibirnya.


Hati Azra kesal karena Alan tak juga menghentikan tawanya. "Oke. Gak masalah. Aku akan pergi sendiri. Aku dengar Bali itu banyak turis mancanegaranya. Kali aja bisa dibungkus satu dan bisa bawa pulang," ujar Azra yang ingin membuat Alan merasa panas.


Saat itu juga Alan menghentikan tawanya dan menatap Azra dengan tajam. "Gak bisa seperti itu dong, Zra! Lo dah nikah, mana bisa seenak jidat bawa turis pulang!" protes Alan yang tidak terima dengan ucapan Azra.


"Ya udah kalau gak boleh dibungkus bawa pulang, main disana aja. Aku dengar juga kalau turis itu punya ukuran jumbo, lho. Jadi penasaran," celoteh Azra dengan bibir yang telah mengembang luas.


Seketika tanpa aba-aba Alan segera mengangkat tubuh Azra dan membawa ke atas tempat tidur. "Jangan bermimpi terlalu tinggi! Jatuh itu sakit lho. Apalagi kalau jatuh langsung innalilahi."


"Jadi kalau aku harus gimana dong? Aku ajak kamu, kamunya gak mau. Aku pergi sendiri gak dibolehin. Aku pengen bungkus turis satu juga gak boleh. Terus aku harus gimana? Aku tuh wanita normal, Lan! Butuh sentuhan!" kata Azra yang masih berusaha untuk memancing Alan.


Azra yakin jika Alan pasti akan menyetujui untuk pergi liburan ke Bali bersama dirinya. Tanpa disadari Alan telah menunjukkan rasa posesifnya.


Aku yakin pasti Alan tak akan membiarkan aku pergi sendirian. Dih, cowok ganteng, tapi gengsinya selangit! Batin Azra.

__ADS_1


"Jangan bermimpi!" Alan langsung menjatuhkan tubuh Azra dengan kasar di atas tempat tidurnya.


"Alan! Sakit!" teriak Azra dengan kuat.


.


.


Malam panjang terlalu begitu saja karena saat ini pasangan pengantin itu dalam keadaan sadar dan sedang tidak terpengaruh dalam obat apapun. Jika pun Azra bangun lama, itu karena ia tak bisa tidur tadi malam. Sepanjang malam Azra terus memikirkan tentang dirinya yang tak jauh beda dengan para wanita murahan yang rela menggadaikan kehormatannya demi uang. Bedanya Azra melayani Alan dalam ikatan yang sah. Jika bukan karena sangat membutuhkan uang untuk membayar hutang-hutangnya, Azra tak akan mau untuk menikah dengan Alan, pria yang pernah menjamah beberapa wanita penghibur.


Semua itu tak adil untuknya, tetapi tawaran kakek Wijaya sangat menyilaukan matanya hingga ia menyetujui tawaran untuk menikah dengan Alan. Dengan begitu semua hutang dan kehidupan akan dijamin oleh kakek Wijaya.


"Zra, bangun! Gue mau kuliah! Kalau lo laper, lo delivery aja. Gue gak nyimpen uang cash banyak, cuma lima ratus ribu. Gue letakkan diatas meja ya!" kata Alan saat ingin meninggalkan Azra yang masih menikmati tidurnya.


Setengah sadar Azra mengiyakan ucapan Alan. Bahkan telinga juga bisa mendengar saat Alan menutup pintu kamar.


Dih, gak nyimpen uang cash banyak tapi lima ratus ribu. Itu gajiku dua Minggu, Lan! batin Azra yang masih enggan untuk membuka matanya. Namun, karena sebuah panggilan alam, ia terpaksa harus bangun.


"Nih, perut gak bisa diajak kompromi. Gak bisa nanti aja setornya!" gerutu Azra yang langsung menyingkapkan selimutnya untuk beranjak ke kamar mandi.


Saat ini Azra sudah tak merasa perih. Mungkin karena ia mengoleskan minyak Zaitun sehingga bagian yang lecet telah pulih.


Sudah menjadi kebiasaan Azra setelah mendapatkan panggilan alam ia akan segera mandi pagi. Bedanya kali ini ia tak memikirkan untuk bekerja, karena saat ini dirinya telah menjadi orang kaya.


Setelah mandi, Azra mengingat uang lima ratus ribu yang Alan letakkan diatas meja. Saat ingin mengambil uang pemberian Alan, matanya juga menangkap sebuah kartu ATM dan sebuah kertas berisi PIN.


"Seriusan Alan memberikan aku ATM?" tanya Azra yang masih tak percaya.


Wajahnya kian berseri saat ia memastikan pada Alan melalui pesan singkatnya. "Astaga … mimpi apa aku ya, bisa dapat durian jatuh berulang kali. ATM dari kakek aja belum dipakai, udah dapat ATM lagi dari Alan. Kalau seperti ini, aku benar-benar telah kaya mendadak," kata Azra sambil mengelus ATM yang diberikan Alan padanya.


.


.


...πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


Maafkan beberapa bab fokus pada Alan dan Azra. Tapi mulai besok kontrak mereka udah abis dan kembali lagi sama Abang Ke dan Juga Mouza. Makasih untuk kalian yang masih bertahan dengan cerita receh ini πŸ’“


__ADS_2