Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 82 | Kedatangan Mili


__ADS_3

Setelah satu minggu menghabiskan waktu di luar negeri, kini akhirnya Keanu dan Mouza harus kembali ke habitat semula untuk menjalankan rutinitas mereka masing-masing. Waktu satu minggu terasa sangat singkat untuk keduanya. Namun, mereka tetap merasa puas dengan liburan dadakan yang dicetuskan oleh sang kakek.


Setelah kembali pulang, Mouza dan Keanu langsung sidang oleh Alan dan juga Azra atas kejadian malam yang telah terlewatkan. Pasangan pengantin baru itu sudah menyelidiki dengan teliti siapa saja yang terlibat dalam rencana konyol itu. Ternyata selain kakek dan juga Mouza, Keanu juga ikut mengambil peran untuk memilih jenis minuman yang membuat Alan dan Azra kelabakan layaknya kuda liar.


"Bagus sekali ya, setelah melakukan kesalahan langsung pergi begitu saja. Bahkan sampai saat ini kakek juga belum pulang," ujar Azra untuk pertama kalinya.


"Selamat karena rencana kalian telah berhasil. Apakah kalian merasa puas?" Kini giliran Alan yang berbicara.


"Alan!" sentak Azra yang merasa malu.


Mouza yang sedang di sidang langsung tertawa saat mendengar pengakuan Alan yang mengatakan jika rencana malam itu berhasil. Iti artinya saat ini Azra sudah tidak perawan lagi.


"Alhamdulillah, akhirnya berhasil. Tos dulu kita!" Tangan Mouza sudah mengudara untuk melakukan tos bersama dengan Alan dan Azra. Namun, nyatanya tak ada respon dari keduanya dan mereka memilih sama-sama acuh.


"Udah dibantuin, bukannya bilang terima kasih malah acuh," gerutu Mouza yang kemudian menarik tangannya kembali. "Mending kita ke kamar aja lah, Bang! Nih tikus gak tau terima kasih!"


Keanu membuang kasar nafasnya seraya mengedikkan bahunya. "Ayo, Sayang. Buang-buang waktu saja disini. Mending kita main kuda-kudaan di kamar," timpal Keanu.


Azra terbelalak lebar mendengar ucapan Keanu yang ngasal. "Eh, mau kemana? Sidang belum dimulai, kalian gak boleh pergi!" cegah Azra.


"Kalian berdua aja yang sidang. Kami juga mau sidang sendiri di kamar. Awas aja kalau berani ganggu!" kata Mouza dengan santai.


Azra tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia memijat kepalanya yang kian berdenyut. Ternyata Keanu dan Mouza 11 12, tak jauh beda sifatnya yang sama-sama gila.


"Udah gak usah kamu pikirkan ucapan mereka. Kedepannya kamu juga bakalan tau bagaimana kegilaan mereka. Siap-siap stok aja rasa sabar aja untuk menghadapi mereka!" kata Alan yang kemudian ikut berlalu.


Azra membuang nafas beratnya. Ternyata saat ini dirinya masuk dalam keluarga aneh, dimana ia mempunyai kakak ipar sepaket dengan istrinya yang suka nyeleneh dan seorang suami yang labil. Kadang dingin kadang hangat.


"Benar kata Alan, mulai sekarang aku harus menyetok sabar. Sabar Azra ini belum seberapa karena kakek sang penguasa belum pulang. Jika kedua cucunya saja sifatnya sudah seperti itu, aku yakin jika kakek sang penguasa jau9 lebih parah," kata Azra dengan membuang nafas kasarnya.


.

__ADS_1


.


Pagi yang cerah dengan semangat yang baru. Karena mbak Lily belum juga pulang, akhirnya Mouza yang turun tangan untuk menyiapkan sarapan pagi. Meskipun ditemani oleh Keanu bukan berarti pria itu mau membantu pekerjaannya. Yang ada malah membuat pekerjaan Mouza terkendala karena Keanu yang terus nemplok di bahu Mouza. Tangan Keanu yang melingkar di perut Mouza juga tak mau diam, kadang menyelinap masuk kedalam baju, membuat Mouza harus mende.sah kasar dengan kelakuan suaminya.


"Bang, jangan seperti ini, dong! Aku lagi masak. Kalau seperti ini kapan siapnya?" protes Mouza.


"Dingin, Za. Lagian ngapain sih pagi-pagi dah bangun. Tuh, liat Alan aja masih kelon sama Azra."


"Kalau aku gak masak kita sarapan apa? Mau delivery? Yakin makanan sehat?"


Keanu menggeleng pelan sambil mengelus perut Mouza yang sudah mulai sedikit menonjol. "Iya, iya. Aku percaya sama kamu. Emang gak salah aku milih Istri, meskipun sedikit bodoh. Tapi itu dulu, karena sekarang udah pintar. Jadi gak sia-sia tiap hari aku kasih makanan yang bergizi," celoteh Keanu.


Mouza tak menanggapi celotehan Keanu, meskipun tangan nakalnya sudah membaut tubuhnya bergetar.


"Bang Ke liat gak aku pegang apa?"


Keanu langsung melihat ke arah tangan Mouza. "Itu pisau," ucapanya. Detik kemudian Keanu paham akan ucapan Mouza langsung melepaskan tangannya dengan menelan kasar salivanya.


"Aku mau bantuin kamu masak biar cepat selesai. Jadi apa yang harus aku kerjakan?"


Mouza ingin tertawa saat Keanu sibuk ingin membantunya. Mouza tak pernah menyangka jika dinginnya Keanu saat ini telah mencair begitu saja dengan seiring berjalannya waktu.


.


.


Sudah dua minggu lebih Alan melupakan sisi gelapnya dan menikmati hari-harinya bersama dengan Azra di rumah. Meskipun tak melakukan malam panas, tetapi Alan telah merasa nyaman ketika berada di dekat Azra. Sosok Azra mampu menggantikan Mouza dalam hatinya. Meskipun dua orang yang berbeda tetapi Azra dan Mouza hampir memiliki satu kesamaan yaitu, sama-sama polos tetapi bisa membuatnya merasa nyaman.


Baru saja ingin keluar rumah, Alan terkejut saat melihat tamu yang tak diundang telah berdiri di depan rumahnya. Dia adalah Mili, wanita yang berhasil menghancurkan hidup dan masa depannya. Dengan bodohnya saat itu Alan terbuai akan godaan wanita murahan itu.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Alan dengan ketus.

__ADS_1


Tangan Mili langsung menegang lengan Alan sambil menangis. Entah itu tangisan buaya atau tangisan kadal, tetapi yang jelas Alan tidak peduli. Ia langsung menangis tangan Mili.


"Lan, gue hamil," ucap Mili dengan air mata yang telah membanjiri pipinya.


Dahi Alan mengerut dengan alis yang menaut. "Terus kenapa lo ngadu ke gue?"


"Gue gak tau mau ngadu ke siapa lagi kalau bukan ke lo, Lan," isak Mili.


"Lah, apa hubungannya sama gue, Mil? Lo berharap kalau gue mau tanggung jawab atas kehamilan, lo? Sakit, lo! Cari sana bapaknya!" ujar Alan dengan sedikit emosi.


"Tapi lo juga pernah—"


"Stop omong kosong lo, Mil! Saat itu kita emang pernah melakukan satu kesalahan, tapi perlu lo ingat kalau tak ada sedikitpun cairan yang masuk ke rahim lo, karena emang belum saatnya keluar udah kita cabut dan itu udah berjalan hampir lima bulan, Mil. Gak mungkin juga dalam waktu lima bulan hamilnya baru sekarang. Ngaco lo!" ketus Alan.


Mendengar ada keributan di depan, Azra langsung keluar untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Karena sempat terdengar nada tinggi dari Alan.


Setelah sampai di teras matanya terbelalak dengan apa yang ia lihat. Pemandangan di hadapannya membuat mata Azra memanas begitu saja.


"Lan, gue gak tahu harus meminta pertanggungjawaban kepada siapa. Gue gak mau ngelahirin anak tanpa seorang bapak, Lan. Please lo nikahin gue ya." Mili terisak dalam pelukan Alan.


"Gila lo! Minggir sana! Gue gak ada sangkut pautnya dengan kehamilan lo, jadi gak usah berharap kalau gue bakal nikahin lo. Enak aja siapa makan nangka, siap dapat getahnya."


"Lan, tega lo ya!" sentak Mili sambil menghapus air matanya. "Oke, kalau lo gak mau nikahin gue, jangan harap hidup lo bakalan bahagia. Gue bakalan hantui hidup lo biar gak tenang!" ujar Mili yang kemudian meninggalkan rumah Alan.


"Dasar cewek gila! Nanam sama siapa, minta tanggung jawab sama siapa! Gila!" umpat Alan kesal.


Siapa yang menyangka perbincangan Alan dengan Mili disaksikan langsung oleh Azra. Sebagai seorang istri tentu saja hati Azra terasa perih ketika sang suami dimintai pertanggungjawaban atas kehamilan seorang wanita. Itu artinya sang suami telah menanamkan benih kepada wanita itu. Azra pun menyeka air matanya yang jatuh begitu saja. Seharusnya ia sadar karena sebelumnya ia sudah tahu bagaimana sifat Alan yang sebenarnya. Seharusnya ia tak merasa sakit ketika mendengar pernyataan tersebut.


Baru saja Alan membalikkan badan ia terkejut saat melihat Azra telah berdiri di belakangnya.


"Zra, kamu ngapain di sini?" tanya Alan.

__ADS_1


...🥕🥕🥕...


__ADS_2