Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 88 | Kemarahan Azra


__ADS_3

"Zra, lo gak papa?" tanya Alan yang melihat Azra tersungkur di lantai. Namun, sebelum menghampiri Azra, Alan memberikan bogeman terakhir untuk pria asing yang telah berani jalan berdua dengan Azra.


BUGH …


Jangan ditanya lagi bagaimana wajah pria malang yang menjadi sasaran kemarahan Alan. Meskipun masih bernafas, tetapi pria mengalami luka parah di bagian wajah.


"Zra, kamu gak papa kan?" Kini tangan Alan terulur untuk membantu Azra bangkit. Namun, tangan Azra segera menepis tangan Alan.


"Kamu apa-apaan sih Lan!" Azra malah menyentak Alan. Sebisa mungkin Azra mencoba untuk bangkit dan mengabaikan Alan yang tetap ingin membantunya. "Awas!"


Dengan dada yang telah panas dan kepala yang sudah berasap, mata Alan hanya bisa melihat bagaimana Azra menghampiri pria yang baru saja ia pukuli. Bahkan Azra lebih memilih mengabaikan dirinya hanya untuk pria asing itu.


"Bang Del, Abang gak papa kan? Ayo kita ke rumah sakit," ujar Azra yang berusaha untuk membantu pria yang bernama Delon untuk bangkit. "Maafkan Alan ya, Bang," tambahnya lagi.


Meskipun wajahnya babak telur dan sudut bibirnya mengeluarkan darah, Delon masih berusaha tersenyum ke arah Azra, meskipun rasanya sudah tak sanggup untuk tersenyum.


Merasa kesulitan untuk membantu Delon bangkit, Azra langsung memanggil Alan untuk membantunya.


"Lan, bantuin!"


Alan masih terdiam karena sekujur tubuhnya terasa sangat panas dan hampir meledak.

__ADS_1


"Jangan sampai kamu dituntut karena tuduhan penganiayaan ya!" sentak Azra.


"Zra, aku ini suami kamu! Suami mana yang akan terima jika istrinya selingkuh!" ucap Alan dengan dada naik turun.


Mata Azra terbelalak lebar. Bisa-bisanya Alan berpikir dirinya sedang selingkuh bersama Delon yang tak lain adalah kakak angkatnya sendiri.


"Alan kamu gila! Makanya kalau nggak tahu apa-apa itu jangan asal bag-bug dulu. Biasakan dengerin dulu penjelasan orang! Ini Bang Delon, Abang aku," kata Azra dengan kesal pada Alan yang menganggap dirinya telah selingkuh.


Mendengar penjelasan Azra membuat Alan membulatkan matanya dengan lebar. Jantungnya hampir saja terlepas saat mengetahui pria asing yang telah ia hajar adalah Abang-nya Azra.


Dengan cepat Alan langsung menghampiri Azra yang sedang berusaha untuk mengangkat tubuh Delon.


"Zra, seriusan ini Abang lo? Kenapa gak bilang dari tadi? Bang lo gak papa kan?" tanya Alan dengan panik.


Alan yang merasa ketakutan segera membantu Delon bangkit untuk membawanya ke rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan. Bukan karena dia takut dilaporkan kepada polisi, tetapi Alan takut jika setelah ini Azra akan berubah pikiran dan memilih berpikir dari rumah. Sementara dirinya baru saja merasa nyaman dengan kehadiran Azra, meskipun masih ditutupi karena rasa gengsinya.


Sesampainya di rumah sakit Delon segera mendapatkan perawatan dari tim medis. Azra dan Alan tak diizinkan untuk masuk ke dalam ruangan. Akhirnya mereka menunggu di luar.


"Zra, maafin gue. Gue bener-bener nggak tahu kalau itu adalah Abang lo," sesal Alan.


"Makanya kalau ada orang mau memberikan penjelasan itu kamu dengerin dulu, Lan! Jangan hanya mengandalkan emosi kamu sendiri. Pokoknya aku nggak mau tahu kalau sampai terjadi apa-apa kepada Bang Delon, kamu harus bertanggung jawab! Kalau perlu aku laporkan kamu atas tuduhan penganiayaan!" ancam Azra dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

__ADS_1


Bagi Azra Delon adalah, ayah, ibu, kakak dan teman yang dia miliki. Jika bukan karena Delon, mungkin saat ini Azra tak akan bisa tumbuh menjadi seperti saat ini. Bisa jadi dia benar-benar menjadi pandangan di kolong jembatan. Namun, karena Delon, dia bisa tumbuh sempurna meskipun harus menjalani kerasnya kehidupan.


"Iya aku salah. Aku minta maaf udah asal gebukin Abang kamu. Aku benar-benar gelap, Zra. Sekali lagi aku minta maaf. Kamu boleh laporkan aku, tapi kamu gak boleh minta pisah, karena aku tak akan mengizinkan itu!" ujar Alan yang telah berusaha menggenggam tangan Azra untuk meyakinkan hatinya.


"Maaf Lan, saat ini aku belum bisa memaafkanmu. Kita lihat aja nanti, bagaimana keadaan Bang Delon."


Alan hanya bisa mende.sah kasar. Saat ini dirinya baru mengetahui ternyata Delon adalah pria yang paling penting untuk Azra dibandingkan dengan dirinya. Seharusnya Alan mendengarkan penjelasan terlebih dahulu sebelum menghajar Delon dengan puas. Namun sayang, nasi telah menjadi bubur. Tak ada gunanya Alan menyesali perbuatannya, karena Azra tidak akan menerima permintaan maafnya jika sampai terjadi sesuatu kepada Delon.


Gue pikir gue adalah satu-satunya pria yang digilai oleh cewek itu. Ternyata ada pria lain yang lebih berarti, dan itu adalah Abangnya sendiri. Dan yang lebih parah dia lebih mengutamakan Abangnya dari pada gue suaminya. Alan hanya bisa membatin sambil membuang nafas kasarnya.


Dalam penyesalan Alan juga berusaha untuk menghibur Azra agar tak terlalu memikirkan Delon berlebihan.


"Zra, kamu gak usah khawatir, Bang Delon pasti gak apa-apa. Itu kan hanya luka bisa. Dua hari juga sembuh," ujar Alan.


Mata Azra langsung menatap kearah Alan dengan tajam. "Apa kamu bilang? Luka biasa dan dua hari bisa sembuh? Lan, kamu gak tahu apa-apa jadi gak usah banyak bicara!"


Kali ini Alan baru tahu dibalik sifatnya Azra yang agresif dan tanggung, ternyata dia juga menyeramkan jika sedang marah. Dan ini adalah kali pertama Alan melihat Azra sangat marah pada dirinya. Karena tak ingin membuat Azra semakin marah, ia pun memilih diam dan menunggu dokter keluar dari ruang pemeriksa.


.


.

__ADS_1


...πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2