
Kebahagiaan kecil kini telah menyelimuti kehidupan Alan. Keluarga yang telah lama dinantikan kini sudah ada dalam genggaman. Hati yang telah lama mati pun kini telah hidup kembali bersama seorang istri dan seorang gadis kecil yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri.
Seharusnya pagi ini Alan harus merasa bahagia karena bisa melakukan sarapan bersama anak dan istrinya. Namun, saat melihat sebuah kursi disampingnya kosong, rasanya hati Alan juga terasa hampa. Seperti ada sesuatu yang hingga. Dadanya juga terasa sesak saat melihat nasi goreng yang telah terhidang diatas meja.
"Astaga ... apa yang aku pikirkan? Kenapa aku terus memikirkan Eza, sih? Mana Mbak Lily masak nasi goreng kesukaan Eza, lagi. Dia pikir bocah penindasan itu masih disini?" gerutu Alan dalam hati.
Melihat Alan yang termenung, Azra langsung menegurnya. "Lan, kamu gak papa, 'kan?"
Alan pun langsung tersentak dari lamunannya dan menetralkan diri. "Aku gak papa kok, Zra. Ellen, makan yang banyak ya. Setelah ini Daddy antar kamu ke sekolah," ujar Alan.
Ellena hanya mengangguk pelan. Namun, meskipun dirinya telah bertemu dengan Daddy-nya, rasanya masih canggung dan masih terasa jauh. Mungkin karena masih awal sehingga Ellena menganggap jika Daddy-nya lebih menyayangi Kenza, daripada dirinya.
"Oh iya, Zra. Mulai sekarang kamu tidak perlu lagi bekerja di restoran. Cukup di rumah jaga Ellena dan sesekali pantau pria tua itu."
"Tapi aku sudah menandatangani kontrak, Lan. Tidak mungkin pemilik restoran akan membiarkan aku berhenti begitu saja."
Alan meletakkan sendok dan segera merogoh ponselnya. Tanpa kata ia langsung menelpon Angga.
"Halo, Bang," ucap Alan setelah panggilan tersambung. Bahkan saat ini Alan mengaktifkan loudspeaker agar Azra bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Angga nantinya.
"Bang, saat ini Azra sudah kembali pulang. Apakah dia masih harus kembali bekerja di cafe, sekalipun aku tidak memberikan izin?" tanya Alan dengan santai.
"Untuk apa kembali lagi ke Cafe? Tapi jika istrimu ingin membunuhku, silahkan datang dan bekerja di Cafe lagi."
__ADS_1
Alan merasa sangat puas dengan jawaban Angga, ternyata tanpa diberi tahu, Angga telah mengetahui jawaban atas pertanyaan.
"Jadi masalah kontrak kerja bagaimana?"
"Kamu tenang saja, kontrak itu sudah tidak berlaku lagi. Ya sudah, sampaikan pada Azra jika mulai saat ini dia tak perlu untuk datang
ke cafe jika tidak ingin membuat aku dalam masalah."
Azra yang mendengar ucapan Angga dari dalam telepon hanya mengerutkan dahinya.
"Lan, kamu gak lagi mengancam Pak Angga, 'kan?" tanya Azra yang penasaran.
"Buat apa aku mengancamnya. Tapi jika kamu membuat kakek malu gak apa-apa," ujar Alan.
Alan menghela napas kasar sambil menatap kearah Azra yang terlihat semakin cantik.
"Cafe itu masih milik Wijaya grup. Otomatis itu juga milik kita. Kalau kamu tetap kerja, apa kata orang diluar sana, Zra? Yang ada hanya membuat berita jelek untuk Kakek. Masa seorang cucu menantu Bapak Wijaya yang kaya raya harus menjadi pelayan cafe? Kan gak lucunya, Zra!" jelas Alan panjang lebar.
Azra pun akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, aku mengerti."
Selesai sarapan, Alan langsung mengantar Ellena ke sekolah. Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Ellena saat dia mengetahui masih punya seorang Daddy, terlebih Daddy-nya berasal dari keluarga berada. Mungkin ini semua adalah hadiah atas kesabarannya yang tak pernah mengeluh saat harus merasakan pahitnya hidup bersama Mommy-nya.
"Ellen, jangan lupa berikan bekal ini sama Eza, ya." Alan menyerahkan kotak bekal pada Ellena.
__ADS_1
"Iya, Dadd."
Meskipun saat ini Ellena sudah turun dari mobil dan telah masuk kedalam kelasnya, tetapi Alan belum bergerak untuk menjalankan kembali mobilnya.
"Lan, aku tidak tahu bagaimana kedekatanmu dengan Kenza, tapi aku yakin hubungan kalian berdua sangat dekat. Lan, aku tidak ingin kehadiranku dan Ellena membuat hubunganmu dengan Kenza retak. Tolong bersikaplah lebih lembut pada Kenza. Jangan buat hatinya bersedih, terlebih saat ini ada Ellena. Jangan sampai Kenza berpikir jika kamu sudah tidak sayang dan peduli lagi padanya. Aku tahu kamu sangat menyayangi Kenza, hanya saja gengsimu masih setinggi langit. Lan, turunkan sedikit saja gengsimu untuk mengakui sebuah perasaan. Aku yakin, kamu tidak akan tersiksa," jelas Azra panjang lebar.
Bola mata Alan menatap kearah Azra. "Aku tahu Tapi sulit, Zra."
"Apanya yang sulit. Lan, jadikan masa lalu sebagai pelajaran. Bukankah kamu sudah merasakan bagaimana sakitnya penyesalan? Kamu mau menghalangi untuk yang kedua kalinya?" Alis Azra menaut.
Alan pun menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Enggak. Aku Enggak mau mengulanginya lagi."
"Bagus, kalau begitu sekarang kamu turun dan minta maaf pada Kenza. Bersikaplah lebih manis lagi!" saran Azra.
"Tapi aku kan gak melakukan kesalahan, Zra! Kenapa aku harus meminta maaf?" protes Alan.
Azra hanya menghela napas kasarnya. "Sekalipun kamu tidak bersalah, tidak ada salahnya untuk meminta maaf. Tapi kalau kamu ingin menyesal kembali, ya tidak apa-apa."
"Baiklah, aku akan turun untuk menemui Eza. Tapi—" Alan menjeda ucapnya.
"Tapi apa?"
Mata Alan menatap tajam kearah Azra. "Kamu semakin terlihat cantik. Terlebih bibirmu yang terlihat semakin seksi. Aku jadi penasaran bagaimana rasanya. Dulu aku belum pernah merasakan bibirmu. Gimana kalau aku cobain dulu. Udah hampir 7 tahun bibirku nganggur, Zra," ujar Alan sambil mengerlingkan satu matanya.
__ADS_1
"Dasar pria messum!" cibir Azra.