
Mouza sudah tidak sabar untuk menunggu kedatangan kakek superheronya. Karena hari ini ia tidak ada jadwal kuliah, ia memutuskan mengajak suaminya untuk menjemput sang kakek yang sudah berada di bandara. Keanu tak merasa keberatan dengan keinginan Mouza. Akhirnya keduanya pun berangkat ke bandara untuk menjemput sang kakek.
Sepanjang perjalanan wajah Mouza terlihat sangat berseri, membuat Keanu merasa ikut tersenyum.
"Sebenarnya kamu minta apa sama kakek sehingga kamu terlihat sangat bahagia, Za?" tanya Keanu heran.
"Rahasia. Nanti juga bakalan tahu sendiri!"
Keanu semakin merasa penasaran dengan pesanan Mouza pada kakeknya. Apakah ini ada hubungannya dengan permintaan kecebongnya yang sudah ngeram di perut Mouza?
"Baiklah, tak masalah selagi kamu merasa bahagia, karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga," ujar Keanu.
Karena saat ini mozaik sedang mengandung bibitnya, Keanu tidak berani untuk melaju dengan kencang, sehingga membuatnya sedikit terlambat untuk menjemput sang kakek.
Tiba di sebuah Bandara Mouza langsung mencari keberadaan kakek superheronya. Dia berharap sang kakek benar-benar membawa oleh-oleh yang ia pesan.
"Za, pelan! Jangan ugal-ugalan! Ingat kecebong aku lagi ngeram di perutmu!" kata Keanu saat melihat Mouza hendak berlari.
"Tapi aku udah nggak sabar untuk bertemu dengan kakek, Bang!"
"Iya, tapi pelan-pelan!"
Karena Keanu tidak ingin terjadi sesuatu kepada Mouza, akhirnya ia memilih untuk menggandeng tangannya, berharap dia tidak ugal-ugalan dalam berjalan.
"Kalau pelan seperti ini kapan kita akan menemukan kakek, Bang!" protes Mouza.
"Kamu tenang saja pria tua itu tak akan lari kemana. Paling-paling dia duduk di ruang tunggu!"
Mouza hanya mende.sah pasrah ketika ia tak boleh jalan terlalu cepat.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Keanu jika sang kakek telah duduk di ruang tunggu untuk menunggu jemputannya. Namun, saat Mouza melihat keberadaan sang kakek matanya menyapu ke sekeliling untuk menemukan pesanannya, tetapi ia tak menemukannya.
"Akhirnya kalian datang juga.hampir saja kakek menjadi lumut di sini hanya untuk menunggu kalian berdua. Jika tahu akan setahun lamanya mending kakek pulang bersama dengan Hadi," keluh kakek tua itu saat melihat dua orang yang menjemputnya.
"Sudah beruban pun tak sadar jika jalanan kota yang selalu macet," sela Keanu.
"Sudahlah, Kakek capek! Bawa koper Kakek!" perintah kakek Wijaya kepada Keanu. Tanpa menunggu jawaban dari cucunya ia melenggang pergi terlebih dahulu. Bahkan Mouza hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tak salah lagi jika sang kakek menurunkan sifatnya kepada kedua cucunya.
__ADS_1
"Kakek, tunggu!" Mouza berlari kecil untuk bisa sejajar dengan sang Kakek. "Pesanan aku mana?"
Kakek Wijaya tertawa pelan ketika mendengar pertanyaan Mouza. Dia pikir mencari calon untuk alam itu seperti membeli kue kering yang bisa langsung dibeli?
"Tenang saja pesanan kamu masih di tempah. Kamu pikir pesanan seperti itu bisa langsung dibungkus? Butuh proses yang jeli agar tak mengecewakan hasilnya nanti. Kamu tenang saja, gak usah khawatir. Tangan dan kaki Kakek itu banyak, meskipun dengan sekejap mata Kakek bisa membungkus pesananmu tetapi belum tentu kualitasnya terjamin, bukan? Kakek ingin pesanan kamu benar-benar terjamin dan higienis, bukan begitu Ke?" Kakek Wijaya melemparkan pertanyaan itu kepada Keanu.
Keanu yang tidak tahu apa-apa hanya mengiyakan saja ucapan kakeknya.
"Tumben kakek bener? Ya, sebaiknya kalau nyari makanan itu yang benar-benar terjamin dan higienis. Jangan yang udah dihinggapi laler ijo dibeli, kan bikin penyakit."
"Tumben juga otak mu cair. Biasanya beku karena banyak lalat yang hinggap," celoteh kakeknya.
"Ngomong apaan sih, Kek! Mentang-mentang udah tua ngomong pun gak jelas," gerutu Keanu yang sama sekali tidak paham atas ucapan kakeknya. Namun, tidak dengan Mouza yang memahami ucapan kakeknya.
Sebenarnya Mouza merasa kecewa karena sang kakek tidak membawakan pesanannya. Jika tahu oleh-olehnya tidak akan dibawakan hari ini, Mouza enggan untuk menjemputnya. Lebih baik di rumah untuk tidur saja. Tetapi memang ada benarnya pemikiran sang kakek jika sebelum membungkus harus dilihat terlebih dahulu higenis atau tidak. Jangan sampai salah pilih dan hanya akan menjadi penyakit.
Menyadari kekecewaan cucu menantunya, sang kakek segera memberikan iPad untuk Mouza.
"Kamu lihat, mana yang cocok kita bungkus," ujar Kakek Wijaya.
Keanu yang sedang mengemudi sebenarnya merasa penasaran dengan pesanan istrinya, terlebih sang kakek menyerahkan iparnya pada Mouza.
"Iya. Kamu pilih yang cocok, setelah itu kita survei, bagaimana?"
"Wah ... Kakek memang hebat. Gak salah kalau Kakek mendapat gelar sebagai kakek superhero." Mouza tertawa pelan sambil menggeser iPad untuk melihat foto wanita yang telah disiapkan oleh kakeknya.
"Oke, udah aku tandai tinggal kita survei aja Kek, sebelum terlambat," ujar Mouza.
"Baiklah, tapi kamu nggak usah repot-repot untuk turun tangan, karena tangan kakek sudah banyak." Kakek tua itu juga tertawa pelan
Disaat kedua orang yang duduk di belakang saling tertawa, Keanu yang menyetir hanya bisa menahan rasa kesalnya. Bagaimana tidak, seakan ia diperlakukan seperti seorang supir oleh kakek dan istrinya sendiri. Bahkan mereka berdua tidak mengizinkan Keanu untuk menyela pembicaraan keduanya.
Untung kakek sendiri, kalau kakek orang udah gue cincang pria tua yang gak punya adab itu. Bisa-bisanya dia mengajak tertawa istri orang tanpa memperdulikan suaminya. gerutu Keanu dalam hati.
Setelah mengantarkan dua orang istimewa itu sampai di rumah dengan selamat, Keanu segera berpamitan untuk pergi ke kantor. Bagaimanapun ia juga mempunyai tugas dan tanggung jawab di sana meskipun itu adalah perusahaan milik kakeknya.
"Sayang," panggil Keanu saat Mouza ingin turun dari mobil.
__ADS_1
"Abang panggil apa tadi? Aku gak jelas dengarnya," ucap Mouza yang terkejut dengan panggilan Keanu.
"Gak denger apa pura-pura budeg?"
Mouza menahan tawanya ketika melihat wajah suaminya sudah ditekuk. "Emang apa bedanya nggak denger sama pura-pura? Kan gak beda, Bang?"
"Udahlah, gak jadi. Turun sana!"
"Dih, gitu aja ngambek. Sini aku sun dulu biar gak kusut wajah suamiku," goda Mouza yang seakan menyosor Keanu. Namun, saat hendak memberikan ciuman pada Keanu, tiba-tiba perut Mouza terasa mual.
Hueekk
Mouza langsung menutup mulut dan hidungnya.
"Kamu kenapa, Za?" tanya Keanu heran.
"Abang pakai parfum apa sih, kok bau banget. kayak bunga raflesia."
"Sembarangan kamu, Za! Wangi gini kok!" sanggah Keanu yang langsung mencium aroma punya sendiri. Dan Keanu tidak mencium aroma bunga raflesia di tubuhnya.
"Serius, Bang! Menyengat sekali!"
Keanu hanya mengernyit ketika dirinya dikatakan bau bunga raflesia. Masih mending mencium aroma terasi daripada mencium bunga raflesia. pikir Keanu.
Gue yakin tuh kecobong lagi bikin ulah lagi. Heran gue, masih ngeram di dalam perut aja udah bisa bikin ulah, gimana kalau udah mbrojol nanti, bisa-bisa langsung buat orang struk. batin Keanu sambil mende.sah kasar.
.
.
...π₯π₯π₯...
...BERSAMBUNG...
selagi menunggu novel ini update kembali mampir dulu yuk ke novel teman aku
judul novel : SUAMIKU BUKAN MILIKKU
__ADS_1
author : ZAFA