
Seperti keinginan Mouza, dia bisa memanfaatkan Alan untuk membawakan belanjaan, membuat Alan hanya bisa mendengus kesal. Entah sudah berapa kantong plastik yang dia tenteng di kedua tangannya, tetapi Mouza masih ingin singgah ke sebuah toko aksesoris.
"Za, lu ngerjain gue ya?" tanya Alan dengan kesal.
"Ngomong apaan sih? Kalau nggak ikhlas sini belanjaannya!" sewot Mouza.
"Bukan gitu, Za. Tangan gue udah pegel ini, tapi lu masih mau mampir-mampir.".
"Bentar doang kok, gue cuma mau beliin dasi untuk suami gue." Tanpa memikirkan perasaan Alan, Mouza langsung masuk ke sebuah toko aksesoris. Karena tangan Alan tak sanggup lagi untuk menenteng belanjaannya, dia memilih Untuk mengantarkan belanjaan itu ke dalam mobil terlebih dahulu.
"Gue ke mobil dulu ngantar belanjaan ini."
"Ya udah sana!"
Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Alan saat mendengar Mouza ingin membelikan dasi untuk Keanu, sementara pacaran dengannya, Mouza sama sekali tak pernah membelikan sesuatu untuknya. Lalu setelah menikah dengan Keanu dia malah sok romantis. Dadanya yang panas terus-menerus mengumpat akan nasib sialnya. Baru sekali berhubungan langsung ketahuan.
"Gue heran Keanu pakai ilmu apa sih buat meluluh hati Mouza. Gak mungkin juga kan kalau pakai pelet," gerutu Alan saat menuruni eskalator, sekilas dia melihat sosok yang mirip dengan Mili. Namun, karena arahnya naik, Alan tak begitu jelas untuk memperhatikannya.
"Kalaupun bertemu, itu adalah sebuah kebetulan dan juga takdir," kata Alan yang tak ingin ambil pusing ketika Mouza dengan Mili tak sengaja berteman nanti.
Tangan Alan memerah karena belanjaan itu yang berat. Karena dadanya masih terasa panas, akhirnya Alan memutuskan untuk singgah di cafe lantai bawah seraya menunggu Mouza siap untuk berbelanja.
Hampir lebih 30 menit Alan duduk di cafe, tetapi belum ada tanda-tanda Mouza turun kebawah. Mungkin dia terlalu asik untuk berbelanja?
"Perempuan kalau udah masuk Mal, lupa segalanya, meskipun gak jadi beli," gerutu Alan.
Karena merasa penasaran, Alan pun memutuskan untuk mencari Mouza di lantai atas tempatnya berpisah tadi. Namun, setelah sampai di toko tadi, ia tak menemukan sosok Mouza. Saat bertanya pada pegawainya, mereka tidak tahu.
"Keman sih, tuh anak?" Alan mulai panik saat Mouza belum berhasil ia temukan. Sebisa mungkin Alan tetap berpikir positif, mungkin saja Mouza sedang mengelilingi toko yang ada disana.
Hampir satu jam Alan mengelilingi pusat pembelanjaan untuk mencari keberadaan Mouza, tapi dia tidak bisa menemukan Mouza.
"Gak mungkin Mouza hilang," kata Alan yang sudah sangat panik.
Dia berusaha untuk menghubungi Keanu, tetapi panggilan tak mendapatkan jawaban dari sang kakak. "Gue harus gimana?"
__ADS_1
Karena tak ingin terjadi sesuatu kepada Mouza, akhirnya Alan memilih untuk meminta bantuan kakeknya untuk menemukan Mouza.
Sang kakek merasa shock saat mendengar jika Mouza hilang. Dia pun segera mengerahkan anak buah yang dimiliki untuk menemukan cucu menantunya. "Siapa yang sudah berani menyentuh keluarga Wijaya harus menerima akibatnya!"
***
Saat ini tangan Mouza sudah diikat kuat Bahkan mulutnya juga ditempelkan lakban agar tidak berisik.
Dua orang yang ada di hadapannya hanya menertawakan bagaimana Mouza berusaha untuk memberontak. Sekuat apapun tenaganya, tak akan bisa melepaskan ikatan itu.
"Kerja yang bagus," kata wanita dengan balutan pakaian berwarna gelap untuk memuji kinerja wanita yang ada didepannya.
"Aku ingin tahu bagaimana reaksi Keanu saat melihat istrinya akan di jamah oleh pria lain," kekeh seorang wanita yang tak lain adalah Mili.
"Ini akibatnya jika berkhianat pada kepercayaanku," timpal wanita tak lain adalah Madam Re.
Kedua wanita itu sama tertawa puas saat melihat Mouza tak bisa berkutik diatas tempat tidur. Dengan langkah pelan, Mili menghampiri Mouza dan langsung mengangkat dagunya. "Untuk saat ini tak akan ada malaikat yang bisa menolongmu dan sebentar lagi kamu akan menjadi santapan buaya darat." Tawa Mili saat berhasil menjadi membuat mata Mouza melotot lebar. Dia ingin berteriak, tetapi tak bisa.
"Sudahlah, Mili. Mari kita tinggalkan wanita ini , karena aki alu ingin memberi perhitungan pada Keanu," ajak Madam Re yang sudah berjalan meninggalkan kamar yang dihuni oleh Mouza.
Karena sedang sibuk dengan pekerjaannya, Keanu tak memperhatikan jika ada beberapa panggilan yang tak terjawab. Pertama dari Alan, kedua dari kakeknya dan ketiga dari Madam Re.
Kini keningnya mengernyit saat mendapatkan pesan darinya. Dengan rasa malas Keanu mencoba untuk membuka pesan. Namun, saat melihat sebuah video singkat tangannya langsung mengepal kuat. Tak peduli sedang berada dimana, dia langsung menggebrak mejanya, membuat teman kerjanya terkejut.
"Eh, kamu ngapain gebrak meja? Gak takut sama Manager Aldi?" tanya salah seorang yang duduk disampingnya.
Keanu tak peduli, untuk apa dia takut jika detik ini juga dia bisa memecat siapapun yang dikehendakinya.
"Eh, mau kemana?" sebuah teriakan menggema saat Keanu meninggalkan ruang kerjanya.
Saat ini tujuan Keanu hanya segera ingin menemukan Mouza. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, terlebih Dia tidak rela jika Mouza sampai diumpankan oleh pria hidung belang.
"Awas saja jika mereka berani menyentuh Mouza, meskipun hanya seujung rambutnya. aku pastikan mereka tidak akan bisa menghirup udara segar lagi." Mata Keanu sudah merah menahan amarahnya.
Saat itu juga teleponnya kembali berdering. nama sang kakek mengambang di layar ponselnya. Dengan cepat Keanu menjawab, "Hal, Kek."
__ADS_1
Keanu mendengarkan setiap kata yang disampaikan oleh sang kakek. Ternyata saat ini anak buah yang diutus oleh kakeknya sudah menemukan titik terang dimana Mouza berada.
"Baik, Kek. Aku akan segera kesana." Saat itu juga panggilan langsung dan Keanu langsung menuju ke tempat yang telah diberitahu oleh karena tadi.
Dengan kecepatan tinggi, Keanu tak peduli dengan berbagai kendaraan yang di terobosannya, karena saat ini dia hanya memikirkan bagaimana keadaan Mouza.
Sesampainya di sebuah hotel Keanu segera menuju ke kamar dimana Mouza berada. "Semoga belum terlambat," katanya sambil menekan tombol lift untuk menuju ke lantai 3.
Sementara itu di sebuah kamar Mouza menangis dan ingin menjerit ketika dia melihat dua orang pria bertubuh kekar sudah masuk dalam kamarnya. Keduanya tertawa mesum saat melihat keadaan Mouza.
"Cepat kasih dia minum!" ujar salah seorang yang sudah membelai wajah Mouza.
"Siap, Bos!" Dengan patuh orang tersebut langsung memaksa Mouza untuk meminum air yang sudah disiapkan.
Mouza berusaha untuk menutup erat mulutnya, tetapi pria bertubuh kekar itu berusaha keras agar air itu bisa ditelan oleh Mouza.
"Jangan melawan, Nona!" ujar pria yang dipanggil Bos tadi.
Mouza hanya bisa menangis dalam diamnya Air matanya menetes begitu saja. Saat Pria yang dipanggil Bos tadi sudah membuka kemejanya.
"Tinggalkan tempat ini karena aku akan menikmati santapanku hari ini. Tidak sia-sia akun membayar Madam Re untuk mendapatkan daun muda seperti ini. Aku sudah tak sabar untuk memilikinya."
Pintu kamar pun tertutup. Tangan pria itu mulai membuka lakban yang membungkam mulut Mouza. Kini wajah ayu itu terlihat sangat jelas di mata pria yang ada di hadapannya.
"Aku akan memberikan bonus lebih jika kamu mau memberikan kepuasan lebih. Dan aku akan memanggilmu jika aku membutuhkanmu, tanpa melalui perantaraan Madam, bagaimana?"
"Jauhkan tangan Anda!" sentak Mouza.
.
.
.
Nanti sambung lagi othor mau otw dulu. Sambil nungguin novel up, mampir dulu yuk ke novel teman othor. CINTA BERSELIMUT DENDAM, ceritanya seru lho. Mampir ya!
__ADS_1