
Dengan mengurung diri di dalam kamar, membaut para anggota keluarga menganggap jika Alan sedang frustasi. Namun, nyatanya ia sedang merasa tidak fit. Semua makanan yang masuk ke dalam perutnya, akan langsung dimuntahkan kembali. Rasa itu telah Alan alami selama dua minggu terakhir. Awalnya ia menganggap kita sedang masuk angin, tetapi setelah berbagai obat-obatan ia minum tak kunjung meredakan rasa mualnya, membaut Alan hanya bisa pasrah. Bahkan ia juga mengambil cuti kuliah dengan alasan ingin menenangkan diri. Sang kakek yang mengetahui kondisi Alan tak melarang jika ia mengambil cuti kuliahnya. Mungkin Alan butuh ketenangan untuk menenangkan pikirannya.
Pagi ini karena Keanu akan mengadakan rapat akhir tahun, ia tak bisa menemani Mouza untuk jalan pagi. Begitu juga dengan mbak Lily yang sibuk dengan pekerjaannya. Tidak mungkin Mouza mengajak Kakek untuk jalan pagi, karena pasti akan sangat lambat seperti siput.
"Mending kamu ajak bocah sialan itu untuk jalan pagi, biar kena sinar matahari!" saran Keanu sebelum berangkat kerja.
Mouza langsung menautkan alisnya. "Masa iya aku jalan sama mantan pacar aku sih, Bang? Gak takut cinlok?"
"Jika itu dulu, jelas saja aku akan merasa sangat cemburu. Namun, tidak untuk sekarang. Sekarang bocah itu sudah kehilangan naf.sunya dan tidak akan mungkin juga untuk melirik tubuhmu yang tidak seksi lagi. Jadi tidak ada alasan untuk cemburu padanya," ucap Keanu.
"Oh, jadi karena bentuk tubuhku yang bulat seperti ini sudah tak menarik lagi? Apakah Abang juga tak tertarik dengan tubuhku lagi?" tanya Mouza dengan dahi yang mengkerut.
Menyadari kesalahan dalam berbicara, Keanu memutuskan untuk langsung berangkat ke kantor, dengan alasan agar tidak terlambat untuk memimpin rapat. Beruntung saja alasan yang diberikan oleh Keanu bisa diterima dan Mouza tak menahan dirinya untuk diinterogasi.
"Baiklah aku akan mengajak, Alan. Jangan salahkan aku jika kelak perasaan Alan akan tumbuh lagi," ucap Mouza.
"Aku yakin, perasaan untukmu sudah mati. Karena saat ini yang ada didalam hatinya hanyalah Azra, wanita yang hampir membuatnya masuk rumah sakit jiwa," kata Keanu yang langsung masuk ke dalam mobil.
Mouza hanya bisa mengelus perutnya yang tendang secara berjamaah.
"Hai baby, apakah kalian sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana indahnya dunia? Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kalian juga akan keluar, kok."
Sesuai saran dari suaminya, Mouza akan mengajak jalan pagi. Sebenarnya ia merasa heran lagi dengan sikap Alan yang selalu mengurung diri di dalam kamar. Bahkan meskipun tinggal satu atap, Mouza tak pernah lagi melihat Alan makan bersama. Hari-harinya selalu dihabiskan dalam kamar. Entah apa yang dilakukan sehingga pria itu betah berada di dalam.
TOK ... TOK ...
"Lan, lo masih hidup?" tanya Mouza setelah mengetuk pintu kamarnya.
Butuh kesabaran karena Alan tak menyahut, tetapi Mouza tak putus asa. Ia terus mengetuk pintu sampai Alan mau membuka dan keluar dari goanya.
Sesuai dengan prediksi Mouza, jika Alan tak akan sanggup untuk mendengarkan suaranya dan suara ketukan pintu, akhirnya Alan menyerah dan membuka pintu.
__ADS_1
Saat pertama kali Mouza menatap wajah Alan, wajah itu terlihat sangat pucat. Bahkan Mouza baru menyadari jika tubuh Alan mengering, penampilan yang amburadul, bahkan rambutnya sudah mulai panjang. Bahkan wajah yang dulunya bersih, saat ini terlihat sangat kucel dan berminyak.
"Lo beneran Alan, bukan sih?" tanya Mouza untuk menyakinkan diri.
"Ada apa? Berisik lo, gangguin orang mau istirahat!" ketus Alan.
"Lo kenapa, Lan? Sakit?"
"Lo mau apa? Kalau gak ada kepentingan, awas, gue mau tidur lagi!" Alan berusaha untuk menutup pintunya kembali. namun, dengan cepat Mouza menahannya.
"Eits, tunggu! Lo belum jawab pernyataan gue dan gue juga belum mengatakan sesuatu. Main ditutup segala!" protes Mouza.
Alan hanya bisa mende.sah pasrah ketika Mouza sudah mulai berkuasa. Di rumah ini hanya Mouza dan kakeknya yang berkuasa. Bahkan Alan sampai lupa jika dirinya adalah cucu kandung kakek Wijaya.
"Lan, temenin gue jalan-jalan bentar ya! Soalnya Bang Ke udah berangkat kerja dan Mbak Lily sedang sibuk. Gak mungkin gue ajak Kakek yang jalanan kayak keong," ajak Mouza.
"Bisa gak sih Za, lo itu gak usah gangguin hidup gue? Perkara jalan aja ngapain lo harus ngajak gue sih, Za. Kan lo bisa pergi sendiri! Kurang kerjaan aja!" gerutu Alan yang menolak ajakan Mouza.
"Bukan urusan gue! Lagian apa urusan sama gue, kan yang bikin Keanu bukan gue! Kalau lo mau jalan, jalan aja sendiri! Gue gak mau!" Karena kesal, Alan langsung menutup pintu kamarnya. Entah mengapa saat melihat wajah Mouza Alan merasa sangat mual, tetapi sebisa mungkin Alan menahan. Namun, nyatanya ia tak sanggup dan memilih untuk langsung menutup pintunya.
"Aneh, perasaan tadi gue mual dan pengen muntah, tapi sekarang kok biasa aja ya?" pikir Alan yang sudah tak merasa mual. Karena tak ingin larut dalam pikirannya, Alan memilih melanjutkan lagi rebahannya.
"Dasar Oza kang rusuh! Gak bisa apa liat orang mau istirahat. Untung aja tuh anak gak minta yang aneh-aneh!"
Karena Alan tak mau menemani untuk jalan pagi, akhirnya Mouza memutuskan untuk jalan seorang diri. Baru saja Mouza ingin melangkah, tiba-tiba ia mengaduh kesakitan.
"Aduh, perut gue." Tangannya sudah memegangi perutnya..
Rasa sakit yang kian melilit membuatnya terus mengaduh dengan nafas memburu. Mouza juga masih bisa merasakan jika seperti ada cairan yang sedang mengalir di kakinya.
"Jangan-jangan udah waktunya mereka keluar," tebak Mouza sambil menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Lan! Tolongin gue!" Tangan Mouza menggedor pintu kamar Alan berulang kali.
Karena Mouza tak sanggup lagi dengan rasa sakit yang terus mere.mas perutnya, ia pun menjatuhkan diri begitu saja dengan tangan yang terus menggedor pintu kamar Alan.
Didalam tentu saja Alan merasa terganggu dengan suara gedoran pintu. Dengan rasa kesal ia pun akan memakai Mouza yang tak bisa membuatnya hidup dengan tenang.
Saat pintu dibuka, Alan sudah siap untuk memaki, tetapi bibirnya kelu saat melihat Mouza yang duduk dilantai dengan memegangi perutnya.
"Za, lo kenapa?" tanya Alan dengan panik.
"Kayaknya gue mau melahirkan, Lan! Tolong bantuin gue ke rumah sakit ya! Aduh ...!" Mouza sudah meringis kesakitan lagi.
Tentu saja Alan tak tega melihat Mouza kesaktian. Ia pun segera mengangkat tubuh Mouza untuk dibawanya turun ke lantai bawah. Mengangkat tubuh Mouza untuk menuruni anak tangga membuatnya Alan jantung. Karena selain berat, Alan juga sangat takut jika ia terpeleset dan menggelinding bersama dengan Mouza. Bisa-bisa calon ponakannya hancur.
"Aduh sakit banget, Lan!" ringis Mouza saat perutnya seperti sedang direma.s-rema.s
"Lo diem aja, Za! Lo itu berat. Gue takut kaki gue terpeleset dan kita menggelinding bersama," ujar Alan yang sudah bercucuran dengan keringatnya.
"Tapi sakit, Lan!"
"Giliran nyetak kenakan! Payah lo, Za!"
Disaat keadaan sedang genting Alan masih menyempatkan diri untuk mengejek Mouza yang terus saja meringis kesakitan.
"Lan, jangan lupa teleponkan suami gue ya. Dia harus tahu kalau anaknya udah mau keluar!" pinta Mouza setelah Alan berhasil menuruni anak tangga.
"Ribet, lo!"
...π₯π₯π₯...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1