
Alan langsung melesat menuju rumah sakit. Dirinya benar-benar merasa menyesal karena telah mengabaikan Kenza, bocah yang sudah memiliki ketergantungan pada dirinya. Bahkan bisa dikatakan Alan lah ayah Kenza, karena sejak lahir Kenza sudah diasuh oleh Alan.
"Eza, jika sampai terjadi sesuatu kepadamu, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Eza jangan sampai kamu membuatku gila! Aku baru saja ingin menemukan kebahagiaanku yang sempat hilang!" rutuk Alan dalam perjalanannya menuju ke rumah sakit.
Tidak butuh waktu lama mobil yang dikendarai oleh Alan telah sampai di sebuah rumah sakit dimana Kenza dirawat. Dengan langkah setengah berlari, Alan segera mencari ruang dimana Kenza dirawat. Deru nafasnya naik turun tak beraturan setelah menemukan ruangan Kenza. Tanpa pikir panjang Alan segera membuka pintu ruangan tersebut. Dada terasa berdenyut ketika melihat tangan Kenza telah terpasang jarum infus, padahal bocah itu sangat takut dengan jarum.
"Bang, apa yang telah terjadi kepada Kenza?" tanya Alan setelah mendekat ke samping Keanu.
Mendengar suara dari belakang Keanu dan juga Mouza langsung menoleh. "Kamu darimana aja?!" tanya Mouza dengan helaan nafas panjang.
"Sorry, Za. Aku tadi sedang ada urusan urgent," jawab Alan. "Gimana keadaan Eza?"
"Dia udah mendingan," jawab Keanu datar.
"Bang, sorry banget aku gak angkat telepon kalian karena aku sedang memperjuangkan nasib rumah tanggaku dengan Azra," jelas Alan.
__ADS_1
"Maksud kamu Azra telah kembali?" tanya Mouza penasaran.
Kepala Alan mengangguk pelan sebagai jawabannya. "Iya, dia sudah kembali dengan membawa anakku," ujarnya.
"Apa?!" Mouza dan Keanu sama-sama terkejut dengan pengakuan Alan. Saat itu juga mata keduanya saling berisi tatap. "Jadi bibitmu menetas juga, aku pikir pikir tidak top cer. Padahal hanya satu kali tanam," lanjut Keanu.
"Bang!" sentak Mouza.
Keanu pun hanya bisa mende.sah dengan kasar. Dan menjauh dari tempat Kenza terbaring dan membiarkan Alan untuk melihat keadaan Kenza.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Alan pada Mouza.
"Mungkin karena kelamaan menangis dan mengurung di kamar mandi. Lan, aku minta maaf jika kehadiran Eza telah menyusahkan hidupmu. Eza memang anakku, tapi dia besar dengan tanganmu. Apakah setelah kamu menemukan kebahagiaanmu bersama dengan Azra, kamu akan membuang Eza begitu saja?" tanya Mouza dengan berat.
Alan yang mendengar langsung menautkan kedua alisnya. "Sekalipun monster kecil ini sudah menyusahkan hidupku, aku tatap akan merawatnya sampai dia memilih untuk pergi dariku. Meskipun kalau aku sudah kembali bersama dengan Azra, bukan berarti aku akan membuang Eza. Bagiku Eza adalah seorang malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk membuatku bangkit dari keterpurukan hidup yang hampir membuatku gila. Mana mungkin aku tega untuk membuangnya begitu saja, sekalipun aku juga telah memiliki seorang anak," ujar Alan sambil mengelus rambut Kenza.
__ADS_1
"Tapi apakah mungkin anak dan istrimu kelak akan menerima kehadiran Kenza yang bukan siapa-siapa? Lalu bagaimana kelak jika kamu dihadapkan dengan dua pilihan untuk memilih salah satu diantara Kenza atau keluarga kecilmu?" tanya Mouza dengan nanar.
Aungguh pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab karena keduanya sama-sama penting dalam hidup Alan. Kenza penolong saat dia jatuh dalam keterpurukan hidup sedangkan Azra adalah wanita yang sangat dicintainya, terlebih saat ini sudah ada anak diantara mereka.
"Kenapa kamu diam, Lan? Sebagai seorang ibu, tentu saja aku tidak mau anakku akan merasakan sakit. Belum apa-apa saja, kamu sudah menghancurkan dia. Bagaimana jika kelak kamu sudah bahagia bersama dengan keluarga kecilmu? Aku yakin kamu akan mengabaikan dia."
"Jika kelak aku di hadapan dengan dua pilihan berat ini, aku tidak akan memilihnya, karena dua-duanya adalah sumber kebahagiaanku, Za. Meskipun kelak aku kembali bersama dengan Azra, cinta yang ku punya untuk Eza tidak akan berubah. Begitu juga cintaku padamu yang tersimpan didalam hatiku. Selamanya kamu akan tetap tinggal di hati ini, meskipun rasa itu telah mati," ujar Alan dengan pelan, karena ia takut jika pawang Mouza akan langsung naik pitam.
"Kamu jangan macam-macam, Lan! Jangan pernah membahas masalah yang sudah terkubur lama jika tidak ingin ada kesalahan pahaman diantara kita," lirih Mouza.
"Tapi itu kenyataan, Za. Meskipun aku sangat mencintai Azra, tetap tidak ku pungkiri namamu masih tersimpan di dalam hatiku. Jika kamu ingin menyalakan, salahkan saja hatiku yang tak bisa membuangmu, meskipun saat ini kita sudah memiliki kehidupan masing-masing."
Karena tak ingin ada salah paham diantara keduanya, Mouza pun memilih untuk menyusul Keanu yang sedang duduk di sofa bersama dengan Kenzo.
Alan gila! Bisa-bisanya dia masih menyimpan namaku. Bagaimana jika saat dia melakukan ritual malam panjang lalu menyebut namaku. Bukan hanya nasib rumah tangganya yang akan berada di ujung tanduk, tetapi juga dengan nasib rumah tanggaku, terlebih saat ini pawangku sangat posesif. Bisa-bisa Bang Ke akan mengira jika aku memang memiliki hubungan dengan mantan. Huh ....!
__ADS_1