
Makan malam yang terasa hambar, karena tak ada satupun kata yang keluar dari empat orang yang sedang menyantap makan malamnya. Karena Mouza mengabaikan telepon Keanu, membuat pria itu masih merasa kesal dengan Mouza, meskipun Mouza sudah meminta maaf. Tak jauh dari mereka ada Alan yang juga merasa kesal karena Azra pergi tanpa memberitahu dirinya. Terlebih Azra yang juga bersikap cuek kepada Alan dan tidak meminta maaf.
Mata Azra dan Mouza saling berpandangan dan memberi isyarat untuk meninggalkan meja makan. Dengan gerak yang bersamaan keduanya langsung membawa piringnya menuju dapur.
"Tuh orang pada lagi dapat bulan apa, ya? Heran!" gerutu Mouza setelah mencuci piringnya.
"Mungkin. Ternyata kaki-laki bisa ngambek juga ya. Dan malah lebih parah dari perempuan," sambung Azra.
Sejak Mouza menatap kearah Azra. Sepertinya setelah satu Minggu tidak melihat perkembangan hubungan pasangan pengantin baru itu, Mouza telah mencium aroma kebucinan, meskipun belum terlihat dengan jelas.
"Zra, setelah malam itu, apakah ada malam selanjutnya?" tanya Mouza yang merasa penasaran dengan pengantin baru itu.
Azra mendengus kasar. "Mimpi! Gengsi Alan tuh selangit. Meskipun udah aku pancing seperti cacing kepanasan, tetap aja Alan acuh. Meskipun sebenarnya dia gak tahan. Tuh cowok normal gak sih? Masa gak bisa bedain barang yang masih bersegel sama barang yang sudah di kobok-kobok," ujar Azra dengan kesal.
Mouza tertawa pelan. "Aku yakin kamu bisa menaklukkan suami arogan itu, secara dia itu hanya butuh sentuhan dan belaian aja. Kalau udah kena, tinggal pancing aja. Lama-lama tuh anak kecanduan."
"Jadi dulu sewaktu kalian masih pacaran sering juga begituan?" tanya Azra penasaran.
"Sembarang! Aku pacaran sama dia benar-benar menjaga kesucian diri. Asal kamu tahu aja, first kiss aja Bang Ke yang dapatin, meskipun kami pacaran selama 8 bulan," terang Mouza.
"Serius, Za? Emang Alan gak minta gitu?" Azra semakin penasaran dengan pengakuan Mouza.
Mouza tertawa pelan saat mengenang kisahnya dengan Alan yang secara tiba-tiba. Selama pacaran Alan selalu bersikap sangat lembut dan hangat kepada dirinya. Bahkan dia juga sering meminta kiss di bibir, tetapi Mouza tak memberikannya. Ia hanya memberikan pipinnya untuk dicium.
"Hebat kamu, Za. Bisa mempertahankan kesucian bibir dan juga kesucian seorang wanita. Zaman sekarang susah lo perempuan bisa menjaga segalanya. Alangkah bahagianya Bang Keanu mendapatkan barang segel. Padahal dirinya udah jadi barang bekas," celoteh Azra.
Tanpa disadari sepasang telinga tak sengaja mendengar ucapan Azra dan langsung berdeham.
"Hmm … Hmm. Siapa yang kamu maksud barang bekas itu? Apakah itu aku?" Tiba-tiba suara Keanu mengagetkan Azra dan juga Mouza. Bahkan kedatangan Keanu mampu membuat jantung Azra seakan ingin lepas dari dalam dadanya.
"Eh, Abang Ke. Butuh sesuatu, Bang?" tanya Azra dengan gugup.
"Iya. Aku sedang butuh istriku. Gak papa kan, kalau aku bawa dia ke kamar?"
"Oh, bawa aja, Bang. Kebetulan aku juga mau ke kamar," kilah Azra.
__ADS_1
Alis Mouza menaut seakan memberi sebuah isyarat mengapa malah mengiyakan saja permintaan Keanu.
"Ya udah, aku duluan, ya." Dengan rasa gugupnya, Azra langsung melarikan diri ke dalam kamar. Sungguh dirinya sangat takut jika keanu akan marah karena dirinya yang telah mengatainya barang bekas. "Mending kabur daripada kena imbasnya."
Setelah Azra berlalu, kini tinggal Mouza ean Keanu. Suasana terlihat sangat canggung karena Mouza memilih mendiamkan Keanu. Mouza menganggap jika kekhawatiran Keanu berlebihan, padahal Mouza sudah mengatakan jika keadaan sedang urgent.
"Oke, aku minta maaf. Sekarang kita ke kamar, ya?" pinta Keanu yang memilih membuang egonya.
Bibir Mouza masih mengerucut sambil menatap mata Keanu. Sebenarnya tak tahan Mouza mendiamkan Keanu, tetapi dirinya merasa kesal karena Keanu tak mau mendengarkan penjelasannya.
"Za." Kini tangan Keanu menggenggam tangan Mouza. "Maafin aku, ya."
Sambil menghela nafas kasarnya Mouza pun meluluhkan hatinya. "Iya. Tapi gendong."
Seketika mata Keanu membulat dengan lebar saat mendengar permintaan Mouza. Ingin tertawa, tetapi ia tahu itu hanya akan membuat Mouza tambah ngambek, akhirnya Keanu mengangguk pelan.
"Ya udah, ayo!"
Dengan bibir yang menyunging Mouza langsung segera naik ke punggung Keanu.
"Bang Ke lupa ya kalau di dalam perut aku sekarang ada kecebong Bang Ke yang sedang tumbuh," balas Mouza.
"Gak ngaruh juga, Za. Dia tuh kecil kayak anak tikus. Kamunya aja sekarang yang rakus," ejak Alan.
Satu tabokan mendarat di bahu Keane. "Tuh mulut asal ngomong aja ngatain akan kita kayak anak tikus!" protes Mouza.
Baru saja hendak menaiki anak tangga keduanya berpapasan dengan Alan yang juga ingin naik lantai atas. Matanya hanya sekilas melirik ke arah Keanu yang sedang menggendong Mouza.
"Ingat umur! Udah tua masih gendong-gendongan!" sinis Alan.
Keanu hanya menautkan kedua alisnya saat mendengarkan ucapan Alan yang terdengar pesimis. "Sirik lo! Kalau seperti ini tinggal panggil aja istri lo, apa susahnya? Bilang aja lo iri kan lihat kebahagiaan gue sama Oza?"
"Gue iri? Naj.is!" ketus Alan yang memilih untuk mendahului Keanu.
"Bilang aja kalau iri!" teriak Keanu.
__ADS_1
"Udahlah, Bang! Gak usah gangguin Alan! Ayo cepetan naik!" protes Mouza.
Dengan nafas terengah-engah Keanu berusaha membawa istrinya untuk ke kamar dengan selamat. Ia tak mungkin menyerah sebelum sampai di tempat tujuan. Bisa-bisa dirinya akan dicibir oleh Mouza loyo.
"Bang, masih aman?" tanya Mouza saat Keanu hendak membuka pintu kamarnya.
"Tenang, masih aman kok. Mau minta digendong kemanapun aku masih kuat," ujar Keanu yang tak ingin menjadikan harga dirinya.
"Baguslah, Bang! Jadi besok-besok kalau aku males jalan, Bang Ke yang gendong ya!" usul Mouza dengan bibir yang telah mengembang lebar.
Keanu mengerutkan dahinya. Jika setiap hari Mouza minta gendong bisa-bisa belum waktunya naik kuda dirinya sudah encok duluan. Tidak! Itu tidak boleh terjadi.
Sesampainya di dalam kamar, Keanu langsung menurunkan Mouza di atas tempat tidur pelan. Sebenarnya tidak sulit untuk meluluhkan Mouza ketika sedang ngambek. Sejatinya hanya butuh rayuan dan pengertian saja. Dan yang paling utama adalah mengalah untuk membuang egonya. Itu adalah cara jitu yang digunakan yang untuk meluluhkan Mouza ketika ibu negaranya itu sedang ngambek.
"Bang Ke sibuk gak?" Tiba-tiba Mouza bertanya saat Keanu hendak masuk ke kamar mandi.
Dengan senyum smirk Keanu menjawab. "Aku tidak sibuk jika kamu ingin mengajak main kuda-kudaan. Tumben minta duluan?"
"Dih, Bang Ke otaknya messumm terus! Kalau Bang Ke gak sibuk, aku ingin berbicara sebentar dengan Abang," ujar Mouza sambil men.desah kasar.
"Mau ngomong apa sih? Kayak serius banget? Jika kamu ingin membahas kapan kita pindah ke rumah baru, tunggu kakek tua itu pulang baru kita pindah. Sebenarnya aku sudah ingin mengajakmu pindah dari kemarin-kemarin, tetapi berhubung kakek tua itu belum pulang aku belum bisa membawamu pindah. Bisa-bisa aku langsung digorok olehnya. Padahal aku suamimu dan aku yang berhak atas kamu, tapi kakek tua itu yang berkuasa, jadi aku tidak bisa melawan kakek tua itu," ujar Keanu sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Sambil menunggu kamu keluar, Mouza sangat berharap jika suaminya mau membantu untuk mencari keberadaan kakaknya. Karena hanya dia satu-satunya keluarga yang dia miliknya. Terlebih saat ini kakaknya telah bercerai dengan istrinya. Bisa jadi saat ini kakaknya telah menjadi seorang gelandangan di jalanan. Mouza tidak akan pernah hidup tenang jika belum menemukan kakaknya.
"Semoga Bang Ke bisa membantuku untuk menemukan mas Arif," lirih Mouza dengan penuh harap.
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
sambil menunggu novel ini update kembali mampir dulu yuk ke novel temen aku TERJEBAK CINTA DARA JELITA mampir ya
__ADS_1