Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 76 | Makan Malam


__ADS_3

"Kakek, maafkan Oza, sepertinya Oza tidak bisa membantu Kakek untuk menjalankan rencana selanjutnya. Kakek tahu sendiri kan kesehatan Oza beberapa hari terakhir ini tidak baik. Sepertinya anak Bang Ke sedang membuat ulah, seperti bapaknya," ujar Mouza pada kakek Wijaya.


Sang Kakek hanya tersenyum tipis pada Mouza. "Sudah kuduga. Kamu saja yang bersikeras untuk membuat rencana konyol seperti itu. Tapi tenang saja karena Kakek yang bisa menangani semuanya, tapi bukan berarti kamu harus lepas tangan, ya!"


"Itu sama aja Oza turun tangan, Kek," gerutu Mouza dengan mengerucutkan bibirnya.


"Tugas kamu tidaklah berat. Kamu hanya pancing umpan untuk masuk sarang, sisanya Kakek yang mengurus."


Mouza mengangguk pelan. Semua ini ia lakukan demi kebaikan Alan. Agar bocah itu tidak larut dalam sisi gelapnya. Siapa suruh melanjutkan keburukan kakaknya yang sudah lama ditinggalkan.


"Wah, ternyata kalian disini. Pantas saja aku cari di mana-mana tidak ada. Lagi bahas masalah apa? Sepertinya terlalu penting? Apakah aku boleh tahu? Barangkali aku bisa membantu kalian." Tiba-tiba saja Azra muncul, membuat dua orang yang masih melakukan diskusi terkejut.


Dengan susah payah Mouza manalan kasar salivanya. "Azra, ada apa?" tanya Mouza dengan gugup.


"Tidak ada. Hanya saja aku merasa bosan. Di rumah sebesar ini terasa sunyi," kata Azra yang kemudian menarik kursi di samping Mouza.


"Kalau kamu menginginkan rumah ini ramai, kamu lahirlah dulu anak-anak yang lucu dan menggemaskan, baru rumah ini akan terasa ramai," timpal Kakek Wijaya.


"Kakek tunggu saja waktunya. Jika telah tiba saatnya nanti, aku pasti akan melahirkan cicit-cicit yang lucu nan menggemaskan. Tapi untuk saat ini biarlah anak-anak Mouza yang meramaikan rumah ini, Azra sedang berjuang."


"Kalau seperti itu, aku akan membantu perjuanganmu," kata Mouza dengan senyum dibibir nya.


.


.


Malam ini Mouza sudah mengatur semuanya. Ia sengaja mengajak Alan untuk melakukan makan malam bersama dengan alasan ingin ada yang ia bahas. Tanpa rasa curiga Alan mengiyakan saja keinginan Mouza.


"Lo gak takut ngajak gue makan malam berdua? Kalau sampai Keanu tahu, kelar hidup lo," ujar Alan saat menarik sebuah kursi.


Mouza tersenyum saat melihat Alan sudah ada di depan matanya.


"Lo tenang aja, gue udah luluhi Abang Lo. Meskipun dia tahu kita makan berdua, dia nggak bakalan marah. By the way selamat ya atas pernikahan kalian, semoga menjadi keluarga yang bahagia hingga menua bersama," ujar Mouza.

__ADS_1


Alan pun tersenyum kecut kearah Mouza. "Apakah lo sengaja ngajak gue makan malam hanya untuk merayakan hari pernikahan gue?" tanya Alan.


Mouza mengangguk pelan. "Anggap saja seperti itu. Meskipun setelah pernikahan gue sama Bang Ke gak lo sambut, tetapi gue gak akan melakukan hal serupa. Sebagai seorang kakak ipar yang baik, gue akan menyambut hari bahagia adik ipar gue." Tangan Mouza pun menjentik, sebagai sebuah isyarat.


Tak lama derap langkah kaki menggema di telinga. Sosok Azra pun berjalan untuk menghampiri Alan dan juga Mouza. Meskipun terkesima akan penampilan Azra, Alan mencoba untuk membuangnya.


"Kenapa ada dia?" tanya Alan datar.


"Karena lo nikahnya sama dia. Beda cerita kalau lo nikahnya sama ulat bulu, otomatis yang datang ulat bulu, dong," ujar Mouza.


"Cih, menyebalkan! Kalau gue tau tuh cewek bar-bar juga datang, mending gue ngumpul sama anak-anak."


Senyum Azra mengembang saat ia telah sampai di meja Mouza. "Maaf telat," ujarnya.


"Gak papa. Alan juga baru sampai kok."


Berada dalam satu meja dengan dua orang wanita cantik, seharusnya Alan merasa sangat bahagia. Namun, nyatanya malah sebaliknya. Alan menyesal telah mengiyakan keinginan Mouza untuk makan malam bersama. Seharusnya ia berpikir, tidak mungkin jika tak ada maksud lain saat Mouza tiba-tiba mengajaknya untuk makan bersama.


"Nggak usah ngeliatin gue kayak gitu kalau lo gak ingin dicincang sama Bang Ke!" ancaman Mouza.


"Cih, kepedean lo!" ketus Alan.


Entah mengapa perasaan Azra tidak tenang ketika makanan telah sampai di meja makan. Mungkin karena ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di restoran bintang sepuluh, sehingga ada rasa berdebar dalam dadanya. Selama ini tak pernah terlintas di dalam benaknya untuk bisa makan di restoran berbintang, bisa makan di warteg saja sudah membuat dirinya bahagia.


"Kamu gak usah gugup. Saat ini kamu telah menjadi bagian keluarga Wijaya. Dulu aku juga sepertimu terkejut dengan kemewahan yang diberikan oleh keluarga Wijaya. Namun, lama-lama aku menikmatinya," ujar Mouza.


"Ah, iya. Saat ini aku hampir lupa dengan statusku yang telah menjadi istri Alan," kekeh Azra.


"Jangan bermimpi gue mau nganggep lo sebagai istri gue. Gue ingetin sekali lagi, jangan bermimpi terlalu tinggi, takutnya lo jatuh langsung innalillahi wa inna ilaihi rojiun."


Kepala Mouza semakin berdenyut ketika harus ada perdebatan malam ini. Sebenarnya mencium aroma makanan saja sudah membuat perutnya sangat mual, tetapi demi melancarkan ide yang telah ia buat, mau tidak mau ia harus menahan perutnya yang sudah bergejolak.


Sungguh kakek tidak adil. Dia bilang hanya memancing Alan untuk keluar dan sisanya dia yang mengurusnya. Tapi kenapa kakek tua belum juga datang! Gak tau ini perut udah kayak digiling, batin Mouza dengan menahan rasa mualnya.

__ADS_1


Satu notifikasi masuk ke ponsel Mouza, itu artinya ia tugasnya telah selesai.


"Kalian lanjutkan makan. Perutku gak bisa diajak kompromi. Aku ke toilet dulu," pamit Mouza.


"Jangan lama-lama," ujar Azra.


Mouza mengangguk pelan sambil tersenyum pada Alan. "Selamat menikmati. Semoga malam ini menjadi malam indah," bisik Mouza pada Alan saat hendak meninggalkan meja makan.


Kini Alan tahu jika semuanya telah direncanakan. Dengan bodohnya ia mempercayai ucapan Mouza.


"Sial!" umpat Alan dengan tangan mengepal.


Diluar sana sudah ada Keanu yang menunggu istrinya. Hatinya semakin gelisah saat Mouza tak kunjung keluar. Padahal ia tahu jika saat ini Mouza sedang tidak ingin melihat, makanan. Apalagi untuk mencium aromanya. Jika bukan karena ancaman dari kakeknya, Keanu sudah sejak tadi menarik tangan Mouza untuk keluar.


"Awas aja jika sampai terjadi sesuatu kepada Mouza, aku harus memberi pelajaran kepada kakek tua itu. Sudah tahu jika saat ini kesehatan Mouza kurang stabil, malah diajak menjalankan ide konyol. Apa susahnya tinggal mengunci mereka berdua di rumah. Toh hasilnya sama aja, sama-sama nyetak gol," gerutu Keanu yang sudah tak sabar menunggu Mouza keluar dari restoran.


Tak berselang terlihat Mouza sudah keluar dari restoran. Keanu pun segera berlari untuk memastikan jika sang istri baik-baik saja.


"Za kamu gak papa kan?" tanya Keanu dengan panik.


"Aku gak papa, Bang. Cuma mual aja."


"Ya udah ayo pulang. Ide macam apa ini? Tinggal main bola aja harus pakai acara makan malam segala! Kayaknya dulu kita gak ribet kayak gini, deh. Tinggal giring bola masuk ke kandang dan gol. Gitu aja repot! Alan juga bukan pria yang tidak berpengalaman. Seharusnya dia bisa mencetak gol sendiri, tanpa melibatkan orang lain," gerutu Keanu yang tak bisa menahan rasa kesalnya.


"Udahlah, Bang! Jangan samakan Alan dengan kita. Kita kan emang sama-sama mau. Kalau Alan maunya sama ulet bulu."


.


.


...πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2