Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 97 | Menemukan Hana


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu


Saat ini usia kandungan Mouza sudah memasuki usia lima bulan. Badan yang tadinya terlihat langsing kini sudah mulai membengkak meskipun kehamilan masih berusia lima bulan.


Semenjak kehamilannya, Mouza belum berani untuk melakukan USG untuk menentukan jenis kelamin calon buah hatinya. Ia takut jika jenis kelamin calon anaknya hanya akan membuat Kakek Wijaya kecewa karena tak sesuai dengan keinginan.


Pagi ini dengan ditemani oleh Keanu, Mouza melakukan cek up bulanan. Dengan tekad bulat, ia memutuskan untuk melihat jenis kelamin anaknya. Ia sudah menyiapkan mental jika hasilnya tak sesuai dengan keinginan sang Kakek. Bagaimanapun Mouza tak bisa menentukan hasilnya, semua itu sudah ada yang mengaturnya.


"Kalau tidak yakin, tidak usah," kata Keanu sambil menggenggam erat tangan Mouza.


"Aku yakin, Bang. Dan aku sudah siap apapun hasilnya nanti," ucap Mouza dengan senyum tipis di bibirnya.


"Maafkan Kakek, ya. Gara-gara masalah Alan, pria tua itu melampiaskan kekecewaannya kepadamu. Aku yakin apapun jenis kelamin anak kita nanti, tidak masalah untuknya. Hanya saja saat ini pria tua itu sedang merasa kecewa."


Mouza kembali mengembangkan senyum di bibirnya. "Aku tahu, Bang. Kalaupun tak sesuai dengan keinginan kakek, kita bisa cetak lagi ya."


"Kalau masalah mencetak, mau berapapun aku jabanin Takutnya kamu gak kuat, Za." Keanu tertawa pelan.


Mouza berusaha untuk tetap tersenyum meskipun sebenarnya sedang gelisah saat menantikan sang dokter untuk memeriksanya.


Baru saja dokter mengoleskan gel di perut Mouza, Keanu langsung bertanya, "Bagaimana, Dok? Kecebongku laki-laki atau perempuan?"


Dokter yang hendak memeriksa Mouza hanya menahan senyum di bibir sambil menggelengkan kepalanya. "Memangnya ini anak katak?"


"Bukan sih. Tapi bikinnya kayak katak, Dok," ucap Keanu apa adanya.


Saat itu juga tangan Mouza langsung mencubit perut Keanu yang duduk disampingnya dengan kuat.


"Aduh, sakit, Za!"


"Makanya kalau punya mulut itu dikonsultasikan, Bang! Malu tahu!" geram Mouza.


"Untuk apa malu, bukankah seperti itu cara pembuatan, Dok?" Kini Keanu bertanya pada dokter yang sedang memeriksa detak jantung janin. Seketika wajahnya pun memerah karena pernyataan Keanu. Meskipun memang seperti itu proses, tetapi ia merasa malu, karena statusnya yang belum menikah.


"Bang!" sentak Mouza.

__ADS_1


Akhirnya Keanu pun terdiam dan memilih untuk fokus ke layar monitor dimana sudah menampilkan gambar yang menunjukkan perkembangan janin calon buah hatinya.


Begitu juga dengan mata Mouza yang ikut fokus pada layar tersebut. "Bagaimana Dok?" tanya Mouza.


"Janinnya berkembang dengan baik. Lihatlah, dia tersenyum," ujar sang dokter.


"Sungguh anak ajaib. Bukan hanya bisa ngerjain orang aja, tapi juga bisa nyapa. Sungguh anak ajaib," ujar Keanu.


"Jadi, apakah sudah sudah bisa dilihat jenis kelaminnya?" Mouza memberanikan diri untuk segera menuju pada intinya.


"Tentu saja sudah bisa. Sesuai dengan keinginan kalian, jenis kelamin buah hati kalian adalah laki-laki, calon pewaris keluarga Wijaya selanjutnya. Selamat ya."


Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Keanu saat mendengar jenis kelamin anaknya adalah laki-laki. Anak yang akan melanjutkan perjuangannya kerasnya saat ini. Namun, satu sisi lain hatinya merasa sedih saat melihat wajah Mouza yang telah murung. Bukan tidak senang, tetapi ia merasa telah gagal untuk mewujudkan keinginan kakeknya.


"Za, laki-laki dan perempuan itu sama. Mereka sama-sama buah cinta yang kita buat dengan peluh keringat serta desa.han. Apakah kamu merasa kecewa karena tak sesuai dengan keinginan Kakek. Ingat Za, ini adalah anak kita, kita yang mencetak dengan penuh keringat, jangan terpengaruh akan ucapan orang lain. Jika kakek merasa kecewa dan tidak terima, suruh nyetak sendiri," ujar Keanu untuk menghibur Mouza.


🌸🌸


Sudah berulang kali Keanu mengatakan agar Mouza tak memikirkan hasilnya, namun bukan Mouza jika tak memikirkan sebuah masalah yang ada. Karena tak ingin membuat pikiran Mouza terkurung rasa kecewa, karena telah mengecewakan kakeknya, Keanu langsung mengajak Mouza untuk singgah ke sebuah Mall. Sudah lama ia tak memutari toko demi toko.


"Kita mau ngapain kesini, Bang? Aku gak mood," ujar Mouza.


"Yakin?" Kedua alis Mouza menaut.


Keanu pun menganggukkan kepalanya dan dengan cepat Keanu mengangguk pelan dan langsung mengikuti langkah Mouza untuk melemaskan kaki di dalam Mall. Namun, saat hendak menaiki eskalator matanya tak sengaja menangkap Hana, mantan kakak iparnya. Karena tak ingin kehilangan jejak, Mouza memilih untuk menunggu wanita itu turun. Setelah itu ia bisa menanyakan dimana keberadaan mas Arif yang tak bisa ditemukan oleh tangan kaki Kakek Wijaya.


"Bang, seperti ada nyamuk yang harus ditangkap. Abang bantuin nangkap, ya!" kata Mouza pada suaminya.


"Nyamuk?" cicit Keanu.


"Iya. Itu ada mbak Hana. Sepertinya wanita itu baik-baik saja karena masih bisa keluyuran di Mall. Jika nanti dia gak ngaku, tugas Bang Ke ancam dia, oke!"


Keanu hanya mengangguk pelan. Apapun akan ia lakukan demi istri tercintanya, sekalipun harus berdebat dengan seorang wanita.


Cukup sabar Mouza menunggu mantan kakak iparnya sampai bawah. Rasanya ingin sekali ia menjambak rambut wanita yang selama tak pernah menunjukkan sisi baik kepada dirinya. Jika dulu masih menghargainya karena ia adalah istri dari kakaknya, maka saat ini tak ada lagi rasa segan telah menjadi orang asing.

__ADS_1


Baru saja Hana turun dari eskalator, Mouza sudah menyambut Hana. Dengan senyum di bibir serta lambaian tangan membuat Hana sangat terkejut.


"Mouza," lirih Hana.


"Halo mantan kakak ipar. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu sekarang?"


Mendengar Mouza memanggilnya dengan sebutan kakak ipar, membuat Hana terbelalak. Dalam hati ia membatin mengapa Mouza tahu jika saat ini dirinya telah berpisah dengan kakaknya? Apakah


Mantan suaminya yang telah memberitahu Mouza tentang kandasnya rumah tangga mereka? Semua pikiran itu menggema di kepala Hana.


"Kenapa bengong? Terkejut? Bagaimana Kalau kita ngopi dulu biar rileks?" tawar Mouza.


"Sorry, Za. Aku gak ada waktu." Hana mencoba kabur dari Mouza. Namun, bukan Mouza jika tak bisa menahan Hana.


"Jangan buru-buru. Kita ngopi dulu, ya!" kata Mouza dengan tatapan mata tajamnya. Tanpa persetujuan Hana, Mouza langsung membawa Hana ke sebuah cafe yang berada di dalam Mall.


"Za, kamu mau apa? Lepaskan!"


"Aku hanya ingin mengajak mantan kakak ipar untuk ngopi sebentar. Masa tidak mau. Sekarang mantan adik iparmu ini udah banyak duitnya. Ya, itung-itung mau berterima kasih karena saat itu Mbak Hana udah ngusir aku dan akhirnya aku ditampung oleh Abang Keanu dan dijadikan istrinya."


Hana pasrah saat Mouza sudah membawanya masuk ke dalam sebuah cafe mini yang berada di dalam Mall. Ia tak tahu apa yang diinginkan oleh Mouza.


Apa sih yang diinginkan oleh Oza? Batin Hana yang kemudian juga menatap kearah Keanu.


Sejak tadi Keanu tak ada memprotes sikap istrinya, anggap saja jika saat ini Mouza sedang melampiaskan kekecewaannya.


"Gak usah tegang seperti itu. Rileks aja! Aku bukan pemangsa manusia. Mending kita pesen kopi dulu, deh," ujar Mouza yang sudah memegang buku menu.


"Za, nggak usah bertele-tele! Sekarang katakan apa yang kamu inginkan. Aku gak punya banyak waktu untuk meladenimu!" Kini Hana memberanikan diri untuk memberontak.


Dengan senyum sinis ke arah Hana, Mouza berkata, "Kamu memang mantan kakak ipar yang sangat pintar bisa menebak jika aku sedang menginginkan sesuatu darimu. Tapi tenang aja karena aku tak ingin meminta apapun darimu, cukup katakan dimana keberadaan mas Arif saat ini?"


Mata Hana membulat lebar saat ditanya tentang keberadaan mantan suaminya yang sudah lima bulan tak diketahui kabarnya, karena setelah bercerai mereka berdua mulai menentukan hidup masing-masing.


"Aku tidak tahu," jawab Hana.

__ADS_1


"Aku tidak percaya! Cepat katakan dimana keberadaan mas Arif!" Paksa Mouza.


"Tapi aku benar-benar tidak tahu di mana keberadaan mas Arif, Za. Setelah perceraian itu mas Arif sudah tak terlihat lagi." Jelas Hana.


__ADS_2