Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Season 2 | Menjeput Kenza


__ADS_3

Seperti janjinya pada Kenza, siang ini Alan menjemput monster kecilnya hanya untuk bertemu dengan Mommy-nya Ellena. Bahkan Alan mengabaikan meeting bersama dengan klein pentingnya. Beruntung saja Keanu cepat mengetahui dan langsung menggantikan Alan.


Sesampainya di sekolahan, Alan langsung turun dari mobilnya. Dengan kacamata hitam yang menempel di depan mata, Alan bersandar di mobilnya. Banyak pasang mata yang terpesona dengan penampilan Alan, tetapi Alan hanya acuh. Saat melihat sosok Kenza yang sedang berjalan, Alan segera melambaikan tangan pada monster kecil itu.


"Nah, itu dia!" ujar Kenza.


"Itu Daddy-mu?" tanya Elenna, teman barunya.


"Iya. Dia Daddy-ku paling tampan sedunia," ujar Kenza dengan tawanya.


Kenza langsung mengajak Elanna untuk menghampiri Alan. "Kamu gak usah takut, meskipun terlihat dingin Daddy-ku orangnya baik ko," ujar Kenza agar Elanna tidak takut dengan Alan.


Bocah yang memiliki tinggi hampir sama dengan Kenza mengangguk pelan dan mengikuti langkah Kenza untuk mendekat kearah Daddy-nya.


Alan mengedarkan matanya untuk mencari sesuatu, tetapi tak ia temukan. Akhirnya ia melepaskan kacamatanya. "Dimana orangnya?" tanya Alan langsung


"Sorry Dadd, ternyata mulai hari ini Mommy-nya Elanna tidak menjemputnya lagi, karena sedang bekerja. Tapi aku bawa Elenna, Dadd!" ujar Kenza dengan wajah polosnya.


Alan hanya bisa mendesah dengan kasar. Yang ia inginkan adalah Mommy-nya Elanna, bukan Elanna.


"Untuk apa kamu bawa Elenna? Yang aku butuhkan Mommy-nya, bukan dia!" ketus Alan.


"Tapi Mommy-nya sedang bekerja, Dadd. Daddy tidak mau berkenalan dengan teman baruku?" tanya Kenza lagi.


Meskipun hatinya terasa kesal karena dirasa telah membuang waktu, Alan pun menatap gadis yang seusia Kenza di depannya.


Mata hitam, kulitnya putih bersih serta bibir yang tipis. Seketika mengingatkan Alan pada seseorang yang telah lama menghilang dari hidupnya.


"Dadd!" panggil Kenza lagi.

__ADS_1


Saat itu juga Alan tersadar. "Gadis yang cantik. Pasti Maommy-mu cantik dan Daddy-mu tampaTapi ku rasa masih tampan diriku," ujar Alan sambil mengelus rambut Elenna.


Ada getaran tak menentu di dadanya, tetapi Alan segera menetes perasaannya. Bahkan Alan tak mampu untuk menatap mata Elenna.


"Mommy Elenna memang cantik, Dadd! Aku rasa Daddy akan terpesona dengan Mommy-nya Elen," celetuk Kenza.


"Sudahlah, kamu ini masih kecil! Tau apa tentang pesona orang dewasa?"


Karena terasa panas, Alan langsung meminta Kenza untuk segera naik ke dalam mobil. Namun karena Elenna tak dijemput oleh Mommy-nya, Kenza berencana untuk mengantarkan Elenna pulang. Alan pun tak merasa keberatan. Lagi-lagi Alan harus pasrah ketika harus menuruti perintah Kenza.


"Dadd, kata Elena Mommy-nya sudah mendapatkan sebuah pekerjaan jadi dia tidak bisa mengajar les. Terus bagaimana dengan nasibku?" rengek Kenza.


Sekilas Alan melirik dari kaca spionnya. "Ya, kamu belajar bersama dengan Elenna saja. Anggap saja Elenna adalah gurumu," celetuk Alan dengan santai.


"What? Apa kata teman-teman nanti, Dadd! Aku ingin belajar agar tidak tersaingi oleh Elenna. Masa Elenna yang ngajar aku? Yang bener aja, Dadd!" keluh Kenza.


Bocah yang hampir sama dengan Mommy, yang selalu mengoceh tanpa henti jika sudah menemukan topik yang sangat pas. Bersama dengan Kenza, seperti bersama dengan Mouza tempo dulu saat masih pacaran.


Mendengar suara Elenna, jantung Alan kembali berdesir. Entah mengapa suara Elenna seperti suara seseorang yang sedang ia rindukan.


"Janga panggil aku, Ken! Itu seperti panggilan untuk anak laki-laki!"


"Jadi, aku panggil apa?" tanya Elenna yang memang tidak tahu nama panggilan Kenza.


"Panggil saja, Eza."


Hampir sepuluh menit akhirnya Alan telah sampai di depan sebuah rumah yang sederhana. Tentu saja itu adalah rumah Elenna.


"Benarkah ini rumahmu? Mengapa terlihat sunyi? Dimana Daddy-mu?" tanya Alan sebelum menurunkan Elenna.

__ADS_1


Bocah kecil itu terdiam karena tak bisa menjawab pertanyaan Alan, karena ia sendiri tidak tahu di mana keberadaan Daddy-nya. Selama ini yang ia tahu hanyalah Mommy-nya saja.


"Daddy aku β€”,"


"Kamu gak usah sedih jika Daddy kamu sudah tidak ada. Semoga Daddy kamu tenang di surga. Kamu boleh kok anggap Daddy Alan sebagai Daddy kamu," ucap Kenza dengan tulus.


"Eza, terima kasih ya. Aku sendiri tidak tahu apakah aku mempunyai Daddy atau tidak, karena sejak kecil aku sudah tidak tahu Daddy-ku," ujar Elenna dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Alan yang menyadari jika bocah itu hendak menangis mendadak hatinya terenyuh. Lagi-lagi dadanya bergerumuh tak menentu, padahal sebenarnya ia tidak menyukai anak kecil, karena hanya dianggap mengusahakan seperti Kenza.


"Jadi apakah kamu yakin untuk di rumah sendirian?" tanya Alan.


"Aku sudah terbiasa untuk tinggal sendirian di rumah, tapi rumah disini sangat berbeda dengan rumah di lama," ujar Alan.


"Apakah Mommy-mu tahu jika kamu sudah pulang?"


Elenna menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tidak sempat memberi tahu Mommy-ku karena Uncle langsung mengajakku pulang," ujar Elenna.


Mata Alan kembali menjadi ketika ia menjadi sasaran lagi. Namun kali ini bukan Kenza yang menyalahkan dirinya, tetapi teman barunya.


"Jadi kamu mau menyalahkanku?"


"Tidak! Maksud aku bukan begitu Uncle!" Elenna menggelengkan kepalanya.


"Ah, sudahlah! Kamu memang sama seperti monster kecil itu yang akan menindasku. Sudahlah mending aku kembalikan kamu ke sekolahan. Aku tidak mau Mommy-mu panik dan menganggap kmau hilang. Lain kali kasih kabar dulu jika ingin pulang. Bagaimana jika saat ini Mommy-mu sudah melaporkan kehilanganmu ke kantor polisi? Bisa-bisa aku akan dituduh telah menculik mu!" kesal Alan yang merasa sedang di permainkan oleh anak kecil.


Namun, Alan melupakan sesuatu, bahwa dirinyalah yang mengajak Elenna pulang. Alan, tetaplah Alan yang tak ingin disalahkan.


"Sudahlah. Kamu tidak usah mendengarkan Daddy-ku. Dia memang seperti itu! Padahal tadi dia yang mengajak kita pulang, kan?" Kenza hanya bisa mendesah kasar saat Daddy-nya tak ingin disalahkan dan memilih menyalahkan orang lain.

__ADS_1


...πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2