
Setelah beberapa hari berada di Lombok, akhirnya Hendri dan Aya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.
Setelah beberapa jam akhirnya pesawat yang di tumpangi Hendri dan Aya, mendarat di bandara kota xx.
Aya dan Hendri sudah di jemput oleh Adi dan Lisa.
"Assalamu Alaikum kak Lisa," ucap Aya.
"Wa Alaikum Salam dek," gimana di sana seru gak dek.?
"Masuk dulu sayang, mereka kepanasan loh kamu ajak ngobrol duluan,!" ucap Adi.
Setelah mereka memasuki mobil dan menuju ke arah jalan pulang.
Sepanjang perjalanan Lisa dan Aya sibuk dengan obrolan receh mereka.
Sedangkan Adi dan Hendri hanya diam menikmati suara istri-istri mereka.
Setelah sampai di kediaman Adi, mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Namun sebelum masuk, tiba-tiba Arin menghambur ke dalam pelukan Hendri.
"Om Hendri, bawa oleh-oleh tidak buat aku.?"
"Iya pasti ada buat kamu yang tersayang," ucap Hendri.
"Ih gombal deh, nanti aunty Aya marah loh.!"
Hendri dan Arin masuk duluan, sedangkan Adi, Lisa, dan Aya masih berada di belakang mereka.
"Kebiasaan deh mereka itu, kamu jangan cemburu ya dek."
"Buat apa aku cemburu kak, dia keponakan aku loh bukan cwe lain."
Kedatangan mereka juga di sambut oleh ibu Adi dan nenek Hendri.
Mereka semua berkumpul di ruang tengah.
Hendri dan Aya memberikan oleh-oleh yang mereka beli dan mereka bagi-bagi kepada semua orang yang ada di sana.
"Terimakasih aunty, cantik banget ini."
"Sama-sama, ini ada juga loh buat Ara."
"Wah lucu sekali aunty, terimakasih ya."
"Pasti cari kesempatan tuh," ucap Adrian yang mulai usil nya kepada Arin.
"Apaan sih mas ini, ngurusin orang terus deh."
"Sudah-sudah mulai lagi,!" ucap Adi kepada Arin dan Adrian.
Aya dan Hendri masuk ke dalam kamar mereka.
Hendri memutuskan untuk menginap dulu malam ini, dan akan berangkat ke kota besok pagi.
Masih ada hadiah dari Arden, yang selama 3 hari menginap di hotel.
__ADS_1
Setelah semua nya pada selesai, Hendri dan Aya berniat untuk menemui Naura, dan akan mengklarifikasi semua masalah.
"Dek kamu kok ngelamun, mikirin apa sayang.?"
"Eh enggak ko kak, aku hanya mikirin besok pagi kita akan pulang ke kota dan aku akan berpisah lagi sama keluarga di sini."
"Nanti kalo ada libur kuliah, kita bisa berlibur ke sini lagi dek," tenang saja kan kakak punya mobil, yang bisa pergi kemana saja.
"Terimakasih ya kak, kakak selalu mengerti perasaan aku."
"Sama-sama dek, itulah guna nya suatu hubungan."
Jam menunjukan pukul 6 sore.
Setelah selesai mandi, Hendri bersiap-siap akan pergi ke mushola.
Saat tiba di depan kamar, Hendri bertemu dengan Aidan.
Yang seperti nya baru datang dari bekerja.
"Eh om Hendri, sudah lama datangnya.?"
"Iya, sekirar jam 2 siang tadi," cepat bersih-bersih dulu, biar om tunggu dan kita berangkat bersama.
"Eh iya om, sebentar ya."
Setelah itu Hendri pergi ke halaman rumah yang di sana sudah ada Adnan, dan Adi.
Namun tidak ada Adrian, entah kemana dia Hendri tidak tahu.
"Ayo kita berangkat,!" ucap Adi kepada Hendri.
"Oh yasudah kami duluan," jawab Adi.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Aidan datang dengan menggunakan pakaian rapi.
***
"Maap Intan, saya sudah ngopi," jika saya mau, saya bisa minta bantuan Ob atau yang bekerja di bagian dapur.
"Tapi buatan saya enak pak, bapak harus mencoba nya."
Sungguh Arden sudah sangat geram dengan tingkah laku Intan.
Namun demi menjaga nama baiknya, Arden harus menahan amarah nya, selagi Intan tidak berbuat yang melewati batas kewajaran.
"Maap Intan, sialahkan duduk di tempat kamu,!" atau kamu mau jabatan kamu sekarang akan saya turunkan di bagaian dapur, agar setiap harinya bisa membuatkan saya kopi.?
Intan berpikir sejenak, setelah baru sadar Intan segera menggelengkan kepala nya dan cepat-cepat pergi meninggalkan Arden sendirian.
Arden pergi masuk ke dalam ruangan nya, namun sebelum masuk ada seseorang yang sangat Arden kenali dan tiba-tiba datang memeluk Arden.
"Arden maapkan aku, ternyata aku tidak sanggup untuk kehilangan kamu," ucap perempuan itu.
Degggggg
Inilah yang tidak Arden inginkan, sudah susah payah Arden menghindar, namun tiba-tiba dia datang dan berucap seperti tidak ada masalah besar.
__ADS_1
"Lepas.!"
Arden melepaskan pelukan dari Melinda dengan kasar.
Sehingga semua para pegawai kantor pada melihat aksi perbuatan mereka berdua.
"Arden aku mohon, maapkan aku."
"SATPAM TOLONG HUSIR WANITA INI DARI KANTOR INI,!" ucap Arden yang sudah sangat geram dengan tingkah laku Melinda.
"Aku mohon Arden tolong jangan husir aku."
Melinda memohon dan bersimpuh di kaki Arden.
Melinda sangat menyesal, telah melakukan kesalahan yang terbesar dalam hidupnya.
Mungkin penghianatan tidak dapat bisa di maapkan bagi Arden.
Dalam lubuk hati Arden, sungguh sangat membenci sipat egois Melinda.
Dengan seenaknya dia datang untuk meminta maap, namun dia tidak memikirkan bagaimana terlukanya hati Arden dengan penghianatan yang Melinda perbuat.
"Cukup Melinda, buat apa lagi kamu memohon," semua sudah terlambat.
"Aku yakin Arden semua nya pasti bisa kita perbaiki, dan aku yakin dalam hati kamu masih memiliki perasaan seperti dahulu."
"Sungguh percaya diri sekali kamu, apakah tidak memiliki muka,?" datang-datang dan mengatakan aku masih memiliki perasaan yang sama seperti dahulu.
"Aku percaya Arden, karena sampai saat ini kamu belum memiliki penggantinya diri ku."
Dengan gaya angkuh nya, Melinda mengatakan itu kepada Arden.
"Pak siapa dia, kenapa dari tadi ucapannya percaya diri sekali,?" ucap Intan.
"Dia bukan siapa-siapa saya, bahkan saya tidak pernah mengenal dia," jawab Arden tanpa memandang wajah Melinda.
"Wah tidak tau malu sekali kamu nona, bukankah tuan Arden tidak mengenali anda.!"
"DIAM KAMU!!!!!!!!," tahu apa kamu, tentang hubungan saya dengan Arden.
"Kata pak Arden, dia tidak mengenal anda."
Melinda merasa sangat marah, tatapan semua para pegawai Arden, memandang dirinya tidak ada gunanya.
"Arden plissss aku mohon."
"Seret dia keluar dari ruangan ini pak, dan kalian semua lihat dia dengan jelas,!" jika dia berani-berani masuk kedalam kantor ini, jangan di beri izin.
"Baik pak," ucap semua para pegawai Arden.
"Tega kamu Arden, aku pastikan kamu menyesal sudah meninggalkan aku," teriak Melinda yang di seret oleh penjaga kantor.
Setelah Melinda pergi, semua pegawai pun juga ikut meninggalkan Arden yang masih berdiri sendiri.
"Apa anda perlu sesuatu bos,?" ucap Dani, asisten peribadi Arden.
"Aku mau pulang saja Dani, tolong hari ini kamu urus semua nya.!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu semua, Arden pergi meninggalkan kantornya dengan perasaan kesal, dan marah.