
'Kau yang memulai Melinda, jadi jangan salahkan aku berubah seperti orang asing bagi diri mu,' batin Arden.
Saat ini Arden berada di ruangan fitnes nya, menghabiskan waktu untuk berolah raga setelah pulang dari kantor.
Bahkan Arden tidak memiliki nafsu untuk sekedar makan.
Arden kembali teringat saat masa-masa diri nya bersama dengan Melinda.
Bahkan dulu saat Arden masih bersetatus sebagai kekasih Melinda, Arden selalu mengalah apa yang di inginkan oleh Melinda.
Saat Melinda ingin menjadi model majalah Arden pernah melarang nya,
namun Melinda malah mengabaikan dengan ucapan Arden.
Bahkan yang lebih menyakitkan saat hubungan nya sempat merenggang, karena Melinda sibuk dengan kegiatannya yang berada di luar negri.
Namun kini Arden di sadarkan oleh keadaan, dimana Arden melihat dengan mata kepala nya sendiri saat Melinda melakukan hal yang men****kan, bahkan sampai menghancurkan perasaan Arden berkeping-keping.
Namun keberuntungan selalu berpihak kepada Arden.
Di saat hati dan perasaannya hancur berkeping-keping, Tuhan menghadirkan wanita berhati malaikat yang rela menolong tanpa berpikir bagaimana dengan keselamatannya.
Kini wanita yang menolong nya dulu, telah menjadi pengobat hati dan pencerah kehidupan Arden.
Arden sangat bersyukur telah di pertemukan dengan wanita secantik dan sholehah seperti Falisha.
Di dalam hati terdalam Arden, hanya penuh dengan nama Falisha, dan sudah tidak ada lagi tersisa nama Melinda di hati Arden.
"Mas mau makan, dari tadi mas tidak ada makan."
"Boleh sayang, tapi suapin mas ya."
"Ih manja banget sih."
__ADS_1
"Kan sama istri mas sendiri, emang ada yang marah.?"
"Tidak ada mas, ayo aku suapin mas.!"
Saat ini Arden sedang berada di ruang makan.
Falisha menyuapi makanan tersebut kedalam mulut Arden dengan sabar.
Suapan demi suapan telah Arden terima, hingga tidak ada tersisa lagi di dalam piring tersebut.
"Alhamdulillah terimakasih sayang, mas sangat kenyang sekali," masakan kamu enak banget.
"Sama-sama mas," aku senang mas makan dengan lahap.
Tiba-tiba pintu rumah mereka di ketok oleh seseorang dengan kasar.
"Siapa mas, kok seperti itu bertamu ke rumah orang.?"
"Hati-hati mas.!"
"Iya sayang."
Ardeh berjalan keluar menuju ruang tamu, namun saat Arden membuka pintu tersebut, tiba-tiba sebuah tam**ran dan puk*lan mendarat di pipi dan tubuh Arden, sehingga tanpa ada perlawanan Arden terjatuh ke lantai dan orang terebut membabi buta me*ukul Arden.
Mendengar ada keributan, tanpa memikirkan ucapan yang telah Arden katakan, Falisha keluar dan melihat suami nya sudah tersungkur ke lantai.
"Apa-apaan ini, kenapa anda berani sekali memukul suami saya.?"
Orang tersebut terdiam saat melihat Falisha yang sedang marah dan menatap tajam ke arah nya.
"Kenapa anda diam, dimana keberanian anda yang telah berani memukul suami saya,?" anda sungguh tidak memiliki hati tuan, percuama anda berpakain rapi namun siakap anda seperti pereman.
Degggggg
__ADS_1
Seseorang tersebut terdiam, sambil menatap wajah Falisha dengan penuh kebingungan.
Arden yang melihat laki-laki tersebut, yang telah memukulnya dengan kasar kini terdiam saat melihat kedatangan Falisha.
"Ada apa om, kenapa om datang seperti seorang kriminal.?"
"Tolong kamu harus bertanggung jawab dengan anak saya.!"
"Tanggung jawab apa maksud om, apakah saya pernah berbuat salah kepada Melinda selama ini,?" ucap Arden
"Tolong Arden, hanya kamu yang bisa menolong Melinda,!" dia sedang depresi dan kandungan nya juga sangat lemah.
"Apa hak anda Om, apakah saya bo*oh mengakui anak yang justru bukan darah daging saya.?"
"Tapi Melinda sudah mengatakan anak itu adalah anak kamu, hasil dari percintaan kalian berdua."
Arden memandang ke arah Falisha, dia hanya ingin melihat reaksi wajah Falisha, saat ayah Melinda datang-datang dan menuduh anak yang di kandung Melinda adalah anak nya.
"Anda orang tua nya saja berhasil dia bo*ohi, apa lagi saya yang bertahun-tahun mencintai dan mengharapkan sebuah pernikahan bersama nya kandas begitu saja," apakah selama ini anda tidak melihat kelakuan anak anda di belakang keluarga nya.?
Bukk bukk bukk
"Jaga ucapan mu Arden, dia sangat mencintai kamu, apakah karena perempuan ini kamu menjadi berubah.?"
Arden tersenyum saat melihat keb**ohan ayah Melinda, yang selama ini di butakan oleh pekerjaan, sehingga tidak pernah mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan putri semata wayang nya, yang selama ini dia anggap sebagai prinses nya.
Arden mengetahui ini semua akan terjadi, dan hari ini apa yang dia pikirkan ternyata benar-benar terjadi.
Beruntung nya Arden, mengetahui ini tepat waktu, sehingga sang istri tidak akan marah-marah karena salah sangka.
"Sayang, tolong ambilkan laptop mas yang ada di ruangan kerja itu, dan bawa kesini.!"
"Baik mas."
__ADS_1