
Malam ini Arden memutuskan untuk menginap di rumah orang tua Falisha, sebab nenek Falisha meminta dan Arden tidak mungkin untuk menolak.
"Mas tidak apa-apa kan kita menginap malam ini.?"
"Tidak apa-apa dong sayang, ini rumah orang tu kamu, berarti rumah kita juga sayang."
"Terimakasih ya mas, sudah mau mengerti."
"Sudah seharusnya sayang, mas sebagai suami harus membahagiakan istri mas ini."
"Mas."
" Hemmm apa sayang.?"
Saat ini Arden sedang memeriksa laporan yang di kirimkan oleh seketarisnya.
"Mas kamu itu sebenarnya sayang gak sih sama aku.?"
"Ngomong apa sih sayang, ya jelas lah aku sayang sama kamu, jika tidak buat apa sekarang ini aku bersama kamu."
"Pake bangetttttt gak sih mas.?"
"Bangetttttr."
"Ih gak serius deh mas ini, mas lihat aku dong jangan lihat laptop nya terus.!"
"Iya sayang ini mas lihat, nih nih nih nih."
Hingga muka Arden sangat dekat dengan muka Falisha.
Sedangkan Falisha sangat malu, saat di tatap sang suami sangat dekat seperti itu.
Walaupun sudah jelas semua yang ada pada diri Falisha sudah Arden lihat, namun tetap saja Falisha merasa malu.
"Loh ko diam sih, mana yang kata nya nanyain mas sayang atau tidak.?"
__ADS_1
"Apaan sih, kan tidak seperti ini juga mas," ucap Falisha yang sangat malu.
"Ayo tatap mas, katanya mau tau mas sayang nya sebesar apa.?"
Falisha memberanikan diri menatap muka Arden sehingga tatapan mereka bertemu hingga dekat dan sangat dekat dan cup cup cup cup cup.
Cium kening, pipi kanan, pipi kiri, hidung dan terakhir bibir.
"Apa yang kamu ragukan sayang, apa ada hal yang membuat perasaan kamu ragu kepada mas, ayo jawab.!"
"A-aku," ucap Falisha yang kembali memalingkan muka nya.
"Jangan malu sayang, sekarang kita sedang berdua dan tidak ada orang lain yang melihat dan mendengarkan kita," jadi katakanlah apa yang membuat perasaan kamu menjadi ragu kepada mas.!
"Apakah mas benar-benar mencintai ku, dan tidak akan meninggalkan aku.?"
Kata-kata itu lolos begitu saja, apa yang dari tadi Falisha ragukan setelah mengetahui mantan kekasih Arden yang sedang berada di kota ini, dan masih meinginkan Arden kembali kepada diri nya.
"Sayang dengarkan mas, dan selalu ingat kata-kata mas ini,!" jangan pernah meragukan cinta dan sayang mas kepada kamu, mas tulus dan benar-benar sangat tulus.
"Aku hanya takut mas, jika kamu meninggalkan aku, dan akan kembali kepada masalalu kamu."
"Jangan berpikir yang aneh-aneh sayang yang akan membuat kamu menjadi setres,!" mas tidak akan meninggalkan kamu dalam keadaan apa pun, ingat sayang di dalam sini dan di dalam rahim kamu sudah bayak mas tanamkan benih-benih cinta mas, dan kita hanya menunggu Tuhan kapan mempercayai kita untuk segera menjadi orang tua, dan hanya kamu yang pernah melihat dan merasakan semua yang ada di dalam tubuh mas ini.
Blusssssssss
Wajah Falisha menjadi memerah, saat kata-kata Arden yang mengatan merasakan.
"Kenapa kok malu sih, mas kan serius.?"
Cuppppp
Arden kembali mencium mesra bibir sang istri sehingga adegan tersebut berubah menjadi ciuman panas.
"Mas pengen sayang, boleh ya.?"
__ADS_1
Falisha hanya mengangguk, karena sedari tadi tubuh mereka sangat dekat sehingga membuat Falisha merasakan ada sesuatu yang ingin segera di lakukan, dan Arden pun merasakan hal yang sama.
Dan terjadilah adegan panas yang mereka lakukan di sebuah kamar milik Falisha yang ada di rumah orang tua nya.
Arden kembali menanamkan benih-benih cinta ke dalam rahim istrinya dan berharap semoga Tuhan segera memberikan mereka secepatnya kepercayaan menjadi orang tua.
***
Setelah sampai rumah ternyata nenek Hendri sudah tertidur pulas, dan terpaksa bakso yang mereka bawa tadi di taruh di dalam kulkas.
Setelah mereka sama-sama membersihkan tubuh yang sangat lengket akibat debu dan folusi udara.
Aya mulai membersihkan wajahnya dengan skincare malam, sehingga saat bangun nanti pagi wajah Aya terasa lebih fres dan segar.
"Sayang mas ada hadiah buat kamu, nih pakai ya.!"
"Apa ini mas, dan hadiah apa.?"
"Buka saja dan lihat.!"
Saat Aya membuka bingkisan tersebut, Aya di buat melongo.
Tidak percaya jika Hendri membeli gaun tidur yang akan membuat dia masuk angin nantinya.
"I-ini mas, aku malu pakainya."
"Tapi mas pengen kamu pakai sayang, biar mas lebih semangat lagi.!"
Mau tidak mau, Aya memakai gaun yang sangat kekurangan bahan itu.
Sekitar 15 menit lama nya Hendri menunggu, akhirnya Aya keluar dengan penampilan yang hampir Hendri tidak kenali
"Mas."
"Sa- sayang kamu.????????"
__ADS_1