
Sekitar sembilan jam lama nya di perjalanan, akhir nya pukul delapan malam setelah sholat isa, Arden dan Falisha tiba di tempat tujuan.
"Kak Arden masuk juga ya, aku kenalkan sama mamah dan papah aku.!"
"Iya dek, tidak sopan juga jika kakak langsung pulang."
Falisha berkali-kali mengetok pintu rumah nya, namun tidak kunjung ada yang membuka pintu rumah tersebut.
Tidak lama setelah itu, ada seorang perempuan yang lewat di depan rumah Falisha, dan mengatakan.
"Neng Falisha sudah pulang.?"
"Eh bi Nani, iya bi baru saja sampai," tapi kenapa ya bi, rumah pada kosong.?
"Eh si eneng, masa tidak tahu neng," si bapak masuk rumah sakit pagi tadi, sakit nya kambuh lagi neng.
"Ya Allah, bibi serius.?"
"Iya neng, ayo cepat pergi,!" kasihan si bapak.
Setelah bi Nani pergi meninggalkan rumah Falisha, muka Falisha terlihat sangat cemas dan ketakutan.
"Dek yang tenang dulu, kamu punya kunci rumah atau apa,?" biar kamu masukan dulu semua barang-barang kamu dan ganti dulu pakaian nya, setelah itu kakak antar ke rumah sakit.
Falisha cepat-cepat mengambil kunci yang biasa nya di simpan di tempat pot bunga.
"Masuk dulu kak, biar aku buatkan air minum dulu.!"
"Tidak osah dek, kamu saja yang masuk," kakak tunggu di sini saja, takutnya akan menjadi fitnah.
Setelah itu Falisha cepat-cepat masuk ke dalam rumah nya, dan menaruh barang-barang bawaan nya.
Setelah itu Falisha cepat-cepat membersihkan tubuh nya yang sudah terasa sangat lengket.
Sekitar lima menit akhir nya Falisha keluar rumah degan keadaan sedikit lebih segar.
"Ayo kak kita berangkat.!"
"Iya dek."
Perjalanan dari rumah Falisha menuju rumah sakit memakan waktu dua puluh menit.
Akhirnya Falisha dan Arden sampai rumah sakit.
Falisha bertanya kepada resepsionis rumah sakit.
"Maap kalo boleh saya tahu, dimana ruangan bapak Radix.?"
"Maap anda siapa nya bapak Radix.?"
"Saya anak nya."
Setelah mengatakan itu, penjaga resepsionis tersebut mengatakan ruang rawat Radix.
Setelah Falisha dan Arden sampai di muka ruangan Radix.
Falisha membuka ruangan tersebut, dan ternyata di sana mamah dan nenek nya sedang menunggu Radix yang sedang menggunakan alat inpus.
"Assalamu Alaikum," ucap Arden dan Falisha bersamaan.
__ADS_1
"Wa Alaikum Salam," jawab Rahma dan ibu Radix.
"Mamah maapkan Falisha," ucap Falisha menangis di pelukan Rahma dengan tesedu-sedu.
"Iya sayang, tidak apa-apa."
"Papah kapan masuk rumah sakit mah.?"
"Kemaren papah baru masuk sayang, penyakit nya kambuh lagi."
Setelah mengatakan itu semua, Rahma melihat kearah Arden.
Tidak biasa nya Falisha bersama seorang laki-laki.
Sebab selama ini Falisha tidak pernah mengenalkan seorang laki-laki di keluarga nya, yang Falisha ketahui hanya sekolah dan bekerja.
"Sayang dia siapa,?" ucap nenek Falisha yang mengerti dengan tatapan mata Rahma yang sedang kebingungan.
Falisha melepaskan pelukan nya kepada Rahma.
"Oh iya Falisha lupa, nenek, mamah," kenalkan ini kak Arden, dan kak Arden ini adalah nenek dan mamah nya Falisha.
Arden maju mendekat kearah Falisha, Rahma, dan ibu nya Radix.
"Kenalkan nama saya Arden, saya teman nya Falisha di kota," ucap Arden dengan hormat.
"Terimakasih nak Arden, sudah mau mengantarkan Falisha sampai ke sini," ucap Rahma.
"Sama-sama ibu, saya mengerti dan saya juga sangat ikhlas membantu Falisha."
Falisha dan Arden berjalan mendekat ke arah ranjang Radix.
Falisha membangunkan papah nya yang sedang dalam keadaan lemah.
"Dek sabar."
Radix terbangun, saat melihat anak semata wayang nya itu datang dan menangis.
Radix juga mengusap lembut rambut Falisha.
"Sayang nya papah kok nangis, masa anak cwe cengeng sih," ucap Radix.
"Falisha kangen sama papah, papah jangan sakit-sakit lagi."
"Iya sayang doa kan papah agar cepat sembuh dan kita dapat berkumpul lagi."
Arden yang saat ini juga dekat sebelah Falisha, merasa sangat terharu.
Ternyata di balik ketegaran Falisha yang sangat kuat, dia juga sebagai perempuan yang manja jika sudah berkumpul dengan orang tua nya.
"Papah, kenalkan ini kak Arden,!" dia yang mengantarkan Falisha dari kota sampai sini.
"Terimakasih nak Arden sudah mau mengantarkan anak saya."
"Sama-sama om, saya ikhlas untuk membantu."
Malam ini Arden memutuskan untuk menginap di rumah sakit, bersama Falisha.
Sedangkan Rahma dan ibu Radix berpamitan untuk pulang, karena sudah dari kemaren mereka tidak ada pulang kerumah.
__ADS_1
Sudah pukul 10 malam, namun Arden dan Radix tidak juga tidur.
Mereka sibuk dengan obrollan, saling bertanya kegiatan masing-masing.
Dan sesekali mereka saling melempar canda dan tawa.
Sedangkan Falisha masih sibuk dengan hanphone nya, sedang berselancar di media sosial.
Namun setelah itu, tiba-tiba terdengar bunyi handphone Falisha yang terjatuh, yang artinya Falisha sudah tertidur sangat nyenyak dalam keadaan masih duduk.
Arden yang merasa tidak enak melihat posisi Falisha tertidur, akhirnya meminta izin kepada Radix untuk menggendong Falisha dan membaringkan nya di shofa yang ada di ruangan itu.
Dan Radix juga memberi izin kepada Arden, untuk mempersilahkan Arden membaringkan Falisha ke atas shofa.
Sekitar jam 11 malam, akhirnya Arden memutuskan untuk tidur, namun sebelum tidur Arden bertanya kepada Radix.
"Maap om, apakah om perlu sesuatu,?" mau minum atau ke kamar mandi sebelum tidur.
Dan Radix meminta tolong kepada Arden, untuk membantu nya pergi ke kamar mandi, untuk menunaikan hajat nya yang sedari tadi dia tahan karena tidak enak untuk meminta bantuan kepada Arden.
***
Hendri mengajak Aya untuk pergi ke sebuah pasar malam.
Dan dengan senang hati Aya menyetujui atas tawaran dari Hendri.
"Kamu mau beli apa dek.?"
"Tidak kak, aku pengen jalan-jalan saja."
"Beli saja dek, nanti kakak yang bayar.!"
"Beli makanan saja ya kak, nanti kita bawa juga ke rumah buat nenek."
"Baiklah tuan putri, apa ada lagi yang mau di beli dek.?"
"Uang nya di tabung saja kak buat keperluan yang lain.!"
"Uang keperluan buat melamar kamu sudah tersimpan dek," jadi tinggal menunggu kata sah saja.
"Ihhhh kak Hendri," ucap Aya dengan muka malu-malu.
"Kakak serius dek, kita langsung nikah saja ya dek,?" tidak perlu pakai acara tunangan segala.
Kita sama-sama tidak memiliki ibu dan bapak juga.
"Aku pikir-pikir nanti ya kak."
"Apa kamu masih ragu dek dengan kesetiaan kakak.?"
"Tidak kak, aku mikir kuliah dan pekerjaan aku saja nanti," jika aku nikah bagaimana.?
Hendri tersenyum dan mengusap lembut kepala Aya.
"Kakak tidak melarang apa yang kamu inginkan dek," yang terpenting kamu selalu ingat dengan tugas kamu sebagai seorang istri.
Jadi kita nikah saja ya dek.
Dengan senyum malu-malu Aya meanggukkan kepala nya, bahwa dia setuju dengan rencana keseriusan Hendri.
__ADS_1
Hampir otw menikah ya gaes 🤭🤭🤭
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Hadiah agar aku lebih semangat up nya.🤗🤗🤗🤗🙏