Kekasihku Driver Ojek Online

Kekasihku Driver Ojek Online
Liburan Ala Hendri dan Aya


__ADS_3

Setelah sholat isa Hendri dan Aya bersiap-siap untuk diner romantis yang di adakan malam ini buat mereka.


Acara yang di adakan di dekat pesisir pantai, suasana sepi malam, air pantai yang bergelombang membuat suasana yang tercipta sangat romantis.


"Kak ko aku tidak pede ya.?"


"Kenapa lagi dek, kamu tidak suka.?"


"Bukan begitu kak heeee, aku berasa tidak enak saja," lebih enak juga kita makan di warung, atau di warteg.


"Udah dek, nama nya juga di beri hadiah sama orang kaya jadi kita nikmati saja.!"


"Iya deh kak."


Dan keheningan terjadi, bukan tidak suka dengan suasana ini semua.


Namun mereka hanya tidak terbiasa, karena menurut mereka ini semua hanya membuang-buang uang saja.


Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, menurut Hendri ini semua sudah selesai.


Tidak ada dansa romantis ataupun perlakuan romantis kepada Aya, sebab bagi Hendri sikap romantis belum tentu menjamin kesetiaan, yang penting tindakan dan bukti kesetiaan.


Sebab, jika sama-sama mencintai maka akan terlihat keseriusan tanpa ada sikap romantis.


Sambil menuju kamar hotel, Hendri dan Aya tertawa bersama.


Menertawakan sikap mereka yang seperti kampungan.


"Kak lain kali kalo punya rezeky, kita cari tempat penginapan yang murah-murah saja ya,!" tidak perlu juga tempat romantis.


"Lah kenapa dek.?"


"Aku tidak suka saja kak, selain risih, aku rasa buang-buang uang saja."


"Kamu itu dek."


Setelah mereka sampai di dalam kamar hotel, Aya dan Hendri membersihkan tubuh mereka yang terasa lengket.


Setelah semua nya selesai, Hendri mencek notifikasi di handphone nya yang sedari tadi berbunyi terus.


"Kenapa kak.?"


"Tidak tau dek, ini loh tumben saja Haris telepon kakak."


"Ada masalah kak.?"


"Sebentar kakak telepon dulu ya, siapa tahu sangat penting dek."


"Assalamu Alaikum Haris, ada apa.?"


"Wa Alaikum Salam," maap ganggu, ini loh tadi di bengkel ada keributan.


"Keributan apa, kasih tahu aku lah.!"

__ADS_1


"Itu loh, Naura datang ke bengkel," katanya tidak iklas jika kamu menikah dengan Aya.


"Lah mana bisa begitu, ini kan masalah hati," iklas atau tidak itu urusan saya bukan hak dia.


"Ya nanti jelaskan saja, jika kalian sudah selesai liburannya,!" apalagi dia seperti hamil besar.


"Iya nanti aku bicarakan dulu sama Aya," terimalasih ya sudah kasih tahu.


"Iya sama-sama," selamat bersenang-senang ya, jangan lupa nanti bawa kabar gembira setelah pulang.


"Aminn doakan saja ya."


Setelah sambungan terputus, Hendri menghembuskan napas kasar, dan itu terlihat dari sorot pandangan aya.


"Kenapa kak, apa ada masalah.?"


"Iya dek, ini masalah Naura."


"Kenapa Naura kak, apa dia marah sama aku.?"


"Iya dek, Naura datang ke bengkel dan marah-marah," katanya tidak ikhlas jika kita menikah.


"Terus bagaimana ini kak, apakah aku harus meminta maap kepada Naura.?"


"Nanti setelah liburan selesai, kita akan bertemu kepada Naura dek," tidak perlu untuk meminta maap, bukannya kita memang tidak memiliki salah kepada dia.


"Tapi kak, aku merasa bersalah saja," sudah merebut cinta pertama dia.


"Tidak ada yang salah dek, coba kakak tanya kapan kamu suka kepada kakak,?" jawab yang jujur loh dek.


"Tatap muka kakak dek,!" kenapa kamu tidak pernah membalas perasaan kakak dari dulu.?


"Maap kak, aku hanya saja takut Naura kecewa," setelah aku mengetahui bahwa Naura juga menyukai kakak, aku berpikir lebih baik mundur, namun perlakuan kakak kepada ku bukan membuat aku mundur malah membuat aku semakin takut jika cintaku akan terlalu dalam kepada kakak.


"Tidak ada salah nya dek, jika kita memang sama-sama saling suka dan cinta," yang salah itu, jika Naura tetap memaksakan perasaannya kepada kakak, namun kakak tidak pernah memiliki perasaan yang sama kepada dirinya, itu akan membuat dia akan semakin tersiksa karena kakak tidak pernah memiliki perasaan apapun kepada dirinya.


"Maap kak."


"Jangan merasa bersalah dek, yakinlah rumah tangga kita akan baik-baik saja.!"


Setelah itu Aya dan Hendri tidur sambil berpelukan, dan seakan-akan mereka berdua merasa takut kehilangan.


***


Seperti kegiatan sehari-harinya, setiap pagi Falisha selalu menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.


Dan kali ini, Arden meminta kepada Falisha untuk menyiapkan bekal untuk dirinya bawa ke kantor.


"Mas serius ingin bawa bekal.?"


"Iya sayang, makanan buatan istri mas memang enak," selain bergizi makanan nya di buat dengan penuh cinta.


"Ih mulai deh mas gombal nya."

__ADS_1


"Mas serius sayang, ayo cepat makannya biar mas antar.!"


"Aku hari ini bawa motor saja ya mas," aku lupa kemaren bilang bahwa hari ini akan membeli sesuatu untuk persiapan perpisahan mas.


"Kamu sama siapa pergi nya sayang.?"


"Sama teman-teman ku nanti mas, dan juga sebelum berangkat aku mau ke rumah ibu dulu mas."


"Yasudah kalo begitu mas berangkat duluan ya sayang, dan ingat kalo sudah pulang kabari mas nantinya.!"


"iya mas."


Falisha mengantarkan Arden sampai muka gerbang rumahnya.


Dan bersaliman mencium telapak tangan Arden.


Setelah Arden pergi dan menghilang dari pandangan Falisha.


Falisha segera masuk dan bersiap-siap akan pergi ke sekolah.


"Loh suami nya ada di sini Falisha,?" ucap salah satu warga yang lewat muka rumah Falisha.


"Iya bu, kebetulan pindah kerja ke kota ini."


"Wah enak dong, tidak LDR lagi sama suami nya.?"


"Alhamdulillah bu, kalo begitu saya masuk bu, pengen siap-siap berangkat sekolah."


"Oh iya silahkan.!"


Semua orang yang ada di desa itu sudah mengetahui kenapa alasan Falisha jadi menikah muda.


Sebab Radix dan Bella sudah menjelaskan kepada warga dan juga pak Rt.


Bagi Bella dan Radix buat apa di sembunyikan, sebab lama kelamaan juga akan ketahuan.


Apalagi Arden juga sudah melapor kepada Rt dan warga, bahwa dirinya akan segera tinggal di tempat ini, dan Arden juga mengatakan jika ada kegiatan atau acara di desa tersebut, Arden siap membantu dan juga memberi donasi semampu Arden.


Dan semua warga dapat memaklumi maksud baik dari Arden.


Jadi hubungan mereka tidak ada yang perlu di sembunyikan.


Setelah Arden sampai di parkiran perusahaannya, Arden bertemu dengan Intan Permata.


Gerak-gerik Intan sudah dapat Arden tabak, namun saat ini Arden tidak mempermasalahkan selagi Intan masih bisa menjaga sikap.


"Selamat pagi pak."


"Pagi."


"Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu pak, atau bapak mau minum kopi,?" biar saya yang buatkan kopi buatan saya enak pak.


Intan mengekori di belakang Arden.

__ADS_1


Tidak perduli pandangan mata orang lain, sebab cari perhatian adalah kerjaan intan dari dulu.


__ADS_2