
Dari ujung korridor rumah sakit seorang laki-laki paruh baya sedang berlari tergesa-gesa, dengan wajah yang terlihat panik dan penuh ketakutan.
Setelah sampai di depan ruangan tersebut Seno langsung masuk tanpa menghiraukan ucapan dari sang Dokter.
"Kenapa anak saya Dok? kenapa seperti ini?"
"Tolong Pak sabar sebentar! kami sedang melakukan tindakan."
Tidak lama terdengar dari mulut Melinda yang berucap.
"Arden, Arden, Arden."
Hanya itu yang keluar dari mulut Melinda.
"Pak, seperti nya putri anda ingin bertemu dengan seseorang! tolong secepatnya panggilkan dia!"
Seno keluar dari ruang rawat Melinda, dan cepat-cepat Seno menghubungi nomer handphone Arden.
Saat ini Arden sedang duduk bersantai dengan Falisha.
Arden menikmati suasana di sore hari yang jarang sekali Arden temui, di karenakan kesibukan yang selalu Arden kerjakan.
Tiba-tiba handphone Arden berbunyi, tanda ada seseorang yang sedang menelpon.
Saat Arden melihat di layar handphone nya, tiba-tiba jantung Arden berdetak kencang, entah apa yang Arden rasakan.
"Siapa mas?"
"Om Seno sayang."
"Angkat saja mas! siap tahu ada sesuatu hal penting!"
Arden mengangkat telepon tersebut dan menggunakan lospeker.
"Assalamu Alaikum Om," ada apa? ucap Arden.
__ADS_1
"Wa-wa Alaikum Salam Arden," suara Seno terdengar parau dan tersendat di seberang sana.
"Ada apa Om? apa ada masalah?"
"Arden Om mohon sekali ini saja! tolong temui Melinda untuk yang terakhir kali nya!"
Muka Arden semakin terlihat pucat saat mendengar untuk yang terakhir kali nya, namun Arden tidak ingin kekhuatiran itu Arden tampakkan, karena Arden juga harus menjaga perasaan Falisha saat ini.
Walaupun keadaan Melinda saat ini sangat buruk, namun di hati Arden masih teramat sakit dengan pengkhianatan yang Melinda torehkan.
Saat kejadian malam itu, perasaan Arden kepada Melinda benar-benar hilang, apalagi saat itu juga Arden di hadapkan dengan kenyataan bahwa ada perempuan cantik dan baik hati yang mampu mengikis nama Melinda di hati Arden.
"Melinda keritis Arden! dan dia terus-terus memanggil nama kamu!"
Deggggggg
Jantung Arden berdetak sangat cepat, namun cepat-cepat dia tepis karena tidak ingin Falisha melihatnya.
"Mas temuilah! aku tidak apa-apa mas."
"Iya mas."
Terdengar helaan napas di seberang sana, namun segera Seno tepis.
Arden bersedia menemui Melinda pun itu sudah terasa bahagia buat Seno.
Setelah selesai bersiap-siap, Arden dan Falisha segera pergi ke rumah sakit untuk menemui Melinda.
Setelah sampai di rumah sakit Arden dan Falisha ternyata sudah di tunggu oleh Seno.
"Ayo Arden cepat! keadaan semakin memburuk."
"Maap Om, saya tidak bisa berlari-lari! saya bersama istri saya!"
Setelah beberapa menit, akhirnya Arden dan Falisha sampai di depan ruang rawat Melinda, yang sudah banyak Suster dan Dokter.
__ADS_1
Saat Arden ingin menarik tangan Falisha untuk segera masuk, cepat-cepat di cegah oleh Seno.
"Jangan bawa dia masuk Arden! tidak baik ibu hamil masuk ke dalam sana!"
"Iya benar Mas, biar aku di sini saja."
Sebelum Arden masuk, Arden masih sempat-sempat mencium kening Falisha, dan itu semua dapat Seno lihat, sehingga Seno merasa jengah.
"Tunggu mas sebentar di sini sayang! mas tidak akan lama."
"Iya mas."
Saat Arden masuk, Arden melihat jelas keadaan Melinda sekarang.
Terlihat sekali badan Melinda yang sangat kurus dan ada bau-bau yang sangat tidak sedap, tercium jelas walaupun Arden memakai masker.
"A-Arden ma-maapkan aku," ucap Melinda dengan suara yang setengah kurang bisa di mengerti.
"Aku sudah memaapkan kamu Melinda, sebelum kamu meminta maap sekarang," jelas Arden.
"Ma-maap aku tidak bisa menjadi yang terbaik buat kamu, aku salah Arden! maapkan aku."
"Tidak apa-apa Melinda, yang terpenting kamu fokus kepada kesehatan kamu saja! jangan memikirkan aku, aku sudah ikhlas untuk semua nya!"
Air mata Melinda menetes, pertanda Melinda juga ikhlas untuk menerima semua nya, Melinda menerima semua yang telah terjadi karena kesalahannya.
Melinda memegang tangan Arden, dan Arden membiarkan itu tanpa ada penolakan.
'Tangan ini yang pernah aku harapkan untuk menyentuh tubuhku, tangan ini yang selalu mengusap lembut rambut ku, tangan ini yang selalu menghapus air mata ku, saat aku bersedih, dan tangan ini untuk terakhir kali nya mengantarkan aku menuju tempatmu Tuhan, batin Melinda.
Dan tidak lama alat monitor tiba-tiba terhenti, dan saat itu juga tangan erat Melinda yang tadi nya memegang tangan Arden, terlepas begitu saja.
Arden menitikkan air mata nya, untuk yang terakhir kali nya.
Ini air mata kesedihan, bukan air mata saat Arden membenci Melinda.
__ADS_1
'Aku ikhlaskan kamu pergi Melinda, tenanglah di alam sana,' batin Arden.