Kekasihku Driver Ojek Online

Kekasihku Driver Ojek Online
Cincin Lambang Cinta


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit, Arden membantu sang ibu mertua untuk bersiap-siap pulang ke rumah.


Di karenakan kesehatan Radix sudah mulai membaik.


Sedangkan Falisha, sudah mulai kembali belajar di sekolah.


Di karenakan sekitar kurang lebih tiga bulan akan mengadakan kelulusan sekolah.


"Nak Arden, kamu jadi hari ini pulang ke kota,?" ucap nenek Falisha.


"Iya nek, aku sudah minta cuti beberapa hari," tidak enak kalo aku terus-terusan libur.


Arden sangat mengerti, sang nenek takut jika Falisha akan Arden ajak ke kota.


Namun Arden bukanlah laki-laki yang egois ingin mementingkan diri nya sendiri.


Arden mendekat ke arah nenek Falisha yang sedang duduk di sofa.


"Nek, aku hanya pulang sendiri dulu," nanti di sana aku akan mengurus semua berkas-berkas untuk pindahan aku ke kota ini.


"Memang nya kantor orang tua kamu juga ada di sini,?" ucap Rahma.


"Iya mah, kebetulan di sini ada kantor anak cabang papah aku," jadi aku yang akan mengurus nya di sini.


Setelah mendengar pengakuan dari Arden, keluarga Falisha merasa menjadi tenang.


Sebab mereka tidak akan jauh-jauh terpisah dari Falisha.


Setelah semua nya selesai, Arden dan keluarga baru nya itu keluar dari rumah sakit, pergi ke arah parkiran mobil.


Setelah semua nya pada siap, Arden melajukan mobil nya meninggalkan rumah sakit tersebut.


Setelah beberapa menit di perjalanan akhirnya mobil yang di tumpangi keluarga Falsiha sampai di tempat tujuan.


Arden membantu Radix untuk berjalan memasuki kamar nya.


Sedangkan Rahma dan ibu Radix, sedang membereskan sisa barang-barang yang masih ada di dalam mobil.


Setelah semua nya pada selesai, Arden membersihkan tubuh nya yang sudah terasa sangat lengket, dan akan bersiap-siap untuk menjemput Falisha yang masih berada di sekolah.


Setelah Arden sudah berpakaian rapi, Arden berpamitan kepada orang yang ada di rumah, bahwa Arden akan menjemput Falisha yang masih ada di sekolah.


Sekitar 30 menit, akhirnya Arden sampai di depan sekolah Falisha.


Arden masih memantau dari jarak jauh, untuk mencari keberadaan dimana Falisha.


Tidak senghaja, mata Arden melihat ke arah dimana ada Falisha yang di kejar-kejar oleh seorang laki-laki, yang seperti nya laki-laki tersebut memiliki perasaan kepada Falisha.


Arden yang tidak tahan melihat semua itu, tiba-tiba Arden turun dari mobil dan cepat-cepat menghampiri Falisha, yang seperti nya juga menghindar dari laki-laki tersebut.


"Ada apa ini,?" ucap Arden.


Sedangkan Falisha cepat-cepat bersembunyi di belakang Arden.

__ADS_1


Falisha tidak ingin terjadi salah paham kepada Arden.


"Siapa kamu, berani nya mengganggu saya dan Falisha.?"


Arden melirik ke arah Falisha yang seperti nya sedang ke takutan.


Mungkin Falisha juga merasa risih dengan laki-laki tersebut.


"Saya om nya Falisha, adik dari ayah nya," terang Arden.


Sebab Arden tidak ingin mengatakan kepada semua orang yang melihat ke arah mereka, bahwa Falisha adalah istri nya, bukan keponakan nya.


"Oh maap om, saya kira om siapa,?" ucap laki-laki tersebut yang cengengesan seperti sedang bersalah kepada Arden.


"Saya minta jangan mengganggu Falisha lagi.!"


"Saya menyukai Falisha om dari dulu, namun Falisha tidak pernah membalas perasaan saya."


"Dia di sini sekolah, bukan untuk pacaran.!"


Setelah itu Arden menarik tangan Falisha untuk segera masuk ke dalam mobil.


Arden tidak ingin jika sudah menjadi miliknya maka akan di rebut orang lain lagi.


Arden sudah cukup puas dengan nama nya penghianatan, sebab kali ini, Arden tidak ingin kejadian itu terulang kembali.


Apa lagi ini bukan hanya sekedar pacar saja, melainkan sudah sah menjadi istri nya.


Saat sudah berada di dalam mobil, tiba-tiba Arden memeluk erat tubuh Falisha.


"Sayang, aku tidak ingin ada orang lain yang memiliki rasa kepada kamu,!" bahkan aku tidak rela, jika dia terang-terangan di depan banyak orang ingin mendapatkan kamu.


"Kak maapkan aku, aku tidak bisa melarang orang lain untuk menyukai aku," namun hati dan perasaan aku sudah menjadi milik kamu seutuh nya.


"Jangan pernah ragukan perasaan aku kak."


"Maapkan aku sayang."


Setelah Arden melajukan mobil nya, dan Arden berniat sebelum pulang ke kota.


Arden akan mengajak Falisha untuk jalan-jalan, walaupun tidak akan lama.


Setidaknya bisa membuat Falisha sedikit merasa terhibur.


"Kak bagaimana ini, aku lupa membawa pakaian.?"


"Nanti kita mampir di toko baju sebentar ya, sekalian kamu beli apa saja yang kamu mau.!"


"Jangan kak, lebih baik simpan saja uang nya,!" aku masih banyak punya pakaian di rumah.


"Sayang, kamu itu istri aku loh," apa pun yang kamu mau, jangan merasa sedang meminta kepada orang lain.!"


"Tapi mubajir kak, lebih baik uang nya di simpan saja.!"

__ADS_1


"Uang ku, adalah uang kamu juga sayang," jadi jangan merasa dengan apa yang aku belikan kepada kamu, itu akan cepat habis.


Falisha hanya bisa terdiam, percuma bicara kepada Arden yang ada hanya akan membuat kesabaran Falisha akan habis.


Sebab Arden tidak terbiasa hidup dengan kekurang uang, apa saja yang dia mau pasti akan bisa dia beli.


Saat mereka sampai di depan toko baju, yang menjual beraneka ragam pakaian wanita.


Falisha mulai memilih-milih, apa saja yang dia mau.


Sesekali Arden juga ikut memilihkan pakaian yang menurutnya cocok untuk Falisha.


Arden juga memilih beberapa baju tidur yang super se**i dan yang cocok di tubuh Falisha.


Namun tanpa Arden sadari, Falisha sempat melihat saat Arden memilih-milih baju tidur yang super se**i tersebut.


Ada sedikit keraguan di hati Falisha, takutnya saat Arden pulang ke kota nanti dia akan bertemu dengan mantan kekasih nya yang baru beberapa bulan putus cinta.


Walaupun Falisha sudah sah menjadi istri Arden, namun kapan saja mereka akan bisa berpisah jika Falisha belum sepenuhnya memberikan diri nya kepada Arden.


Falisha berniat akan membeli pakaian tidur yang super se**i tersebut, dengan memakai uang nya sendiri.


Dan berharap setelah dia akan memberikan seutuh nya hidup nya kepada Arden, Arden akan tetap menjaga hubungan nya walaupun banyak badai dan rintangan yang akan datang.


Di lain tempat.


Sekitar jam jam 3 sore, akhirnya Hendri sampai di tempat tujuan nya.


Tempat dimana dia selalu merindukan gadis yang selama ini dia sayangi dan dia harapkan menjadi pelabuhan cinta terakhirnya.


"Assalamu Alaikum," ucap Hendri.


"Wa Alaikum Salam," jawab Aya dan nenek Hendri.


Aya menghampiri Hendri dan mencium telapak tangan Hendri.


Saat Aya sudah mengetahui bahwa niat baik Hendri di terima keluarga nya, Aya akan belajar menjadi calon istri yang baik buat Hendri.


Agar kelak, Hendri tidak merasakan yang nama nya menyesal telah memilih Aya sebagai pendamping hidup nya.


"Kalian berdua sehat kan.?"


"Alhamdulillah kami sehat kak, itu apa,?" ucap Aya.


"Ini ada oleh-oleh kamu dengan nenek dari kak Lisa," dan ini oleh-oleh dari kakak.


Hendri membelikan sebuah cincin cantik yang akan dia kenakan dengan Aya.


Ini adalah lambang ke seriusan Hendri kepada Aya, bahwa dia benar-benar mencintai dan akan menyayangi Aya sepenuh jiwa dan raga nya.



"Ini sangat bagus sekali kak, terimakasih," ucap Aya, yang merasa sangat bahagia.

__ADS_1


"Sama-sama dek, terimakasih juga sudah menerima kakak untuk menjadi bagain dalam hidup kamu."


Dan mereka berdua saling memasangkan cincin bergantian di jari mereka msing-masing, di depan nenek Hendri yang juga merasa sangat bahagia.


__ADS_2