
Satu minggu telah berlalu, dimana kejadian waktu Ayah Melinda datang ke ruamah Arden, dengan berbagai macam tuduhan dan pemu**lan.
Kini Ayah Melinda hanya terdiam melihat anak semata wayang nya berubah, karena tekanan batin dan gangguan jiwa.
Melinda depresi, saat Seno mengetahui diri nya hamil dan tidak tahu siapa ayah biologis anak nya tersebut.
Sebelumnya Melinda berencana akan menjebak Arden, sehingga orang lain akan berpikir bahwa Arden lah yang menghamili Melinda, dan anak dalam kandungan Melinda adalah anak Arden.
Namun semua rencana nya sirna seketika.
Arden yang dia pikir masih mencintainya, ternyata sudah melupakan dirinya begitu saja.
'Apakah ini salah papah sayang, papah dulu nya terlalu banyak mempermainkan perasaan perempuan, sehingga anak papah sendiri yang menjadi korban nya,' batin Seno.
Ya Seno adalah Ayah dari Melinda dengan istri pertama.
Namun beberapa bulan terakhir, ibu Melinda meninggal dunia karena serangan jantung saat melihat video sang anak telah ber**nta dengan beberapa orang laki-laki.
Entah darimana video itu sampai ke tangan ibu Melinda, sehingga saat itu ibu Melinda mengalami serangan jantung.
Sedangkan istri Seno yang lainnya sudah bercerai lama, dan membawa anak mereka masing-masing.
Hanya Melinda lah yang masih tersisa, dan sekarang di rawat oleh Seno.
Kini hanya sisa penyesalan yang ada di dalam hati Seno, entah ini yang di namakan karma.
Seno juga mencari dan menanyakan kepada laki-laki yang pernah ber**nta kepada anaknya, namun semua nya tidak ada yang mau mengakui bahwa anak yang di kandung oleh Melinda adalah anak mereka.
Namun ada satu orang yang Seno curigai, dia adalah rekan bisnis Seno.
Yang sekarang ini menghilang entah kemana.
'Papah akan menemukan nya sayang, papah berjanji akan membawa dia ke hadapan kamu,' batin Seno.
#Flashback On
Setelah Falisha membawa laptop milik Arden, dan menyerahkan laptop tersebut kepada Arden.
"Ayo kita lihat om, apakah om masih menuduh saya yang menghamili Melinda.?"
Arden memutar video Melinda yang sedang ber**nta dengan orang yang berbeda-beda.
Bahkan di video tersebut, laki-laki itu bukan hanya 1,2 atau 3.
Melainkan ada 15 orang laki-laki.
__ADS_1
Dan itu yang membuat Seno merasa kecewa kepada Melinda, yang telah membohongi nya.
"Setelah ini saya harhara?p om jangan pernah lagi menemui saya dan mengganggu kenyamanan rumah tangga kami.!"
Setelah Arden mengatakan itu semua, tanpa berucap sepatah kata-kata, Seno pergi meninggalkan rumah Arden dan Falisha.
#Flashback Off
***
Setelah kejadian waktu itu, sikap Sinta berubah menjadi lebih baik, dan meminta maap kepada Aya dan Hendri.
Karena Aya dan Hendri adalah orang baik dan pemaap, maka dengan mudahnya mereka memaapkan kesalahan yang Sinta perbuat.
Namun begitu mudahnya mereka menerima Sinta kembali dan menjalani pertemanan, karena mereka bertetangga.
Hari ini Aya dan Verra sedang ada jam kuliah sore.
Maka Aya dan Verra, tidak dapat melanjutkan menjaga kue.
Sedangkan ke dua anak buah Aya, tiba-tiba mendapat musibah.
Orang tua Yuni adalah kakak dari Yeyen.
Yang berarti Yuni adalah keponakan Yeyen.
Dan Aya mengizinkan Yuni dan Yeyen untuk pulang kampung.
Namun karena kue masih banyak, apalagi ada pelanggan Aya yang tidak bisa mengambil kue siang hari, jadi orang tersebut akan mengambil kue nya pada malam hari.
"Mas tidak apa-apa, jika aku nitip toko kue.?"
"Tidak apa-apa sayang, mungkin orang itu sebentar lagi juga akan datang," kamu berangkatlah bersama Verra, nanti bisa terlambat masuk.
Setelah mendapatkan izin dari Hendri, Aya dan Verra meninggalkan toko tersebut yang masih di tunggu oleh Hendri.
Malam pun tiba, setelah sholat Isa.
Tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat, sehingga Hendri tidak dapat pulang ke rumah nya.
Karena Hendri lupa membawa jas hujan, apalagi saat ini hujan sangat deras beserta angin dan petir, dan tiba-tiba lampu jadi mati, hingga membuat toko menjadi gelap.
Sama dengan Aya dan Verra, mereka berdua juga terjebak dalam hujan, sehingga mereka mengurungkan niat untuk pulang terlebih dahulu.
'Ya ampun lampu mati, maka tidak ada jinset lagi karena di bawa oleh Haris,' ucap Hendri sambil menggerutu sendiri.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar teriakan dari toko sebelah, yang membuat Hendri cepat-cepat menghampiri takutnya terjadi apa-apa.
Karena keadaan gelap gulita, sehingga Hendri sedikit susah untuk menemukan keberadaan Sinta.
"Mbak Sinta, mbak Sinta dimana,?" apakah mbak tidak apa-apa.
"Mas Hendri aku ada di sini, aku terpeleset saat ingin mencari sentar."
Hendri mencoba meraba-raba tempat untuk mencari keberadaan Sinta, sehingga akhirnya Hendri menemukan dimana Sinta berada.
"Apakah mbak tidak apa-apa.?"
Keadaan sangat gelap, sehingga Hendri tidak dapat melihat keadaan Sinta sekarang.
Apalagi hujan, angin dan petir menjadi satu, menambah suasana menjadi kemenangan bagi Sinta yang akan berniat jahat kepada Hendri.
"Aku takut mas, aku takut kegelpan."
"Handphone ku tertinggal di toko mbak, aku lupa membawa nya karana kaget dengan teriakan mbak."
"Aku juga lupa mas, dimana handphone ku berada."
Sinta mendekat ke arah Hendri, sehingga tubuhnya menempel kepada tubuh Hendri.
Deggggggg
Jantung Hendri berdetak sangat cepat, saat merasakan kulitnya bersentuhan dengan kulit Sinta, yang Hendri yakini kemungkinan Sinta tidak memakai pakaian dan hanya menggunakan handuk.
"Mbak kita ini sedang berada dimana.?"
"Kita sedang berada di muka kamar mandi mas, aku baru selesai mandi."
Namun tubuh Sinta semakin menempelkan ke tubuh Hendri, sehingga Hendri dapat merasakan bulkit kembar Sinta tersentuh oleh kulit Hendri.
"Mbak saya mohon jangan menggoda saya seperti ini, dan saya yakin ini semua akal-akalan mbak."
"Kenapa mas, mas Hendri takut jika mbak Aya mengetahui ini semua,?" tanang saja mas, rahasia nya aman kok, jika mas Hendri mau melayani saya.
Tiba-tiba dengan nakalnya Sinta menarik tangan Hendri dan meletakkannya ke bagian sensitif Sinta.
Sehingga dapat Hendri rasakan bahwa milik Sinta sudah sangat basah.
Sinta menggesek-gesekan tangan Hendri di bagian sensitif itu yang sudah sangat basah.
Sampai saat petir memancar dan sangat keras.
__ADS_1
Hendri tersadar bahwa ini adalah salah, dengan cepat Hendri melepaskan tangannya dari pegangan Sinta yang saat ini tangan mereka berada di bagian sensitif itu.
Hendri adalah laki-laki normal, jika di sungguhi dengan cara seperti ini, mana mungkin Hendri dapat menolaknya.