Kekasihku Driver Ojek Online

Kekasihku Driver Ojek Online
Menyerahkan Diri


__ADS_3

Setelah selesai membeli pakaian, Arden dan Falisha menuju mobil untuk segera melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.


Falisha pun sudah berganti pakaian nya.


Aura dewasa nya terpancar sangat jelas, tidak seperti saat dia berpakaian seragam sekolah.


"Kamu terlihat sangat cantik sayang."


"Terimakasih mas," ucap Falisha tersenyum malu-malu.


Arden membelokkan mobil nya menuju pusat perbelanjaan yang terbesar di kota xxx.


Rencana nya, sebelum Arden pulang ke kota, Arden akan membuat Falisha merasa bersenang-senang terlebih dahulu.


"Mas kita mau apa ke sini.?"


"Beli apa yang kamu mau sayang,!" terus kita nonton dan makan-makan.


"Tapi aku tidak suka mas, dengan hal-hal seperti ini," ini sama saja pemborosan dan membuang-buang uang.


Setelah mendengan ucapan dari Falisha, Arden menarik napas dan menghembuskan secara perlahan.


'Ternyata tidak semua perempuan sama, kamu sangat berbeda sayang,' aku kira semua perempuan itu sama saja menggilai yang nama nya shopping, batin Arden.


"Maap sayang, aku tidak tahu," aku hanya ingin membuat kamu senang saja, tapi aku tidak tahu bagaimama cara nya.?


"Apakah mas mau bikin aku senang.?"


"Iya sayang."


"Kalo begitu, ayo ikuti arah dan tujuan ku mas.!"


Falisha membawa Arden ke suatu tempat, yang tidak pernah Arden jumpai.


Yaitu ke sebuah pasar yang cukup ramai dan sangat banyak pengunjungnya.


"Sayang, kamu serius mau kesini.?"


"Iya mas, kata nya mau bikin aku senang,?" ayo turun dulu.


Mau tidak mau, Arden menuruti saja kemauan sang istri.


Karena niat dari awalnya adalah untuk menyenangkan hati sang istri.


Falisha membawa Arden ke tempat mainan anak-anak, setelah selesai di tempat mainan.


Falisha terus membawa Arden ke tempat sembako, beras, dan susu formula.


Sepanjang perjalanan, Arden tidak banyak bertanya.


Namun Arden juga bingung, entah akan di bawa kemana semua barang-barang tersebut.


Setelah selesai berbelanja Falisha meminta tolong kepada kuli pasar, untuk membawa barang tersebut ke dalam mobil Arden.


"Mas minta uang nya sepuluh ribu.!"


Tidak banyak bertanya, Arden memberikan uang yang 50 ribu kepada Falisha.


"Ini kebanyakan mas?"


"Buat apa sayang.?"


"Buat abang-abang yang sudah menolong kita, untuk membawa semua barang-barang ini mas."


Arden tersenyum, seakan-akan dia merasa menjadi bodoh saat bersama Falisha.


Sebab, semua yang di lakukan Falisha sangat berbeda jauh dengan Melinda.


Arden memberikan uang satu lembar berwarna merah kepada abang-abang tersebut.


"Ini bang terimalah,!" terimakasih sudah membantu kami.


"Ini terlalu banyak, saya tidak punya kembalian nya.?"


"Buat abang saja, anggaplah ini rezeki.!"


"Terimakasih banyak, saya doakan semoga kalian berdua bahagia terus, dan di berikan rezeki yang berlimpah."


"Aminn," ucap Arden dan Falisha bersamaan.


Sekarang mereka sedang berada di dalam mobil.


Arden bertanya kepada Falisha tujuan mereka selanjutnya.


"Selanjutnya kemana lagi sayang.?"


Falisha menunjukkan arah tujuan mereka.


Setelah satu jam lama nya, akhirnya Arden dan Falisha sampai di tempat yang mereka tuju.


Ya Falisha mengajak Arden ke sebuah panti asuhan, yang sering di kunjungi Falisha dan keluarga nya.


Namun sekitar empat bulan terakhir, keluarga Falisha tidak berkunjung ke tempat ini lagi.


Di karenakan keuangan dan kesehatan Radix yang membuat mereka tidak berkunjung ke tempat ini lagi.


Lagi dan lagi, Arden di buat terkejut oleh sikap Falisha yang sangat berbeda dengan perempuan lainnya.


Falisha perempuan sangat sederhana, dan juga perduli kepada orang lain.


Berbeda dengan Melinda, yang suka dengan ke mewahan, dan terkadang juga selalu bertindak semau nya tanpa memperdulikan perasaan orang lain.


"Kak Falisha," teriak para anak-anak, ketika melihat kedatangan Falisha.


"Hei sayang, maap ya kakak lama tidak kesini," ayo kita masuk, tebak kakak bawa apa buat kalian semua.?


Hati Arden merasa sangat hangat, di sambut dengan baik di tempat seperti ini.


"Ko kak Falisha lama tidak kesini.?"


"Maap ya sayang, ada hal penting yang tidak bisa kakak jelaskan kepada kalian."


Tidak lama setelah itu, keluarlah seorang wanita paruh baya.


Dia adalah ibu Sukma, ibu yang di hormati semua orang yang ada di panti ini.


"Assalamu Alaikum ibu," ucap Falisha memberi salam dan mencium telapak tangan ibu Sukma, dan di susul juga oleh Arden yang melakukan seperti Falisha lakukan.


"Wa Alaikum Salam nak," apa kabar kamu, sehat.?


"Alhamdulillah ibu Falisha sehat."


"Ibu turut perihatin nak Falisha, dengan keadaan keluarga kamu," ibu sempat mendengar dari tetangga kamu, yang pernah kesini.


"Iya bu, begitulah keadaan nya," kami juga pindah dari rumah dulu, karena biaya kesehatan papah lebih penting, dan terpaksa rumah itu harus di jual, terang Falisha.


Banyak hal yang belum di ketahui oleh Arden, asal-usul Falisha dan keluarga nya.


"Maap nak Falisha, dia siapa,?" apakah dia teman kamu.?

__ADS_1


"Kenalkan bu dia adalah mas Arden,!" mas Arden ini suami Falisha.


Ibu Sukma merasa terkejut, yang dia ketahui Falisha masih bersetatus pelajar, namun saat ini tiba-tiba di kejutkan sudah bersuami.


"Suami, maksud nak Falisha apa ya.?"


Falisha menceritakan, awal mula kenapa harus menikah.


Dan harus di sembunyikan pernikahan ini, karena setatus Falisha masih seorang pelajar.


Namun Falisha mempunyai prinsif, jika sekali saja menikah dan bagaimana keadaan nya, Falisha akan sepenuhnya mengabdi kepada sang suami.


Karena saat ini dan seterusnya, suami adalah surga bagi Falisha.


Setelah banyak bercerita kepada bu Sukma, Falisha juga memberikan kepada anak-anak apa yang dia bawa bersama Arden.


Setelah itu Falisha berpamitan kepada bu Sukma dan anak-anak yang ada di sana.


Di karenakan Sehabis sholat Ashar, Arden harus pulang ke kota.


Setelah di perjalanan, Falisha hanya diam dan tidak banyak bicara.


Falisha merasa takut, jika suami nya pergi ke kota, kemungkinan akan bertemu lagi dengan sang mantan kekasih.


Falisha harus benar-benar siap untuk menyerahkan seluruh hidup nya kepada Arden.


Agar Arden bisa seutuh nya menjadi milik Falisha.


Egois bukan, tapi itulah kenyataan nya, sekarang dan selama nya Arden hanya milik Falisha dan tidak boleh ada orang lain yang berani mengusik rumah tangga nya.


"Mas di perempat jalan sana ada apotik, mampir kesana ya mas.!"


Arden merasa bingung, kenapa tiba-tiba Falisha minta berhenti di sebuah apotik.


"Kamu sakit sayang,?" ucap Arden memegang kening Falisha yang tidak panas.


"Tidak mas," ada sesuatu yang ingin aku beli.


Arden menurut saja, apa yang di minta oleh Falisha.


Setelah mobil mereka berhenti di depan sebuah bangunan apotik, Falisha turun dari mobil, namun Arden juga ingin mengikuti nya.


"Mas mau kemana.?"


"Mas juga mau ikut sayang."


"Mas di sini saja, aku tidak lama ko.!"


"Yasudah, jangan lama ya sayang."


"Iya mas."


Setelah itu Falisha keluar dari mobil, dan masuk ke dalam apotik tersebut.


"Maap mbak ada pil kontrasepsi untuk perempuan.?"


Karena Falisha memakai pakaian bebas, jadi penjaga apotik itu tidak merasa curiga kepada Falisha.


"Ada ini mbak," ucap penjaga toko tersebut.


Falisha menyerahkan uang nya untuk membayar obat tersebut.


Dan tidak lupa, Falisha juga membeli air mineral.


Sebelum Falisha keluar dari dalam apotik, Falisha meminum obat tersebut agar Arden tidak merasa curiga.


"Kamu beli obat apa sayang.?"


"Obat pusing saja mas," mas bolehkan kita mampir ke sebuah penginapan sebentar, tiba-tiba tubuhku merasa tidak enak badan, dan pengen cepat-cepat berbaring di kasur, bohong Falisha.


"Kamu sakit sayang.?"


"Entahlah mas, tiba-tiba kepala ku pusing."


"Yasudah kita cari tempat penginapan."


Sekitar lima menit, akhirnya Arden menepikan mobilnya di sebuah kamar hotel.


Namun naas nya ada sedikit kendala, karena ktp mereka masih sama-sama bersetatus lajang.


Setelah sedikit berdebat, dan akhirnya Arden melihatkan bukti sebuah video akat nikah nya kemaren.


Hanya itu yang Arden miliki, sebab beberapa hari ini Arden sibuk dengan mertua nya.


Apa lagi berkas-berkas Arden berada di kota.


Dan akhirnya petugas hotel mengizinkan Arden dan Falisha untuk menepati kamar hotel tersebut.


Setelah sampai di kamar hotel tersebut, Arden meminta izin untuk mandi sebentar, karena tubuh nya sangat lengket sekali.


Sedangkan Falisha masih berbaring di atas kasur, agar Arden tidak merasa curiga.


Setelah beberapa menit, akhirnya Arden keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk yang masih melilit di pinggang nya.


Falisha yang melihat itu menelan saliva nya, antara berani dan ragu-ragu untuk menyerahkan apa yang selama ini dia jaga.


Sebenarnya Arden tidak pernah memaksa Falisha untuk menyerahkan nya sekarang.


Namun ketakuttan Falisha lah yang mendorong nya agar memberikan nafkah batin kepada sang suami.


Takut, jika Arden akan cepat berpaling lagi kepada mantan kekasih nya.


Walaupun itu hanya mustahil sekali.


Tidak ingin terlihat dari Arden, Falisha cepat-cepat pergi ke dalam kamar mandi.


Melakukan ritual pembersihan tubuh nya.


Setelah selesai mandi Falisha menggunakn lingerie atau bisa di sebut baju dinas.


Jantung Falisha seakan mau lompat, saat di menggunakn pakaian itu.


Namun tekat nya sudah bulat, akan memberikan hak suami nya.


Saat Falisha keluar dari dalam kamar mandi.


Betapa terkejutnya Arden, saat melihat sang istri menggunakan pakain dinas.


"Sa-sayang," ucap Arden tergagap saat melihat penampilan Falisha seperti sekarang.


"Iya mas."


"Kamu kenapa seperti ini, nanti kalo kamu hamil bagaimana sayang.?"


"Apakah mas tidak ingin memiliki anak dengan aku,?" ucap Falisha yang sudat terlihat sedih.


"Bukan seperti itu sayang, mas sangat ingin sekali punya anak," apa lagi mas ini suka sekali dengan anak kecil.


"Terus apa, mas ingin punya anak dari wanita lain, atau mau balikan sama mantan mas gituh.?"

__ADS_1


Mata Falisha sudah terlihat berembun, niat nya ingin memberikan hak suami nya.


Malah di tanya seperti itu, jadi kan mood Falisha sudah hilang.


Arden memeluk erat tubuh Falisha, sehingga tanpa sadar Arden menitikkan air mata nya.


Betapa bahagia nya dia, ada perempun yang takut akan kehilangan diri nya.


Dulu Arden lah yang takut, jika hubungan nya bersama Melinda akan ada orang ke tiga.


"Sayang, percayalah kepada mas,!" tidak akan ada yang nama nya kembali kepada masalalu, sekarang dan selama nya istri ku cuman satu yaitu Falisha.


"Mas serius,?" ucap Falisha memandang wajah tampan Arden.


"Iya serius sayang."


Emmmmmm


"Kenapa mas.?"


"Mas lihat kamu jadi pengen sayang."


"Mas aku milik kamu, jadi apa yang ada di diriku itu sepenuh nya milik kamu."


"Kamu masih sekolah sayang.?"


"Jika mas mau, lakukanlah,!" lagian aku tadi beli pil kontrasepsi, ucap Falisha malu-malu.


"Kamu serius sayang.?"


"Iya mas serius, jadi jangan takut kalo aku saat ini hamil."


Tidak mebuang waktu lama-lama, Arden membawa Falisha ke tempat tidur.


Biasa nya hanya sebatas peluk dan cium, sekarang sudah bisa lebih dari sekedar itu.


Yahhhhhh batal deh pulang ke kota 😅😅, Falisha panggil Arden mas ya, sudah tidak kakak lagi.


***


Saat ini Aya pergi ke tempat bengkel motor Hendri.


Di sana sudah ada pegawai lain nya dan tidak lupa juga ada Verra.


"Kerja neng,?" ucap Aya kepada Verra.


"Tidak, lagi cari kang suami."


Aya dan Verra tertawa bersama.


"Kak Hendri mana.?"


"Cari di dalam sanah, aku tidak lihat."


"Ehhhh ada si eneng-eneng cantik," ucap Fikry.


"Iehhhh bang Fikry apaan sih," jawab Verra.


"Eh tunggu-tunggu, tidak salah dengar tadi ya,?" ada yang manggil abang.


"Ehh," ucap Verra yang malu-malu.


"Ekhemm aku seperti nya ketinggalan berita deh."


Sedangkan Fikry hanya tertawa saja, namun tidak dengan Verra, yang sudah malu seperti kepiting rebus.


"Udahh sana temuin dulu kak Hendri nya.!"


Setelah meninggalkan Verra dan Fikry, Aya masuk ke dalam ruangan Hendri.


Sedangkan Hendri lagi sibuk dengan alat komputer nya.


Entah apa yang dia kerjakan, Aya pun juga tidak tahu.


"Assalamu Alaikum kak."


"Wa Alaikum Salam dek," ayo sini.


Aya berjalan mendekat ke arah Hendri, yang terlihat masih sibuk dengan komputer nya.


"Kakak sibuk ya.?"


"Tidak juga dek, cuman kakak ada niatan untuk mencari tempat usaha buat kamu."


"Maksud kakak.?"


"Setelah nanti kita menikah, rencana nya kakak mau membuka tempat usaha toko kue buat kamu," jadi kamu mau tidak.?


"Aku sih terserah kakak saja, kalo itu mau nya kakak."


"Ya nanti kan, kamu bisa di bantu dengan Verra juga di sana,!" hitung-hitung kamu akan jadi bos nya di sana dek.


"Iya kak aku mau."


"Kamu tidak kuliah dek.?"


"Kuliah dong kak tadi, cuman dosen nya tidak masuk jadi pulang saja."


"Ohh, kakak kira kamu bolos sayang."


"Tidak lah, aku kan mau cepat-cepat lulus kak," biar tidak ada menunda waktu.


"Iya sayang, kakak sih tidak melarang apa saja yang akan kamu lakukan," yang terpenting harus ingat kewajiban kamu nanti saja.


"Kewajiban apa dulu,?" ucap Aya yang memancing ucapan dari Hendri.


"Kewajiban sebagai istri, selalu menemani kakak dimana saja kakak berada.!"


"Berarti dalam kamar mandi iya juga.?"


"Iya sayang, nanti kita mandi bareng ya.?"


'Kena kau Aya, yang di jahilin siapa eh malah diri sendiri yang kena jahilan nya,' batin Aya.


Aku up banyak ya gaes 😘😘


Jangan lupa ya kasih Author Like, Komen, Hadiah dan


Vote


Vote


Vote


Vote 😘😘😘🙏


Biar author nya lebih semangat lagi up nya.


2 bab lagi otw pernikahan Aya.dan Hendri ya gaes 😊😊

__ADS_1


__ADS_2