
Ansel hanya hidup berdua dengan putri sematawayangnya. Sebuah ikatan yang tidak di dasari rasa cinta dari kedua belah pihak membuat Ia dan istrinya tak saling peduli. Kehadiran buah hati yang tidak di sengaja karna keduanya sama sama dalam pengaruh alkohol membuat Ansel ingin bertahan hanya demi buah hati mereka. Namun sikap istri yang begitu acuh dan lebih mementingkan kekasih daripada memenuhi tugasnya sebagai seorang Ibu membuat Ia membenci wanita itu. Putri kecil Ansel hidup dengan pengasuh karena Ia sendiri sibuk bekerja. Hingga suatu ketika sebuah kecelakaan merenggut nyawa istrinya beberapa jam sebelum pertemuan mereka untuk membicarakan tentang masalah perceraian.
"Tumben belanja sendiri." Ucap Ansel melihat putrinya yang baru datang sambil menenteng dua kantung kresek. "Teman Bella akan datang Dad. Dia baru pulang dari kairo menyelesaikan kuliahnya. Bella akan belajar masak sama dia." Jawabnya sambil duduk di sofa. "Teman yang mana?" Tanya Ansel. "Dady mana tau semua teman Bella sih." Gerutu gadis itu. "Dia yang sering kasih oleh oleh kalau pulang. Dia hebat kan Dad? Di umurnya ke 17 dia sudah menyelesaikan studinya dengan beasiswa. Sementara Bella apa? Boro boro beasiswa, mata pelajaran saja banyak yang merah." Lanjutnya mengeluh. "Kamu nggak belajar." Ansel menanggapi sambil membolak balikkan majalah yang Ia baca. "Belajar. Hanya tidak paham saja." Jawab Bella. "Bella ke dapur dulu Dad. Nanti kalau teman Bella datang Daddy jangan genit. Dia itu cantik dan beda dari yang lain. Oh iya, suruh orang untuk menyingkirkan minuman Daddy. Bella tidak enak jika dia datang dan melihat nanti dikira nanti Bella peminum." Cerocosnya. "Memang Daddy pernah genit?" Tanya Ansel memincingkan mata. "Tidak. Siapa tau dengan yang satu ini iya." Jawab gadis itu kemudian bergegas pergi.
__ADS_1
Ansel menuruti keinginan putrinya. Pria itu menyuruh beberapa orang di rumah untuk menyimpan koleksi minuman haramnya yang berjejer rapi di bar mini dekat dapur. "Sudah semuanya Tuan." Lapor mereka. "Hm. Iya." Jawab Ansel singkat seperti biasa.
"Karin." Pekik Bella langsung berhambur memeluk gadis cantik dengan pakaian syar'i itu. "Aku kangen. Berapa taun aja kita nggak ketemu." Keluhnya. "Kita ketemu. Kalau lebaran kan aku pulang." Jawabnya sambil tertawa kecil. "Ini ada oleh oleh." Karin memberikan beberapa paper bag yang Ia bawa.
__ADS_1
Bella menghampiri Daddy nya yang sibuk membaca. "Dad." Panggilnya. "Hm." Jawab Ansel tanpa mengalihkan pandangan. "Dad. Kenalin teman aku Karin." Ucap Bella. Pria itu perlahan mengangkat kepalanya mengikuti gamis panjang hingga tatapan Ansel berhenti di wajah yang begitu cantik dengan senyuman menawan. "Dad." Panggil Bella mampu membuyarkan lamunannya yang cukup lama. "Oh. Iya. Aku Daddy nya Bella." Ucapnya sambil tersenyum manis senyum yang begitu jarang Bella lihat. "Saya Karin Om." Ia mengungkapkan kedua tangannya di depan dada membuat Ansel bingung. "Begitu cara salamannya orang taat. Daddy mana paham." Bella buru buru menarik tangan temannya untuk pergi.
Di dapur sangat heboh dengan Bella yang takut takut saat menggoreng ayam. "Di tutup biar minyaknya nggak muncrat." Karin menutup wajan penggorengan membuat temannya tenang. "Aku nggak pernah masak ya begini." Gerutunya sambil mencuci tangan. "Belajar dong." Sahut karin sembari menyiapkan bumbu. "Memangnya kita mau buat apa sih?" Tanya Bella. "Ayam rica rica." Jawab Karin sambil tersenyum.
__ADS_1
Semua hidangan sudah tersaji di meja. Ansel juga ikut duduk bersama untuk makan siang bersama Karin dan Bella. "Masakan Bel enak ya Dad?" Tanya gadis itu melihat Daddy nya makan begitu lahap tak seperti biasanya yang pilih pilih makan. "Enak. Kan bukan kamu yang masak tapi Karin." Jawabnya setelah menelan makanan di mulut. "Kok Daddy tau?" Tanya Bella penuh curiga. "Feeling. Kamu kan nggak pernah masak. Nggak mungkin sekali masak bisa seenak ini." Ansel begitu cerdas menjawab padahal dirinya memantau dari CCTV. "Karin. Kamu sudah lulus rencananya mau bagaimana?" Lanjutnya bertanya. "Rencananya mau buka cafe Om. Tapi uang dari jualan kue belum terkumpul." Jawab Karin. "Orang tua kamu kan kaya raya. Minta saja. Lagipula kamu kan anak kesayangan. Dari kamu sekolah juga nggak keluar uang." Sahut Bella. "Abi juga bersikeras buat biayain semuanya. Tapi aku pengen kumpulin dulu. Nanti kalau sudah mentok baru minta." Ucap Karin sambil tertawa kecil. Ansel mengangguk mengapresiasi kemandirian gadis itu. "Kamu punya saudara Rin?" Tanyanya. "Punya adek laki laki Om. SMP kelas dua sekarang." Jawab Karin lalu meminum airnya.
"Kenapa?" Tanya Ansel karena sedaritadi diperhatikan putrinya. "Daddy sama Karin kok banyak senyum, banyak omong. Daddy kenapa?" Ia mempertanyakan sikap Daddy nya yang aneh itu. "Nanti Daddy jutek salah." Jawab Ansel. "Nggak. Ini aneh Dad. Atau jangan jangan Daddy suka sama Karin ya? Kalau sampai Daddy suka sama Karin awas saja. Bella mau mau saja punya Mama yang baik kaya dia. Tapi Daddy tuh udah tua nggak pantes. Daddy nggak usah nikah lagi." Cerocos Bella kemudian pergi. "Kalau memang suka kenapa? Umur nggak masalah." Gumam pria itu menatap punggung anaknya yang menjauh.
__ADS_1