Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Merasa Kotor


__ADS_3

Pandu menghampiri anak istrinya yang sedang duduk berdua. Pria itu duduk di depan mereka namun masih diabaikan seperti sebelum sebelumnya. Hubungan saat ini masih belum membaik. Mereka sedang perang dingin tak bertegur sapa karena satu hal yang sama.


"Ma. Papa mau ajak Bella tinggal bersama kita." Ucapnya sukses membuat dua wanita itu akhirnya menoleh. Keduanya tak habis pikir dengan apa yang di ucapkan sang kepala keluarga barusan. Hati masih sakit kenapa ada lagi yang di perbuat untuk memperparah keadaan.


"Apa kamu sudah gila?" Tanya Ayu pada suaminya.


"Dia anakku. Dia harus mendapat perlakuan yang sama."


"Lalu bagaimana dengan Jordan? Dia keluar dari rumah ini dan tinggal sendiri. Aku tidak mau serumah dengan anak harammu itu."


"Jangan sebut Bella begitu."


"Memang kenyataannya begitu. Jika kamu masih bersikeras. Lebih baik ceraikan aku."


"Ma. Mama bicara apa?" Pandu terkejut dengan apa yang diucapkan istrinya.


"Ya. Aku serius. Kamu tinggal memilih antara aku atau anak itu. Beres." Jawabnya bergegas pergi.


"Sudah aku bilang kami tidak akan menerimanya Pa." Jenni menyusul Mamanya membuat Pandu menghela napas. Posisinya sulit dan Ia juga orang yang bersalah hanya bisa menuruti sang istri. Bagaimanapun wanita itu adalah korban atas kesalahannya.


"Subhanallah." Ucap Karin terkejut saat membalikkan badan ternyata ada Jordan tepat di depannya.


"Maaf bikin kamu kaget. Kak Ansel ada?" Tanyanya sambil tersenyum.


"Ada Om. Sebentar aku panggilkan." Jawab Karin bergegas pergi.


Ansel menutup berkasnya saat melihat sang istri datang. Pria itu tersenyum memeluk tubuh ramping Karin yang kini sudah berdiri di dekatnya.


"Daddy di tunggu Om Jordan di bawah."


"Aku tidak mau menemuinya. Suruh saja dia pulang."


"Daddy jangan begitu. Sampai kapan akan terus menghindar. Ayo bicara. Diselesaikan baik baik. Lagipula Om Jordan juga tidak terlibat." Jawab Karin


"Dia jelas terlibat. Dia ikut menyembunyikan semuanya. Apa maksudnya semua itu?"


"Pergilah temui sebentar. Daddy ingin tau alasannya kan. Jadi bicarakan saja."

__ADS_1


"Baiklah istriku. Aku temui Jordan dulu." Ansel kembali tersenyum lalu mencium bibir istrinya dengan lembut.


Jordan belum berbicara sama sekali padahal Ansel sudah duduk di depannya sekitar dua menit yang lalu.


"Aku minta maaf." Kata itu pada akhirnya keluar dari mulut Jordan.


"Untuk?"


"Karena menyembunyikan semua. Aku tidak bermaksud. Aku hanya mencari waktu yang tepat untuk menyampaikannya padamu. Aku sebenarnya sudah menyuruh Papa untuk mengaku. Namun dia tak juga menjelaskan padamu."


"Hm. Sudah aku maklumi." Jawab Ansel kemudian menyesap teh yang dibuatkan istrinya.


"Jadi?"


"Jadi apalagi?" Tanya Ansel memicingkan mata menanggapi pertanyaan tidak jelas dari sepupunya.


"Kau memaafkan Aku kan?"


"Cih... Kenapa kau jadi begini?"


"Hm... Aku denganmu juga tidak sedekat itu. Jadi hubungan kita sekarang Aku akui tidaklah buruk. Kau ingin bertemu adikmu?"


"Tidak dulu." Jordan memalingkan wajahnya.


Karin sedang duduk bersama Bella di taman belakang sembari menjaga anak anak yang sedang bermain. Wanita itu baru saja berbicara pada putri tertuanya yang katanya akan pindah ikut sang Papa karena Pandu sudah bilang akan memperbaiki semuanya. Ansel maupun Karin tak memaksa Bella untuk keluar dari rumah ini. Meraka tak keberatan jika Bella tetap tinggal meskipun statusnya tak sama dengan yang dulu. Namun gadis itu sudah pada pilihannya sendiri jadi Karin maupun Ansel tak bisa memaksa.


"Aku tak percaya jika harus memanggil Daddy dengan sebutan Kakak. Keluarga Papa juga tak menerimaku. Sungguh tragis hidupku ini. Orang yang melahirkanku benar benar luar biasa dalam membuat masalah." Ucap Bella tertawa sumbang.


"Semuanya terjadi begitu saja Bell. Ini adalah bagian dari takdir. Sekarang hanya tinggal di jalani saja. Allah tidak pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia. Jadi kamu bisa melewati semua ini. Jangan benci Mama atau Papamu. Bagaimanapun juga mereka orang tuamu." Karin memberikan pelukan untuk menenangkan.


"Terimakasih untuk semua yang telah Mommy lakukan. Aku sangat bersyukur bisa hidup bersama orang baik seperti Mom."


"Sama sama. Hubungan kita tak akan pernah berubah. Akan seperti ini sampai nanti. Hiduplah dengan baik dan bahagia."


Karin sedang memijit punggung suaminya karena Ansel mengeluh pegal. "Daddy." Pekik wanita itu saat sang suami tiba tiba membalikkan badan menjadi terlentang kemudian menariknya hingga terjatuh di atas tubuh dan dipeluk erat hingga tak bisa bergerak.


"Sangat nyaman." Ucap Ansel.

__ADS_1


"Dad..." Keluh Karin tak nyaman dengan posisi seperti ini.


"Kenapa hm?"


"Tidak nyaman."


"Apa yang membuat Mom tidak nyaman?"


"Pelukannya terlalu erat. Sesak."


"Oh." Ansel melonggarkan lengannya.


"Begini nyaman?" Tanyanya.


"Ya." Jawab Karin memejamkan mata.


"Dad gimana kalau kita tambah anak satu lagi." Lanjutnya membuat Ansel menghela napas. Cukup dua itu saja membuatnya pusing dan Karin ingin tambah lagi. Ini benar benar tidak bisa dibiarkan.


"Cukup dua saja satu pasang sudah cukup Mom. Tidak ada anak lagi."


"Hm... Bagaimana dengan Bella." Karin menatap sang suami meminta pendapat.


"Dia sudah dewasa. Sudah mengambil keputusan dan itu menurutku juga yang terbaik."


"Sebenarnya hukum anak di luar nikah itu bagaimana Mom?"


"Ada banyak pendapat. Tapi yang paling dominan jika anak hasil berzina itu hanya di nasabkan kepada ibunya atau keluarga Ibunya. Ayahnya tidak berhak menjadi wali.


Ibnu Umar Radhiyallahu anhu pernah menuturkan:


Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam mengadakan mulâ’anah antara seorang lelaki dengan istrinya. Lalu lelaki itu mengingkari anaknya tersebut dan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam memisahkan keduanya dan menasabkan anak tersebut kepada ibunya." Jawab Karin menjelaskan.


"Untung yang kita lakukan dulu tidak jadi." Ucap Ansel.


"Itu kamu yang memaksa bukan aku yang mau. Astagfirullah berdosa sekali. Mengingat itu membuat aku merasa kotor."


"Maaf tentang yang dulu." Ansel merasa bersalah menyeret istrinya ke dalam dosa besar yaitu berzina.

__ADS_1


__ADS_2