Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Bahagia Memilikimu


__ADS_3

Bella sudah tidak tinggal di rumah lagi. Gadis itu sekarang tinggal di apartemen pemberian Papanya karena Pandu tak bisa membawa Bella untuk tinggal satu rumah dengannya dan sang Istri. Hubungan memang belum membaik. Begitu juga dengan Ansel dan Omnya masih tetap perang dingin semenjak kebenaran terungkap.


"Mom pakaikan dasiku." Ucap Ansel menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan sarapan. Karin mengangguk segera meletakkan piring yang dibawanya kemudian bergegas menghadap sang suami untuk mengikatkan dasi.


"Daddy mau kerja?" Tanya Safa.


"Ya. Daddy mau kerja. Kamu mau ikut?" Tanya Ansel dengan nada bercanda.


"Tidak." Jawab gadis kecil itu dengan cepat.


"Mom. Isam ada futsal sore nanti. Mom bisa nonton?"


"Jam berapa sayang?" Karin bergegas mengambilkan makan setelah tugas untuk mengurusi suaminya usai.


"Jam 4. Bisa kan Mom?"


"Hey Boy. Kau ini bertanya atau memaksa." Sahut Ansel duduk setelah mengecup kening istrinya. Pria itu tak habis pikir dengan putranya menekankan kata kata seolah memberi perintah.


"Insyaallah Mom datang." Karin tersenyum meletakkan piring berisi nasi goreng untuk suami dan anaknya.


"Okey Mom. Isam senang Mom bisa datang. Terimakasih."


"Sama sama. Ayo segera di makan." Ajak Karin kemudian duduk menyuapi putrinya.


Sarapan telah usai. Karin mengantar suami dan anaknya ke depan untuk berangkat.


"Isam pamit Mom. Assalamualaikum." Ia mengecup pipi Ibu dan adiknya bergantian kemudian masuk ke mobil.


"Waalaikumsalam. Iya Sayang." Jawab Karin.


Sekaran giliran Ansel yang berpamitan. Pria itu memeluk dan mencium istrinya kemudian beralih ke Safa yang berdiri di dekat sang Ibu.

__ADS_1


"Daddy berangkat dulu. Jangan kemana mana ya." Ucap Ansel memberi pesan pada sang istri.


"Mau ke rumah Abi Dad. Boleh ya." Jawab Karin meminta izin.


"Ya boleh. Hati hati. Nanti kabari ketika akan berangkat dan sudah sampai. Assalamualaikum sayang. Aku mencintaimu."


"Waalaikumsalam. Hati hati." Jawab Karin mencium tangan suaminya.


Umi tersenyum bahagia menyambut kedatangan putri dan cucu perempuannya. Ia memeluk keduanya menyampaikan rasa rindu karena beberapa hari tidak bertemu.


"Mbak kesini nggak bilang bilang." Ucapnya sembari menggandeng tangan Karin untuk diajak duduk bersama.


"Lupa Mi. Tadi Karin langsung kesini aja nggak kepikiran buat kasih kabar. Lagian nanti kalau Karin kasih Kabar Umi malah sibuk masak macam macam." Jawab Karin tak ingin merepotkan Ibunya.


Kafil tiduran manja menjadikan paha Kakaknya sebagai bantal kepala. Hari ini dia libur tidak bekerja untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


"Om pegi. Jangan sama Mommy Safa." Gadis kecil itu melayangkan protes tidak terima miliknya di kuasai orang lain.


"Om pinjam Mommy. Setiap hari Safa kan sama Mommy. Kalau Om kan tidak." Jawab pemuda itu dengan tampang memelas.


"Ngalah sama keponakannya dong." Tegur Kakek.


"Bentar Kek. Nyaman. Lagian nggak tiap hari begini." Jawabnya enggan untuk beranjak.


"Kamu itu ada ada aja." Umi menggelengkan kepala karena tingkah manja putranya.


Sore hari Karin, suami dan juga anak perempuannya sudah duduk di bangku penonton untuk melihat pertandingan futsal Isam. Bocah tampan itu memeluk Ibunya lama kemudian mengecup pipi Karin sebelum bergabung bersama teman temannya yang lain.


"I Love You Mom." Teriak Isam membuat Ibunya tersenyum.


"Bocah itu benar benar bermulut manis kalau sama Mommy." Ucap Ansel melihat tingkah putranya.

__ADS_1


"Menurun dari siapa?" Tanya Karin sekaligus menyindir karena suaminya juga demikian.


"Ya Daddynya. Masa orang lain." Ansel memeluk istrinya tanpa malu dengan semua orang.


"Nah kebiasaan. Jangan peluk. Malu di lihat orang." Tegur Karin tak membuat pria itu sadar. Ansel malah melayangkan ciuman sengaja untuk memberitahukan pada orang orang yang sedang memperhatikan sang istri jika Karina adalah miliknya seorang.


Senyum bahagia tak luntur dari bibir Isam. Bocah itu sedaritadi menatap piala yang telah terpajang di lemari kaca dengan perasaan yang luar biasa.


"Mas Isam senang?" Tanya Karin duduk di sofa setelah meletakkan cemilan di atas meja.


"Alhamdulillah senang Mom." Jawabnya ikut duduk bergabung bersama Ibu, Ayah dan juga adiknya.


"Selamat atas kemenangannya Sayang. Mommy dan Daddy ikut senang." Karin memeluk putranya diikuti Ansel juga.


Anak anak telah tertidur pulas di kamar masing masing. Ansel memeluk istrinya. Mereka masih sama sama terjaga mengobrol santai membahas berbagai hal.


"Dad. Apa sebelumnya Om dengan Mama Bella sudah saling kenal?" Tanya Karin.


"Sepertinya begitu. Mamanya Bella kan mantan pacar Jordan."


"Oh. Baru tau."


"Dia itu teman sekelas Jordan. Mereka dulu pacaran lama dan nggak disangka aku malah di jodohkan dengan wanita itu. Hubungan aku dengan Jordan memburuk setelahnya. Kami tidak saling berkomunikasi terlebih saat dulu Mama Bella hamil dikira anakku ternyata anak Papanya sendiri. Om, Jordan maupun Mama Bella sering ke club dan kejadian itu pun aku tak tau." Ansel menjelaskan.


"Daddy dulu juga suka pergi ke tempat begitu?"


"Tidak. Aku memang minum tapi di rumah. Hanya kadang jika ada sesuatu yang perlu di bicarakan dengan Damian kita pergi kesana. Ruangan juga VIP jadi tidak ada wanita penggoda. Mom tenang saja. Percaya atau tidak. Tangan ini tidak pernah menyentuh orang lain selain Mom."


"Mama Bella?"


"Itu kecelakaan. Aku tidak pernah menyentuhnya. Kami tidur di kamar terpisah."

__ADS_1


"Daddy dosa lo begitu. Menikah itu suatu hal yang tidak main main. Baik Daddy atau istri Daddy harus menjalankan kewajiban sebagai suami istri."


"Sudah terlewat. Yang namanya tidak cinta di paksa bagaimanapun juga akan sia sia. Sekarang sudah punya kehidupan baru dan Daddy bahagia memilikimu." Jawab Ansel tersenyum.


__ADS_2