Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Aku Pikir Dia Menerimaku


__ADS_3

Sudah genap lima hari Bella hidup tanpa Karina. Semuanya menjadi berantakan semenjak wanita itu pergi. Ia telat sekolah karena mencari harus mencari barang barang yang biasanya dengan mudah di temukan oleh sang Ibu. Nilainya juga merosot lagi setelah akhir akhir mendapat nilai yang bagus. Ia sudah mencoba menghubungi Karin dan mengirim pesan berisi permintaan maaf namun wanita itu sama sekali tidak merespon. Bella juga berpikir dua kali jika ingin menemui Karin karena takut akan dimarahi oleh keluarga besar sang Ibu.


Ansel duduk menyantap sarapannya dengan tenang tak melirik atau bahkan menyapa anak gadisnya yang baru datang. "Pagi Dad." Sapa Bella sembari duduk di kursi yang biasa Ia duduki. "Hm." Jawab Ansel singkat. Pria itu meraih ponselnya lalu menghubungi Karin untuk menanyakan kabar sang istri.


"Assalamualaikum sayang." Ucap Ansel saat panggilan video telah terhubung. "Waalaikumsalam." Jawab karin dari sebrang sana. "Lagi ngapain?" Tanya Pria itu. "Lagi duduk aja sama Isam." Karin mengarahkan ponselnya agar Ansel bisa melihat bayi tampan itu. "Wah anak Daddy sudah mandi belum? Sudah minum ASI ya anteng banget." Ia begitu rindu ingin sekali berjumpa dengan istri dan putranya. "Sudah tadi. Bella sudah bangun? Pastikan bangun pagi dan sarapan supaya tidak telat." Ansel hanya mengangguk sementara Bella diam tak mengucapkan apapun mendengar perhatian dari Ibunya. "Iya. Kamu tidak usah memikirkannya. Dia bisa hidup sendiri." Jawab Ansel membuat hati putrinya tercubit.

__ADS_1


Umi menghampiri putrinya yang sedang duduk sembari menimang nimang Isam. "Bangun ya." Ucap wanita itu tersenyum melihat cucunya yang begitu tampan. "Iya Mi. Baru bangun. Tapi nggak nangis." Jawab Karin. "Mbak. Umi mau ke Mall. Mbak mau dibelikan apa?" Karin tampak berpikir sebentar. "Bawain minuman dingin apa aja Mi. Karin lagi kepengen." Umi mengangguk kemudian segera pergi setelah berpamitan.


Di sisi lain Ansel baru saja duduk di ruangannya. Pria itu langsung mengerjakan berkas berkas yang sudah bertumpuk di meja agar cepat selesai dan Ia cepat pulang untuk bertemu istrinya. "Daddy merindukan kalian." Ucapnya tersenyum melihat foto keluarga yang dijadikan wallpaper ponsel.


Semua keluarga berkumpul setelah makan siang bersama. "Assalamualaikum." Suara salam terdengar dari pintu ruangan. "Waalaikumsalam." Jawab mereka bersamaan. "Mau apa kamu?" Kakek bersedekap dada saat Ansel berjalan menuju ke arah Karina. "Mau peluk Kek." Jawabnya jujur. "Mandi dulu sana. Kamu kotor dari luar. Bau matahari dan banyak kuman." Tak protes Ansel langsung mengangguk lalu bergegas melakukan apa yang diperintahkan pria paruh baya itu. "Ayah terlalu." Ucap Abi. "Ini demi kebaikan cucu dan cicitku. Memangnya kamu kurang tegas." Balasnya sambil kembali duduk.

__ADS_1


"Kakak." Kafil menghampiri Karina dan Ansel di ruang makan. "Ya dek. Ada apa?" Tanya wanita itu. "Kakak bilang dong sama Abi kalo Kafil nggak mau mondok. Kafil nggak betah di pesantren." Ucapnya berkeluh kesah. "Nggak betahnya kenapa? Kamar disana bagus. Fasilitasnya lengkap. Tiap sabtu minggu kan Adek pulang." Jawab Karin. "Ih... Pokoknya Kafil nggak betah Kak. Nggak enak. Kafil maunya sekolah biasa aja, Kakak bantu ngomong sama Abi dong." Rengeknya. "Iya nanti Kakak bicara. Tapi kamu ngajinya juga jangan malas." Remaja itu mengangguk kemudian mengecup pipi Karin sebelum pergi.


Sesuai dengan keinginan Adiknya kini Karin sudah menghadap Abi untuk bicara. "Abi. Kafil katanya nggak betah di pesantren Bi." Ucapnya membuat pria itu tersenyum. "Mengadu ke Mbak biar minta Abi nggak pondokin ya? Anak itu." Abi menggelengkan kepala dengan tingkah putranya. "Bi. Kalau nggak nyaman jangan di paksa Bi. Nanti nggak dapat ilmu malah yang ada Kafil tertekan." Karin mulai memberi saran dan masukan.


"Sudah selesai bicara sama Abi?" Tanya Ansel melihat istrinya datang. "Sudah." Jawab Karin sembari berjalan menuju ke balkon kamar. "Jangan di luar. Ayo istirahat saja." Ansel menuntun istrinya mengajak wanita itu untuk berbaring di ranjang.

__ADS_1


"Bella apa kabar?" Tanya Karin nyaman dalam pelukan suaminya. "Baik mungkin." Jawab Ansel membuat wanita cantik itu mendongak untuk meminta penjelasan. "Aku malas bicara dengannya. Anak yang sulit diatur sama seperti orang yang melahirkan dia." Ucap Ansel. "Aku pikir dia menerimaku." Lirih Karin meneteskan air mata mengingat kata kata yang keluar dari mulut bela waktu itu. "Air mata ini sangat berharga. Jangan sampai menetes kecuali untuk kebahagiaan. Sudah jangan di pikirkan. Biarkan dia hidup semaunya." Ansel menenangkan istrinya.


__ADS_2