Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Untuk Istri


__ADS_3

Karin sedang mengajari kedua putrinya mengaji. "Daddy cari apa?" Tanya wanita itu melihat suaminya sedaritadi mondar mandir. "Ponselku mana ya Yang?" Jawabnya sambil mengobrak abrik bantal sofa. "Yang taro di dekat TV itu siapa?" Karin mengingatkan. "Ah iya." Ansel buru buru mendekati meja di bawah TV besarnya lalu mengambil benda pipih itu. "Makasih Mom. Daddy mau keluar sama Jordan. Mom mau dibawakan apa?" Tanyanya sambil mengecup pipi menggemaskan Karina. "Burger sama Pizza Dad." Bella yang menjawab. "Katanya mau diet." Tegur Karin. "Em... Lupa." Gadis itu terkekeh. "Lagi nggak pengen apa apa. Tapi anak anak kemarin minta es. Bawain kelapa muda deh. Nanti bikin di rumah." Ansel mengangguk. "Aku berangkat dulu. Assalamualaikum." Ucap Pria itu yang kini sudah terbiasa menggunakan salam. "Waalaikumsalam." Jawab ketiganya kompak.


"Lama banget." Kesal Jordan saat Ansel baru masuk dalam mobil. "Bawel. Ayo jalan." Perintah pria itu menyuruh Jordan untuk segera melajukan mobilnya.


Tiga puluh menit perjalanan keduanya telah sampai di tanah lapang yang luas. "Ini tempatnya?" Tanya Ansel yang sudah turun duluan. "Iya. Ini tanah yang kita bicarakan kemarin." Jawab Jordan berjalan menghampiri sepupunya. "Kamu yakin mau bikin perkebunan?" Ansel mengangguk menanggapi pria di sebelahnya. "Istriku sangat suka berkebun. Pasti dia senang." Ucap Ansel tersenyum. Jordan menoleh ke samping mengamati wajah saudaranya yang tampak sumringah. Ia paham betul jika cinta Ansel pada Karina tidak main main. Buktinya pria itu akan melakukan segala cara untuk membuat istrinya bahagia.

__ADS_1


Ansel dan Jordan mampir di penjual kelapa saat dalam perjalanan pulang. "Mau yang mana pak?" Tanya si penjual. "Kita nggak tau. Yang bagus yang mana?" Tanya Jordan karena tau sepupunya malas bicara. Jika di bandingkan Ansel tentu saja Ia lebih sopan dan ramah pada orang. "Kalau yang paling bagus untuk obat kelapa hijau. Kalau untuk minuman ya kelapa muda biasa." Jelas bapak itu sembari menunjukkan kelapa beda jenis itu. "Mau yang mana?" Tanya Jordan meminta pendapat. "Dua dunya saja. Beli yang banyak." Jawab Ansel.


Karin membulatkan mata melihat sembilan butir buah kelapa di depannya. "Kenapa banyak sekali?" Tanyanya. "Katanya bagus buat ibu hamil." Jawab Ansel sembari mengusap perut istrinya. "Itu kelapanya beda jenis loh. Yang lima itu kelapa muda biasa dan yang empat kelapa hijau." Jordan menjelaskan seperti yang dikatakan penjual tadi. "Kebanyakan. Cuman butuh dua buah aja buat bikin es." Karin menggelengkan kepala melihat suaminya dan Jordan yang kelakuan mereka ternyata sama saja berlebihan.


Bella dan Shiena membantu Karin yang sedang membuat lumpia untuk buka puasa. "Ini gimana Mom?" Tanya gadis itu kebingungan. "Ini kulitnya di bentangkan dulu. Terus dikasih isian. Dilipat seperti ini terus digulung." Ucap Karin pelan sambil memberi contoh. "Yey bisa." Shie tampak girang. "Susah ah." Keluh Bella yang gagal. "Sini ulangi lagi." Karin membenarkan milik putrinya sambil menjelaskan kembali. "Mudah Bell. Ayo coba lagi."

__ADS_1


Selepas sholat tarawih Karin langsung menghampiri Bella dikamar. Gadis itu sedang mengalami nyeri datang bulan setelah berbuka tadi. "Minum dulu biar enakan." Ucapnya sembari membantu Bella duduk. "Makasih Mom." Ucap Bella kembali berbaring dengan perlahan setelah meminum minuman herbal untuk meredakan nyeri perutnya. "Sama sama. Sekarang dipake tiduran aja." Karin mengecup kening putrinya lembut. "Bella nggak boleh puasa dong." Keluhnya. "Iya, sholat juga tidak boleh. Kalau sudah selesai haid dan mandi wajib baru boleh." Jelas Karin.


Karin menghampiri Shiena yang sedang duduk bersama Papa dan Pamannya. "Sudah baikan?" Tanya Ansel menanyakan keadaan Bella. "Sudah. Sudah tidur juga." Jawabnya sambil ikut duduk. "Ma mau eskrim." Rengek Shie manja. "Malam Shie. Sudah minum es masa eskrim juga." Tegur Jordan. "Ayo makan. Setelah itu gosok gigi." Shie mengangguk semangat. "Jangan banyak banyak. Tunggu sini Papa ambilkan." Jordan cukup tau diri sudah membuat Karin kerepotan tak ingin menambahnya lagi.


Beberapa saat pergi Jordan telah kembali. Ansel langsung mengambil eskrim dari sepupunya lalu memberikan pada sang istri. Ia tak mau Karin berkontak langsung dengan Jordan. "Posesif parah." Gerutu Jordan kembali duduk di singgle sofa yang sempat Ia tinggalkan. "Kakek kapan datang Yang?" Tanya Ansel. "Nggak tau. Memang kenapa?" Karina bertanya balik sembari menyuapi Shiena. "Suami kamu kan...." Ansel membungkam mulut lemes Jordan. Pria itu pasti akan mengatakan bahwa Ansel takut bertemu dan tidak suka Kakek. "Kenapa?" Karin menatap dua pria di depannya heran. "Nggak papa Sayang. Jangan dengarkan Jordan." Jawab Ansel tertawa hambar. Ia benar benar tak siap bertemu Kakek istrinya. Berbagai cara telah dilakukan untuk mengambil hati pria paruh baya itu namun tidak ada hasil. Kakek Karin sepertinya sudah membenci Ansel sampai ubun ubun makannya semua usahanya sia sia.

__ADS_1


__ADS_2