
Ansel menemani istrinya ke rumah mertua karena Kakek ingin bertemu. "Assalamualaikum." Ucap Karin memasuki rumah. "Waalaikumsalam. Kakek kan sudah bilang biar supir jemput." Ucap Pria paruh baya itu tak ingin bertemu suami cucunya. "Ayo duduk." Ia menggandeng tangan Karin mengabaikan Ansel seperti biasa.
"Kalian sudah lama?" Tanya Abi yang baru datang lalu duduk bersama menantunya. "Belum lama Bi. Baru beberapa menit lalu." Jawab Ansel sembari tersenyum. "Sayang. Kamu temani adek kamu ke belakang dulu ya." Ucap Kakek sembari mengusap lembut kepala cucunya. "Iya." Jawab Karina bergegas pergi karna berpikir mungkin ada hal penting yang perlu di bicarakan tanpanya.
__ADS_1
Abi sudah ketar ketir jika pria paruh baya di depannya itu benar benar menyampaikan apa yang mereka bicarakan semalam. "Ansel." Panggilnya tegas. "Ya Kek." Jawab Pria itu sembari mengangkat pandangan. "Setelah Karin lahiran ceraikan dia." Ucapnya dalam satu tarikan napas membuat semua yang ada disana membeku. "Ayah." Umi menegur mertuanya dengan sopan. "Ayah jangan seperti ini." Lanjutnya. Bagaimanapun juga awalnya memang berat. Namun di saat kini sudah mulai baik baik saja sang mertua malah meminta anaknya untuk berpisah. "Kakek. Ansel mencintai Karin kek." Ungkap pria itu memberanikan diri menatap lawan bicaranya sembari menegapkan duduk. "Aku tidak peduli. Kau tidak pantas untuk cucuku." Jawab Kakek membuat Abi bereaksi. "Ayah jangan keterlaluan. Jangan mencampuri rumah tangga mereka. Biarkan mereka menjalaninya sendiri." Yardan menatap tajam putranya. Ia tak terima di tentang lebih lebih untuk membela pria yang telah menghancurkan cucu kesayangannya. "Ansel memang tidak pantas Kek. Tapi Ansel sedang berusaha untuk memantaskan diri." Kakek berdecak mendengar pernyataan itu. "Entah sampai kapan itu. Jika dari awal kau merasa tidak pantas panti tidak akan memaksakan. Kau menuruti ego, napsu dan ambisimu tanpa memikirkan cucuku. Kau dan keluargamu sama. Sama sama suka membuat orang menderita." Tegas Kakek lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Kenapa Dad?" Tanya Karin menyadari perubahan suaminya. Pria itu tampak diam sejak pulang dari rumah Abi. "Nggak papa?" Jawab Ansel memaksakan senyum menyembunyikan hatinya yang begitu kalut. "Beneran? Tapi kenapa murung begitu? Kakek bicara apa tadi?" Ia bertanya beruntun tanpa henti membuat Ansel gemas sekaligus senang karena sang istri memperhatikannya. "Tidak apa apa sayang. Ayo masuk. Diluar panas." Ajaknya sembari menggandeng tangan wanita hamil itu.
__ADS_1
Shiena yang baru bangun ikut duduk bergabung. "Haish kamu ini." Gerutu Ansel karena gadis itu duduk memisahkan Ia dan istrinya. "Baru bangun?" Tanya Karin mengusap lembut kepala Shiena. "Iya Mom." Jawabnya sambil menguap. "Kalau menguap tutup mulut." Tegur wanita hamil itu sembari menutup mulut Shie dengan telapak tangan. "Hehe lupa.." Shie tertawa kecil sembari memeluk Ibunya.
Ansel sedang duduk di balkon kamar mengamati hujan yang sedang turun tidak begitu deras. Saat terbangun Ia selalu teringat bayang bayang akan terpisah dengan sang istri. Ketakutan itu selalu menghantuinya hingga tak jarang juga hingga terbawa sampai ke alam mimpi.
__ADS_1
"Dad. Are you Ok?" Tanya Karin menghampiri suaminya. Ansel tersenyum menatap wajah cantik sang istri. "Im Ok." Jawabnya sembari memeluk pinggang wanita itu. "Dia bergerak aktif." Ansel menempelkan tangan dan kepalanya di perut Karina. "Hy anak Daddy. Jangan rewel ya. Jangan buat Mom kesulitan. Jadilah anak baik sebaik Mommy mu. Sebentar lagi kamu akan hadir. Daddy tidak sabar ingin segera berjumpa. Daddy akan meng adzani kamu nanti. Daddy sudah bisa. Mommy yang mengajari setiap hari setelah selesai mengaji." Karin tersenyum mendengar suaminya. Hatinya menghangat karena Ansel telah berubah banyak.