Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Ini Kan Yang Kamu Mau


__ADS_3

Ansel sudah sampai di rumah mertuanya. "Mom." Ucap Pria itu memeluk Karin yang sedang duduk bersama keluarga yang lain. "Jangan dengarkan Bella." Ia mengusap punggung istrinya dengan lembut untuk menenangkan. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Kakek karena cucunya sedaritadi tak mau cerita. Ansel menanggapi. Ia menceritakan semuanya secara detail tampa terlewat sedikitpun.


"Benar sayang. Pergi dari rumah suamimu jangan kesana lagi. Untuk apa semua yang kamu lakukan selama ini tidak dihargai." Ucap Kakek setelah Ansel selesai bercerita. "Ansel. Sebaiknya kamu pulang saja. Urus anakmu itu. Cucuku akan disini." Lanjutnya. "Ansel akan disini sama istri Kek." Jawabnya. "Biarkan dia disini Yah. Ini sudah malam sebaiknya istirahat. Jangan sampai Isam terbangun." Tutur Abi.


Karin sudah menyusui dan memastikan anaknya tidur. Wanita itu kemudian naik ke atas ranjang untuk segera istirahat karena begitu lelah. Ansel yang baru keluar dari kamar mandi ikut bergabung bersama istrinya sambil memeluk wanita itu dengan hangat. "Maaf." Ucapnya merasa sangat bersalah. "Jangan dibahas lagi." Balas Karin sembari memejamkan mata.

__ADS_1


Pagi hari suasana rumah tampak sepi. Bella bangun kesiangan karena tak ada Karin yang membangunkan seperti biasa. Gadis itu duduk sendiri di ruang makan. Suasana pagi hari yang biasanya hangat dengan orang orang saling bertukar cerita kini terasa sunyi. Shie dan Om nya pasti sudah berangkat duluan sementara Daddy nya Ia juga belum bertemu sejak semalam.


"Daddy mau ke kantor?" Tanya Bella saat berpapasan dengan Ansel di pintu utama. Tak menjawab pria itu melenggang pergi masuk ke dalam rumah mengabaikan putrinya yang masih berdiri di ambang pintu menunggu jawaban. Bella menatap punggung Ayahnya. Ia lalu melangkahkan Kaki menuju mobil yang sudah menunggunya untuk mengantarkan ke sekolah.


Bella melamun di sepanjang perjalanan. Jujur Ia nyaman dengan adanya Karina dan Ia bahagia merasakan kasih sayang seorang Ibu yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya. Namun semua gunjingan orang membuatnya tak tahan. Bella awalnya cuek saja. Namun lama kelamaan mendengar apa yang dikatakan orang orang sekitar membuatnya sepemikiran dengan mereka. Semua harta Daddy nya sudah diatas namakan Karin sebagai pemilik. Bella tak berpikir macam macam. Namun sekarang karena lagi lagi mendengarkan mulut beracun orang Ia malah terhasut dan menganggap Karin sebagai wanita matre yang menginginkan harta. Semua tuduhan itu lenyap mendengar apa yang dijelaskan Ansel semalam. Namun nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah terlanjur membuat karin terluka dengan kata katanya yang menusuk hati. "Mom." Lirih Bella meneteskan air mata menyesali semua.

__ADS_1


"Ansel nanti malam tidur di sini?" Tanya Kakek ikut duduk bergabung. "Aku suruh tidur di rumah aja Kek. Aku khawatir nanti Bella keluar malam lagi kaya kemarin." Jawab Karina membuat pria paruh baya itu menghela napas. Sebegitu perhatiannya Karin bahkan dengan orang yang telah melukai hati dan harga dirinya. "Benar. Dia sudah ikut ikutan pergaulan bebas sekarang." Ucap pria paruh baya itu sambil mengangguk. "Karin sudah berusaha memahami dan melakukan apapun dengan baik. Tapi jika tanggapan dia begitu ya apa boleh buat." Umi mengusap punggung putrinya untuk memberi support.


Tengah hari Ansel pulang ke rumah mertuanya. Pria itu langsung menuju ke ruang makan karena istrinya ada disana. "Yang lain kemana?" Tanyanya sembari mencium kening Karin. "Umi ke butik kalo Abi, Kakek sama Kafil sudah ke pesantren." Jawabnya. "Ayo makan dulu." Ucap Karin membantu suaminya melepaskan jas dan dasi kemudian menggulung lengan kemeja pria itu agar tidak menganggu ketika makan.


Ansel masih enggan beranjak. Pria itu sedang mengamati putranya yang tertidur pulas padahal istrinya sudah sedaritadi menyuruh Ia untuk pulang. "Mom kenapa ngusir aku sih?" Tanya Pria itu. "Nggak ngusir. Bella di rumah sendiri. Ayo pulang temani dia." Jawab Karin membuat Ansel akhirnya duduk dengan malas. Ia memeluk pinggang ramping wanita itu begitu enggan untuk berpisah.

__ADS_1


Bella sudah berada di ruang makan. Gadis itu tampak duduk sendiri karena Omnya dan Shie pulang ke rumah mereka semenjak tadi pagi. "Ya aku sudah sampai rumah." Ucap Ansel tengah bertelponan dengan seseorang sambil masuk ke ruang makan. "Dia baik. Sedang makan sekarang. Bagaimana Isam? Apa masih rewel? Panasnya sudah turun?" Tanya Ansel bertubi tubi. "Baiklah kalau begitu. Kamu juga istirahat. Pasti lelah menjaganya. Love you." Ansel meletakkan ponselnya di atas meja. Tanpa menyapa Bella pria itu mulai makan makanan tadi di bawa dari rumah mertua.


"Tuan." Seorang pelayan menghampiri Ansel yang sedang makan. "Tolong bereskan barang barang Isam ya. Nanti barang istri saya akan saya bereskan sendiri." Ucap Ansel membuat Bella dan Pelayan itu terkejut. Namun tak banyak bertanya Wanita itu hanya mengangguk patuh kemudian segera berpamitan. "Daddy. Apa maksud Daddy?" Tanya Bella. "Mulai sekarang istri dan anak laki laki Daddy tidak tinggal disini. Untuk waktu seminggu 4 hari Daddy akan menemani mereka dan tiga hari akan pulang kesini biar adil." Jawab Ansel. "Dad." Lirih Bella sambil meneteskan air mata. "Jangan menangis. Ini kan yang kamu mau." Ucap Ansel bergegas pergi meninggalkan putrinya.


__ADS_2