
Ansel semakin gencar berusaha untuk mendapatkan maaf dari sang istri. Pria itu setiap hari selalu mengunjungi dan membawakan macam macam buku ataupun makanan kesukaan Karin. Ia berdiri memeriksa penampilannya. Beberapa saat setelah puas menatap pantulannya di cermin Ansel menyambar paper bag yang berada di atas meja kemudian segera pergi.
Sebuah mobil mewah berhenti di parkiran toko cake yang cukup ramai. Sosok pria turun berjalan tegap dengan wajah tegasnya masuk ke dalam. Tak bertanya pada siapapun Ia menaiki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dua untuk bertemu pujaan hatinya.
"Sayang." Dengan wajah sumringah nya Ansel masuk ke dalam lalu duduk bergabung dengan istrinya. "Kamu sedang apa hm?" Tanya Pria itu sembari memberikan pelukan hangat. "Aku bawakan coklat kesukaan kamu." Lanjutnya. "Sudah makan?" Karina balik bertanya. "Belum." Jawab sang suami. "Makan dulu setelah itu kita bicara." Entah apa yang akan terjadi perasaan Ansel mulai tidak enak. "Aku ambilkan." Ucap Karin melepaskan pelukan suaminya perlahan kemudian melangkah pergi keluar ruangan. Ansel masih menatap pintu tempat istrinya menghilang. Pria itu merasakan sesak di dadanya namun berusaha tetap baik baik saja. Instingnya mengatakan jika akan ada sesuatu yang tidak baik terjadi.
__ADS_1
Karina kembali menghampiri suaminya sembari membawa nampan berisi makanan. Ansel tak tinggal diam. Pria itu bergegas berdiri untuk membantu sang istri. "Ayo makan dulu." Ucap Karin setelah duduk. "Suapi." Ansel berkata sambil menatap lekat wanita di depannya. Karin mengangguk. Ia segera mengambil sendok. "Bismillah." Wanita itu mengucap demikian lalu menyuapkan pada suaminya. "Bella sudah pulang?" Tanyanya. "Belum tau. Dari kantor tadi langsung kesini." Jawab Ansel sembari mengunyah. "Jangan sampai sakit. Haru makan dan istirahat dengan baik." Karin memberikan nasihat. "Bagaimana itu bisa terjadi saat orang yang paling aku cintai dan begitu berarti tidak ada di sampingku." Ungkap Ansel membuat istrinya termenung sesaat. Mendengar pria itu berkata demikian membuat hatinya berkecamuk hebat.
Karin telah selesai makan siang bersama suaminya. Wanita itu baru saja sholat menghampiri Ansel yang masih duduk menunggu di sofa yang sama. "Dad." Panggil Karin sembari menggenggam tangan sang suami. Wanita itu meraih map yang ada di meja kecil lalu memberikannya pada Ansel. "Tandatangani ini. Jangan buat kita sama sama sulit. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik." Ucap Karin mampu membuat napas suaminya tercekat. Inilah yang Ia takutkan. Sedaritadi perasaannya memang tidak enak. Dan nalurinya benar, istrinya meminta lagi untuk berpisah. Ansel tak menjawab. Pria itu berlutut di depan Karina. Ia menggenggam tangan lembut sang istri dengan erat. Sembari menundukkan kepala Ansel menangis pilu. Ia mengungkapkan semua yang dirasakan. "Jangan seperti ini aku mohon. Berikan kesempatan lagi. Aku akan berubah dan memperbaiki semua kesalahan yang aku lakukan. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Ungkapnya.
Masih dalam posisi yang sama Karin hanya mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut suaminya. Wanita itu entah kenapa tiba tiba merasakan pusing lagi setelah minum obat tadi pagi membuatnya lebih baik. Pandangan Karin mulai berkunang kunang. Tubuhnya tiba tiba terasa lemas dan seketika semua menjadi gelap. Ansel dengan sigap menahan tubuh istrinya yang hendak terjatuh ke samping. Pria itu dengan panik segera menggendong sang istri untuk di bawa ke rumah sakit.
__ADS_1
Karin sudah berada di rumah. Wanita itu tengah beristirahat karena kondisinya masih lemas. "Mau sesuatu?" Tanya Ansel yang sedang mengusap lengan istrinya. "Tidak." Jawab Karin. Abi dan Umi terenyuh melihat begitu perhatian memantuny. Mereka hanya bisa mendoakan terbaik tanpa terlalu mencampuri urusan rumah tangga putrinya.
Malam hari Bella berkunjung menjenguk Mommynya. Gadis itu begitu antusias mendengar kabar jika Ia akan memiliki seorang adik. "Mau buah Mom?" Tawarnya. "Boleh." Jawab Karin. "Biar Umi aja Bel. Kamu makan dulu gih. Sudah siapin di meja makan. Daddy kamu sama Opa sudah di sana." Bella mengangguk. "Kalo gitu Bella makan dulu." Pamitnya bergegas pergi karena perutnya memang benar benar lapar.
"Bagaimana selanjutnya Mbak?" Tanya Umi sembari mengupaskan jeruk untuk istrinya. "Apa keputusan Mbak sudah bulat?" Karin menggeleng pelan. Ada rasa ragu dihatinya. "Beri kesempatan tidak ada salahnya. Umi paham Ansel itu sangat mencintai Mbak sampai sampai menjadikan dia bersikap tidak semestinya. Namun kembali lagi, semua keputusan ada di tangan Mbak." Tutur wanita itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Ansel selesai makan malam langsung menuju kamar istrinya. Pria itu menghampiri Karin yang sedang duduk bersandar di headboar ranjang sembari membaca buku. "Masih pusing?" Tanya Pria itu. "Sudah tidak." Jawab Karin merubah posisinya menjadi berbaring setelah meletakkan buku di atas nakas. Ansel mengikuti istrinya. Pria itu mendekap tubuh ramping di sampingnya dengan hangat. "Sungguh nyaman." Gumamnya lalu memejamkan mata.